Sejarah Kelam Kehidupan Tionghoa di Indonesia

14:45:00


Di post kali ini gua mau nulis tentang sesuatu yg agak sensitif, jadi buat mereka2 yg kira2 kurang bisa open minded mengenai hal2 yg berbau SARA, disarankan untuk ga usah baca post gua yg satu ini. Continue at your own risk, you have been warned

---

Udah bukan rahasia lagi kalo di Indonesia ini terjadi diskriminasi terhadap orang Tionghoa (Chinese-Indonesian). Walaupun sejak era pemerintahan Gus Dur dan Megawati sudah banyak dilakukan perbaikan, tapi diskriminasi tersebut belum sepenuhnya hilang. Saat ini di Indonesia isu diskriminasi mengenai ras masih menempati posisi no 2 sebagai masalah sosial, di bawah agama yg menempati posisi no 1.

Sejak kapan, mengapa, dan bagaimana diskriminasi ini terjadi? Sebagai generasi muda penerus bangsa, ada baiknya kita memahami dengan baik mengenai masalah ini, tidak hanya ikut2an. Karena melalui pemahaman yg benar, kita bisa lebih bijaksana dalam menyikapi masalah tersebut. Melalui post kali ini, gua bukan mau menyalahkan pihak2 tertentu, tapi gua hanya memaparkan fakta yg ada dalam konteks sebagai informasi, bukan argumentasi. So, sebelumnya gua minta maaf kalo ada kata2 yg menyinggung. Artikel yg gua tulis ini berdasarkan berbagai sumber yg gua baca tentang sejarah Tionghoa di Indonesia, dan kutipan2nya gua ambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_Indonesian.

Selamat membaca!

---

Bangsa Cina mendarat di Indonesia pada abad ke 5, di pesisir pantai Jawa Timur. Mereka adalah pedagang yg berlayar untuk mencari rempah2, dan kemudian karena satu dan lain hal, mereka menetap di Indonesia dan berasimilasi dengan penduduk setempat. Para pedagang Cina ini juga diyakini sebagai yg membawa agama dan tradisi Islam masuk ke Indonesia, karena berkat Jalan Sutra, agama Islam yg berasal dari Arab, masuk ke Cina melalui India. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang dari Wali Songo adalah keturunan Cina seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Hal ini merupakan sesuatu yg ironis di masa pada jaman sekarang hanya sedikit orang Tionghoa yg memeluk agama Islam. Mengapa bisa demikian?

Ironically, though most of the present Chinese Indonesians are not Muslims, some of the earliest Islamic evangelists in Java (Wali Songo, or the Nine Ambassadors) were of Chinese ancestry. At least four of those nine were original Chinese or Chinese descendants: Sunan Ampel, Sunan Bonang (son of Ampel and a Chinese woman), Sunan Kalijaga, and Sunan Gunungjati
Pada jaman Kolonial Belanda, tahun 1680, para pedagang Tionghoa memegang peranan penting dalam perekonomian di Batavia. Bahkan usaha penjajah untuk memonopoli pun terhambat dan mereka terpaksa berbisnis dengan para pedagang Tionghoa tersebut. Akibatnya, penjajah merasa terancam karena keberadaan orang Tionghoa secara tidak langsung menyokong kehidupan pribumi di Indonesia, dan jika orang Tionghoa dan pribumi bersatu untuk melawan, para penjajah akan kewalahan. Karena itulah, para penjajah berusaha mengadu domba pribumi dan orang Tionghoa, dan mereka berhasil.

Pada tahun 1740, karena krisis ekonomi yg disebabkan oleh turunnya harga gula di pasar global, Belanda hendak mengikis upah gaji para pekerja dengan cara memindahkan para kuli, yg terdiri dari pribumi maupun Tionghoa, ke Afrika. Padahal maksud sebenarnya adalah mereka bermaksud membuang para kuli itu ke laut lepas diam2. Entah bagaimana caranya, isu tersebut tersebar dan para pedagang Tionghoa di Batavia, menggalang kekuatan untuk menyerbu kapal2 Belanda tersebut. Pertumpahan darah pun tidak dapat dielakkan.

Akibat perlawanan tersebut, Belanda mengeluarkan perintah untuk memeriksa dan melucuti para pedagang Tionghoa, namun yg terjadi sebenarnya adalah pembantaian besar2an di mana dalam 3 hari, 50.000-60.000 orang Tionghoa dibunuh. Belanda juga mengeluarkan fitnah bahwa orang Tionghoa lah yg berencana membunuh para kuli pribumi dan mereka seolah2 bertindak sebagai penyelamat bagi orang2 pribumi. Kemudian Belanda juga menjanjikan imbalan bagi setiap kepala orang Tionghoa yg berhasil dibunuh. Inilah awalnya perselisihan antara Tionghoa dan pribumi. Nama "Kali Angke" yg ada di daerah Jakarta Utara berasal dari kata "Sungai Merah" yg menggambarkan kejadian pembantaian saat itu di mana sungai2 menjadi warna merah oleh darah Tionghoa.
On October 9, 1740, the order was issued to search the houses of all the Chinese residents in Batavia. This soon degenerated into an all-out, three-day long massacre - with Chinese being massacred in their homes, and earlier captured Chinese being killed out of hand in prisons and hospitals.
A preacher fanned the flames from the pulpit, declaring that the killing of Chinese was "God's Will", and the colonial government itself reportedly posted a bounty for decapitated Chinese heads. The number of victims in these three days is variously estimated at between five thousand and ten thousand. The name Kali Angke (traditional Chinese: ; literally, "Red River") is said to date from that time, recalling the blood flowing into the river.
Pada jaman perang kemerdekaan, orang Tionghoa juga berperan penting dalam perjuangan melawan menjajah di mana dalam BPUPKI terdapat 6 orang Tionghoa yg berkontribusi dalam pembentukan UUD'45. Hanya sedikit orang Tionghoa yg terjun langsung pada konflik bersenjata karena pada saat itu jumlah mereka hanya sedikit. Pada jaman agresi militer, Belanda dan Jepang melakukan blokade terhadap impor barang2 kebutuhan seperti sabun dan peralatan memasak. Orang Tionghoa memegang peranan besar dalam menyelundupkan barang2 itu masuk ke dalam negeri. Namun karena situasi negara saat itu sedang kacau, tidak ada catatan jelas mengenai hal itu sehingga peranan Tionghoa dalam perjuangan meraih kemerdekaan menjadi blur.
During the Indonesian National Revolution following World War II, many Chinese Indonesians supported the Independence movement. BPUPKI's (Body for Investigating Preparation Attempts of Indonesia's Independence) membership included six ethnic Chinese members who contributed to the drafting of the Indonesian Constitution in 1945.[citation needed] The formation of all-Chinese Indonesian units in the Revolution was discussed,[13] similar to the formation of the all-Japanese American Nisei units in World War II. This suggestion was ultimately rejected, and the ethnic Chinese were advised to instead join their local pro-Independence groups. Due to the lack of such clearly-defined ethnic unit, the precise number of Chinese Indonesians who took part in the Indonesian National Revolution, and their percentage of the Chinese Indonesian community as a whole, remains disputed. It is a sensitive issue due to it sometimes being linked to the post-war status of Chinese Indonesians and their equal status (or lack of one) in the Indonesia created by that war.

During the 1945–1950 National Revolution to secure independence from the Dutch, few Chinese Indonesians were involved in the Indonesian Republican army. At that time, the economy plummeted and the taxes increased dramatically. Everyday goods, such as soap and cutlery, were rare; much and had been confiscated by the Japanese and Dutch for their own armies. Chinese Indonesians contributed in the smuggling of these goods
Tahun 1955-1965, perselisihan pun terjadi antara pribumi dan Tionghoa di mana Tionghoa dituduh "tidak patriotik" dan tidak ikut serta dalam perang meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu pun akhirnya mengeluarkan peraturan yg membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu menyebabkan orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan industri. Kemajuan para Tionghoa dalam perekonomian ternyata kembali menyebabkan perselisihan di mana para Tionghoa dituduh sebagai agen kolonial dan menerima suap. Pemerintah pun memerintahkan para pedagang Tionghoa untuk menutup usahanya di kota2 besar dan memindahkan mereka dengan paksa ke daerah2 seperti Kalimantan dan Palembang. Saat itu kurang lebih ratusan ribu orang Tionghoa "dibuang", dan 42.000 yg dituduh membangkang dibunuh.
Chinese Indonesians were accused of unpatriotic ways during the war (as they were rarely involved in armed conflicts). The fledgling Indonesian government forced many to relinquish acquired properties. This would be the first of many Chinese Indonesian restrictions on personal rights.

In 1959, President Soekarno approved PP 10/1959, a directive that forced Chinese Indonesians to close their businesses in rural areas and relocate to urban areas. Enforcement was brutal; in one 1967 incident in Western Kalimantan, 42,000 accused separatists were slaughtered.
Sebagai protes, banyak orang Tionghoa yg mencoba pulang kembali ke negara asalnya, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak diterima di sana karena dianggap sudah "tidak berdarah murni" Hal ini menyebabkan orang2 Tionghoa di Indonesia kehilangan jati diri, karena mereka bukan orang Indonesia dan juga bukan orang Cina. Akhirnya sebagian dari mereka pindah ke negara2 lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brazil.
In protest, many Cina Totoks returned to either mainland China, Hong Kong, or Taiwan, only to find that they were not welcomed there either. Ironically, they were not regarded as "pure Chinese", regardless of their effort of maintaining a "pure Chinese breed". The unfortunate news of the early migrants was widespread among the Chinese Indonesians. They soon found themselves as neither Indonesian nor Chinese. Some decided to move to some other places, like Singapore, Malaysia or even as far afield as Brazil.
Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yg sangat pedih karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga mereka. Segala tradisi yg berbau Cina diharamkan, dan bahasa Mandarin pun dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis. Di beberapa daerah juga hal ini disangkut pautkan dengan agama di mana orang Tionghoa dianggap tidak menghormati agama Islam dan tradisi muslim dan dibunuh. Pada periode 1965-1975, aparat dapat dengan seenaknya mengeksploitasi orang Cina dengan merampok dan memperkosa keluarga mereka. Cara satu2nya untuk survive pada masa itu adalah dengan menyogok.
Bahkan para Tionghoa yg berjasa bagi Indonesia pun ditangkap, dipenjara, dan dibunuh, dan hal ini menyebabkan orang Tionghoa menjadi memisahkan diri dengan Indonesia. Mereka tidak senang disebut sebagai warga "Indonesia" Hal ini terjadi hingga hari ini. Walaupun generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi. Budaya mereka menjadi lebih kebarat-baratan, karena banyak orang tua Tionghoa memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke Amerika atau Eropa.
The Chinese-Indonesian were all forced to change their names to Indonesian sounding ones. This law is considered as one of the most humiliating ones to those in the Chinese community in Indonesia since by doing so, they are forced to lose their family name. Between 1965 and 1975, army and police officers were rampant in abusing Chinese Indonesians, such as openly robbing and raping their families. During this time, police could abuse any people using Chinese language. The only way to survive during this harsh period was by using bribes.
In addition, those who were considered as heroes of Indonesian independence, such as Siauw Giok Tjhan and Liem Koen Hian, were either brutally executed, exiled, or jailed. Those who protested were silently murdered. None of them were bestowed national hero status. It effectively discouraged any Chinese Indonesian of the time to dedicate their lives for Indonesia.
Since Chinese Indonesians were banned from all aspects of life except from the economy and industry, they concentrated their effort in those areas and became remarkably successful. It opened opportunities for government and military officers to levy bribes from Chinese Indonesian businessmen. Bribes and corruption soon became a norm. This widened the gap between them and pribumi. The pribumi accused Chinese Indonesians with colluding with the government and thereby poisoning the entire political system. On the other hand, Chinese Indonesians felt that they were treated unfairly and the government was much more lenient toward the pribumi.
Most Chinese Indonesians are not Muslim, further generating negative sentiments from the mostly Muslim natives. This is ironic in light of the fact that some of the earliest Muslim evangelists in Java (who were called the Wali Songo or 'The Nine Ambassadors') were of Chinese ancestry. A historical theory even suggests that the first people who brought Islamic faith to Indonesia were the Chinese traders, especially those who came to Semarang under the leadership of Sam Po Kong or Admiral Zheng He. Zheng He was not a Han, but a Muslim from a minority ethnic group in China.
Because of discrimination, most Chinese Indonesians were not politically active and could not lobby for legislation to protect their own interests, despite their economic affluence. The situation is different in neighboring Malaysia where the overseas Chinese have been both politically and economically active despite being a minority in a similar environment — better off economically in a Muslim majority country.
Despite laws and public opinion against the Chinese Indonesians, many have succeeded in fields other than business, most notably in the sport of badminton, the most popular competitive sport in Indonesia. Indonesian athletes dominated the sport from the 1960s to the 1990s. Many of the beloved players and coaches are Chinese Indonesians, such as Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata, Tjun Tjun, Johan Wahjudi, Ade Chandra, Liem Swie King, Ivana Lie, Verawaty, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, and Heryanto Arbi.
Pada kerusuhan 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi dan KKN di Indonesia karena mereka sering menggunakan sogokan untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Ratusan ribu orang Tionghoa di Indonesia, dibunuh, diperkosa, dan milik mereka dijarah massa. Hal ini menyebabkan banyak orang Tionghoa memutuskan untuk lari dari Indonesia, dan pindah ke negara2 tetangga seperti Australia dan New Zealand. Dan bahkan setelah reformasi, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia karena mereka menemukan bahwa negara2 barat lebih menghormati hak2 mereka ketimbang Indonesia.

Ada blog yg ngebahas soal kerusuhan Mei, untuk jelasnya mengenai situasi saat itu, baca aja di sini
As more and more discrimination and enmity accumulated, Chinese Indonesians increasingly identified themselves as a separate group and did not like to be referred to as "Indonesians". Although younger generations did not as strictly follow traditions as the older ones did, they still felt they were different from Indonesians.
During this era, younger generations adopted western culture more and more as they perceived it as being more superior. They were more aligned toward western countries such as the United States or the United Kingdom. The westernization became popular as many parents sent their children abroad to western countries.
The Jakarta riot of 1998 targeted many Chinese Indonesians. The riot itself drew condemnations from Chinese speaking countries. Suharto was allegedly the mastermind of this riot, but it misfired. Suffering from lootings and arsons, many Chinese Indonesians fled from Indonesia. Ironically, they found western countries were more accepting than Indonesia, their country of birth. Even after the riot subsided, many of them did not want to return.
Setelah reformasi, pada masa pemerintahannya, Gus Dur mencabut larangan bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Kwik Kian Gie dijadikan menteri perekonomian. Gus Dur juga memberikan ijin bagi orang2 Tionghoa untuk menjalankan tradisinya tanpa harus meminta ijin kepada pemerintah. Pada masa pemerintahan Megawati, hari raya Imlek pun ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Setelah 45 tahun dilarang di Indonesia (sejak tahun 1965), pada tahun 2000, Metro TV menjadi stasiun TV pertama yg menggunakan bahasa mandarin. Pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan undang2 yg menghapus segala perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Dan pada tahun 2007, SBY meresmikan istilah "Tionghoa" sebagai nama bagi penduduk keturunan Cina di Indonesia.

---

So, setelah membaca uraian di atas, bisa kita lihat bahwa pada awal mulanya, orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Diskriminasi terjadi akibat usaha penjajah untuk memecah belah Indonesia. Berbagai usaha perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, namun luka yg telah mendarah daging selama berbagai generasi tidaklah semudah itu untuk dihapuskan.

Marilah kita sebagai generasi muda, belajar dari kesalahan pada leluhur kita, untuk bersikap kritis. Jangan mudah diadu domba oleh pihak2 yg tidak bertanggung jawab. Diskriminasi adalah sebuah hal yg menginjak2 martabat dan hak asasi manusia, dan perbedaan SARA adalah sebuah kekayaan budaya bangsa yg harus kita hargai. Satu nusa, satu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika.

And most of all, we are a children of the world, God's great big family, and love is all we need =)

You Might Also Like

20 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Ini aku baru baca post soal namamu yang Keven, terus baca ini. Kenapa kok tulisan yang "waras" gini malah gak dikomentarin ya? Ini kan penting banget, dan membuka wawasan.

    Aku juga pernah menulis soal ini secara sekilas, setahun lalu. Bisa dilihat di sini:
    http://hoedamanis.blogspot.com/2010/12/khutbah-etnik.html

    Btw, boleh nanya ya. Sebenarnya orang Cina tuh lebih suka disebut "Cina", atau "Tionghoa"? Seriusan, karena ada beberapa temanku yang Cina, dan aku sering ragu gimana nyebutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. orang cina itu kedengaran akan sangat tidak sopan bro....lebih baik di sebut tionghua / chinesse....

      Delete
  2. Tergantung orangnya juga Hoeda. Kalo keluarga gua sih lebih seneng disebut "zhong guo ren" (orang cina, dalam bahasa mandarin)

    Tapi ada juga yg seneng disebut Tionghoa...jadi memang ga bisa disamaratakan...

    Yg pasti ga ada orang Cina yg seneng disebut "Dasar Cina" atau semacamnya, walaupun konteksnya bercanda juga...soalnya sebutan itu mengarah kepada rasis sih konotasinya

    Paling aman ya berteman aja, sebut nama, ga usah bawa2 SARA...hehe

    ReplyDelete
  3. lebih kejem lagi klo org cina dipanggil Ahong... apa coba??haha,sorii cmn bercanda..

    ReplyDelete
  4. nice post keppi...
    kita sbagai olang ketulunan tionghoa sebenernya gak masalah mau dibilang cina kek, tiong hoa kek, mau zhong guo ren atau akew, selama disebut tidak dengan niat merendahkan.

    Anyway saya sendiri yakin di Indonesia sendiri, seluruh etnis yang ada di Indonesia tidak akan senang jika dipanggil SARA-nya dengan niat merendahkan atau nyolot~~

    ReplyDelete
  5. Maksudnya gini lho, Kep. Aku kan punya dua teman, namanya sama-sama Leony. Yang satu Jawa, yang satu Cina. Kadang, ada kejadian ketika aku ditanya teman lain, "Eh, tadi bukunya dibawa siapa?"

    Trus aku jawab, "Dibawa Leony."

    "Leony yang mana?"

    Nah, yang bawa bukunya itu Leony yang Cina. Aku bingung mo ngejawab gimana. Mau bilang, "Leony yang Cina," takutnya tuh kalau si Leony-nya dengar, trus nggak suka disebut gitu. Makanya aku perlu mastiin enaknya tuh disebut gimana.

    Kalau dalam berteman sih aku sama sekali nggak pernah masalahin soal SARA. Cuma, karena adanya perbedaan itulah yang bikin aku lebih hati2, agar nggak nyinggung perasaan orang lain gara-gara aku nggak paham.

    ReplyDelete
  6. GBU : Siapa? Ityonk ya?

    Hoeda : Panggil pake nama belakangnya aja bisa kan? Tapi ya gua setuju sama komentar GBU, selama nyebutnya bukan dengan maksud negatif sih kayaknya gpp kali ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah gue setuju... di kampus gue juga sering kayak gitu, kata cinanya dibalik jadi NaCi..Huahaha... edan tuh emang temen2 gue....:D

      tapi selebihnya yah menurut gue, balik lagi ya ke masing2 orangnya..ada yang ga keberatan, ada pula yang merasa tersinggung dengan sebutan itu...^^

      peace....^^v

      Delete
  7. "Walaupun generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi"

    it's so true.
    kebetulan sebagian besar teman saya (yah bisa di bilang 90% lah) tionghoa.
    dan memang sampai saat ini mrk masih merasa berbeda dgn pribumi.

    tapi menurut saya semua itu ada sebabnya sih.
    toh memang sampai skg mrk masi dpt perlakuan yg berbeda.
    saya ingat betul wktu cousin saya akan menikah bbrp tahun yg lalu, krn pasangannya kbtln tionghoa proses mengurus dokumen lebih berbelit.
    harus ada surat ganti nama,dll.
    padahal calon suaminya lahir dan besar di indonesia.

    btw, saya bknnya mau memberikan pandangan negatif mengenai pribumi (toh pada dasarnya saya pribumi).

    just sharing only.
    peace (^.^)v

    ReplyDelete
  8. apa karena memang pola sistem negara ataupun tradisi berkenegaraan dan bersosialisasi di cina yang dari dulu selalu dalam koloninya masing- masing artinya hanya komunitas chinese saja yang berkumpul tanpa mau berbaur dengan rakyat pribumi umumnya,,namun hal ini akhirnya berdampak terhadap kehidupan sosial di Indonesia khususnya,,

    ReplyDelete
  9. mending pake paham.

    Lu hormati gw, gw hormati lu.
    kalo Gw hormati lu, lu ga hormati gw,...
    terpaksa senggol bacok berlaku.

    hauhauhauhauhu

    ReplyDelete
  10. temen-temenku banyak yg keturunan cina, mungkin karena lingkungan sekolah dari SD-SMA di sekolah swasta ya.

    "Walaupun generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi"

    ^^ emang nggak mudah sih mencoba menerima kenyataan, mungkin leluhur dulu sering banget didiskriminasi akhirnya stigma itu terus mengakar ke generasi penerusnya yang menyebabkan masih ada rasa ganjil untuk bersosialisasi dengan masyarakat. ada beberapa temanku (ga hanya keturunan Cina) yang memang menarik diri dari lingkungan sosialnya, jadi mereka lebih senang berkelompok dengan orang yang satu Ras atau suku dibanding harus membaur jadi satu dengan banyak orang. Ya melihat hal itu udah jadi kewajiban kita utk menghapus stigma yg melekat, saatnya kita lebih open sama perbedaan, karena itulah bangsa ini berdiri. asas Pancasila dan kata2 "NKRI Harga Mati" itu perlu deh dikuatkan dimasing2 hati anak muda masa kini.

    ReplyDelete
  11. Keluarga gua (istri dari om) merupakan keturunan Tionghoa, jadi kalau ada acara keagamaan semacam lebaran, natal maupun sin cia (bener ga tulisannya ? CMIIW) malah jadi ajang kumpul-kumpul keluarga setelah perayaan utama agamanya selesai (biasanya sehari setelah perayaan). Juga gua enam tahun menghabiskan sekolah swasta yang (pada masa gua) sekitar 70-80% muridnya tionghoa. Mungkin hal ini yang membuat gua agak 'kurang peduli' (atau kurang paham) dengan diskriminasi yang terjadi antar kaum pribumi-tionghoa di Indonesia.

    Baru jelas pas masuk kuliah, dimana teman-teman gua yang (kemungkinan) minim gaul dan interaksi dengan masyarakat tionghoa. Pemandangan anak-anak tionghoa/keturunan Cina yang terkesan menjauhkan diri (menurut gua) agak asing untuk dilihat.

    #malahcurcol

    ReplyDelete
  12. nice post om,sumpah baru tau sejarahnya. tapi kalo di daerah gue (Balikpapan) kayaknya gak ada rasis dengan orang2 tionghoa, dan orang2nya gak sensitif dengan kata "orang cina". malah gue sering dikira keturunan cina dan sering dipanggil "cina" -__-

    ReplyDelete
  13. Menyedihkan sekali yah perselisihan antara Tionghoa dengan pribumi ternyata berawal gara2 diadu domba saja, padahal sebenarnya peranan Tionghoa (orang Taiwan kadang ngomongnya sih 華僑, tapi menurut aku ga terlalu tepat, mungkin 華人 lbh tepat) di Indonesia itu benar2 besar. Mungkin banyak yg tidak sadar bahwa banyak istilah bahasa Indonesia itu ternyata diambil secara langsung dari Fujian Hua (福建話) ato di Indo lbh terkenal sbg Hokkian. Aku baru nyadar setelah denger2 org Taiwan ngomong Taiyu (台語) yg notabene akarnya sama dengan Hokkian. Siapa yg sangka lho mie itu bahasa Hokkian, ato teh juga, sampe2 學長 aku ngomong kalo mereka travel ke indo tuh enak, walaupun ga bisa bhs indo, tapi ngerti nama2 makanan di indo XD。

    Anyway, nice posting lah, sebenernya aku dulu udah baca (di sini juga, cuman lupa komen).

    ReplyDelete
    Replies
    1. 華僑 - Hua qiao - itu memang benar untuk sebutan keturunan chinesse yang sudah menetap di luar negeri...mau di amrik,eropa dll.....ya keturunan chinesse itu dipanggil 華僑....

      華人 - hua ren - itu ada orang itu sendiri.....華僑 bisa jadi 華人 itu sendiri....dan orang yang tinggal di mana mana bisa jadi 華人 itu sendiri....jadi memang lebih tepat pangillan 華僑 untuk keturunan chinesse yang sudah lama tinggal di luar negeri...

      Delete
  14. Nice posting. Saya mo sharing dikit nih, yg udah jadi uneg2.

    Saya seorang pribumi. Tapi sejak kecil saya hidup berdampingan dengan orang2 Tionghoa, dari SD sampai SMA. Saat kerusuhan 1998 banyak teman2 saya yg Tionghoa terkena dampaknya. Kami saling bantu meringankan beban mereka dan sama sekali nggak ada jarak antara kami semua.

    Saat kuliah saya baru merasakan teman2 saya yang pribumi sedikit membeda2kan antara pribumi dengan Tionghoa. Bagi saya sangat aneh saat mendengar teman2 saya menggosip tentang Tionghoa. Karena saya terbiasa hidup dengan orang2 Tionghoa, bergaul dengan mereka bukan sesuatu yang aneh. Tapi ternyata tidak bagi teman2 kuliah saya yang pribumi.

    Setelah baca tulisan ini saya jadi tahu awal mula adanya jarak antara pribumi dan Tionghoa. Sayang sekali sampai sekarang masih terasa perbedaan itu. Bagi saya, walaupun mereka keturunan dari etnis lain, mereka tetaplah orang Indonesia. Karena saya dari Jawa, kadang saya manggil orang2 Tionghoa dengan panggilan 'mas' atau 'mbak', sementara yang lain manggil 'koh' atau 'cik'. Bagi saya mereka sama seperti orang Indonesia yang lain.

    Segitu aja sharingnya. Keep posting gan :D

    ReplyDelete
  15. Gue orang Indonesia, dan bukan keturunan Tionghoa, plus gue Islam.
    Dan menurut gue, posting ini bagus dan open-minded banget. jujur, lugas, dan tidak 'ribut' :)
    Menurut gue, bangsa Tionghoa juga sangat berpengaruh dalam dunia Islam, baik aga Islam secara global, maupun saat masuknya agama Islam di Indonesia.
    Memang benar, agama Islam disebarkan oleh pedagang dari Arab, India dan Cina. Malahan, Wali Songo banyak yang berdarah Tionghoa. Beberapa tokoh Cina juga membangun masjid (yang bentuknya seperti klenteng sehingga kerap disalahartikan sebagai klenteng dan akhirnya dianggap klenteng) di Indonesia. kalau tidak salah Laksamana Cheng Ho deh. Klentengnya ada di Semarang.

    Terlepas dari itu semua, malah, gue yang muslim yakin kalo diantara nabi-nabi Islam ada yang merupakan orang Cina. Secara, dalam islam dikatakan bahwa manusia sekaligus nabi pertama adalah Adam, orang Arab. Kalau orang pada zaman itu dan nabi2 itu semuanya orang Arab, lantas darimana orang Cina itu bisa ada?
    Lagipula, dulu negeri Cina itu negeri yang sangat besar. Sebelum negara-negara lain terbentuk, hanya ada satu daratan yang terkenal 'Daratan Cina' yang luas. Negeri itu berhubungan cukup dekat dengan negeri Arab yang terletak tak jauh di sebelahnya.
    Sebuah pepatah Islam malah mengatakan "Utlubul ilma walau bi sin" = "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China."

    Cina adalah negara yang kuat dari segi ekonomi. mereka itu pengembara, jadi, menurut saya, mereka cenderung terbuka terhadap perbedaan. Secara, mereka terbiasa hidup nomaden, berpindah-pindah, tahan banting. Apalagi mereka adalah pelaku ekonomi, sama halnya dengan Arab yang pebisnis dan pengembara, kedua bangsa itu adalah bangsa yang sama-sama terbuka dan cukup toleransi dengan apa yang mayoritas dianut di lingkungan mereka berada :D
    Tak heran, setelah sampai di Indonesia pun, masih banyak mereka yang ujung2nya nuntut ilmu di luar negeri lagi. Inggris, Amerika, Australia, Singapura.

    Dan perlu diakui juga, bangsa Indonesia belajar banyak dari orang keturunan Tionghoa di Indonesia. Mulai dari ekonomi, semangat perjuangan dll. Atlet, bisnisman, woah banyak ^_^

    Intinya: toleransi perbedaan. Jangan ikut yang lain, jangan ganggu juga yang lain. maka yang lain gak akan ikut lo, dan gak akan ganggu lo. Selesai. Mudah. Hidup sosial, berbangsa dan bernegara mudah-mudahan aman, nyaman dan yang terpenting damai. Bisa bekerja sama, bisa maju, tidak retak. Kekuatan negara bukan ada pada pemimpinnya yang jagoan, tapi pada rakyatnya yang jagoan. Bhinneka tunggal ika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Like this comment, thanks banget udah sharing di sini. Semoga perlahan2 perbedaan di antara bangsa Indonesia bukan menjadi suatu alasan untuk berselisih, tapi jadi kekayaan yg dapat memperkaya budaya bangsa kita yg sarat dengan pluralisme ya =)

      Delete
    2. yups bener bgt, apapun perbedaannya kita harus saling bantu membantu dan menyokong karena pada hakikatnya kita semua ini sama. MANUSIA yang mempunyai akal, pikiran dan nurani. Salam persahabatan untuk berbagai suku, agama dan ras yang ada. peace ^_^

      Delete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe