I Heart You

23:44:00

Istilah "I Heart You" akhir2 ini menjadi populer khususnya di kalangan remaja Indonesia. Istilah ini menjadi sebuah "trend" baru sebagai sebuah ungkapan kasih sayang. Banyak yg menggunakan istilah ini sambil dipadukan dengan istilah "cenat-cenut", yg oke, walaupun sounds catchy abis, tapi menurut gua kesan yg ditimbulkan sama sekali ga ada cool2nya. So guys, ga usah berlagak cenat-cenut kalo lagi fall in love. Be yourself aja, stay cool, karena menurut gua kalo kalian mencoba ikut2an bersikap ala grup musik tertentu yg terdiri dari segerombolan cowo alay yg ga nyadar tampang mereka sendiri, lagunya nyontek lagu orang lain, dan jogetnya kayak dakocan kesetrum itu sama sekali ga ada bagus2nya, hehe.

Oke back to topic. Istilah "I Heart You" ini, apabila gua coba maknai dengan filosofi dan pengalaman2 gua tentang cinta, bisa punya arti yg sangat luas bagaikan samudra Pasifik dikali dua puluh tiga dan sangat dalam bagaikan sumur favoritnya Sadako di film The Ring. Tapi sekali lagi, ini hanya redefinisi ulang secara subyektif oleh gua dan gua yakin ga semua orang berpikir cerdas dan kreatif seperti gua. Jadi kalo di antara kalian ada yg ga ngerti akan apa yg gua omongin, jangan nyalahin diri kalian sendiri, tapi salahkan masa kecil kalian yg garink dan hampa akibat kurang ASI dan tatih tayang Ibu, hahaha.

Saat kita mencintai seseorang, kita memberikan potongan hati kita kepadanya. Kita mengoyak diri kita sendiri, kenyamanan yg kita miliki selama ini, dengan harapan bahwa orang yg kita cintai itu akan balas memberikan bagian dari hatinya untuk menambal kekosongan yg ada dalam diri kita tersebut. Namun apa yg terjadi saat kita hanya bertepuk sebelah tangan? Saat cinta kita tidak berbalas, apa yg akan terjadi dengan lubang yg ada pada hati kita? Lubang itu, kawan, akan selalu ada. Our heart is broken, a piece is missing, and it'll never be the same again.

Is it painful? Of course, it is. Tapi begitulah yg namanya cinta.

Gua sendiri, mungkin adalah satu dari sedikit orang yg menganut filosofi "cinta tanpa syarat", di mana menurut gua, yg namanya mencintai tuh adalah memberi tanpa mengharapkan imbalan. Seperti kata Leo Buscaglia :
"Love is always bestowed as a gift. Freely, willingly, and without expectation. We don't love to be loved; we love to love"


Dengan kata lain, kita mencintai seseorang ya karena kita memang mencintai dia, bukan karena mengharapkan orang itu juga balik mencintai kita. Yah, syukur2 cinta kita ga bertepuk sebelah tangan, karena yg namanya cinta tidak harus memiliki itu bullsh!t kalo menurut gua. Tapi intinya adalah kita kembali ke pada hakikat dasarnya cinta itu sendiri bahwa yg namanya cinta tuh adalah sesuatu yg kita berikan secara tulus, tanpa tuntutan, dan tanpa paksaan. Apabila ternyata orang itu tidak membalas cinta kita, ya kita jangan lantas menjadi benci atau dendam donk. Itu namanya pamrih, bukan cinta yg tanpa syarat.


Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.
~ by 1 Corinthians 13:4-7 ~

Tapi juga bukan berarti kita harus selamanya stuck pada satu orang. Terus berusaha, setengah maksa, setengah mohon2, supaya cinta kita dibalas, dan ngikutin orang itu 24 jam. Bukan, bukan kayak gitu. Itu sih namanya OBSESI BUTA. Maksud gua, one day, kita bakal cape sendiri dan memutuskan untuk move on. Tapi pada saat itu tiba, kita pergi secara baik2, dan cinta yg telah kita berikan pada seseorang itu ya relakan saja tersimpan dalam memori sebagai kenangan errr...manis, dan juga pahit, hehe. Ga usah kita inget2 terus sebagai sesuatu yg menyakitkan atau bikin trauma, tapi di sinilah cinta kita bener2 diuji dengan satu ujian akhir yg mungkin adalah yg paling berat : MERELAKAN.

Ok, kembali ke konteks "I Heart You". The truth is... I gave my heart away a long time ago, my whole heart... and I never really got it back. Yup. Ditambah lagi 7 tahun terakhir tuh gua ngalamin berkali2 pengalaman jatuh bangun bersama cinta yang akhirnya selalu berakhir dengan kegagalan. Jadi kalo dianalogikan sesuai konsep di atas, berarti hati gua cuma tinggal segede UPIL aja donk? Kan sisanya udah gua bagi2in tanpa pernah dapet balasan? Hahaha. Yah pernyataan itu ga sepenuhnya salah sih, tapi juga ga sepenuhnya bener.

Tuhan ga pernah kasih kita beban yg melebihi kemampuan kita, jadi dalam kasus gua juga, Dia kasih gua hati yg sangaaaaaaat besar, yg ga akan pernah habis walopun gua terus2an patah hati. And don't forget, love grows by giving. The love we give away is the only love we keep. The only way to retain love is to give it away. Nahhh, jadi ini dia rahasianya. Walopun pada akhirnya cinta gua bertepuk sebelah tangan, I never stopped loving them. Bukan berarti hati gua tuh mendua, mentiga, dan mentujuh sampai sekarang ya, tapi tiap luka, tiap retakan, tiap lubang yg ada di dalam hati gua, itulah jejak cinta yg tak terbalas, yg pada akhirnya jadi bagian diri gua, sesuatu yg kekal dan tidak akan pernah hilang. Kenangan. Kekayaan memori. That's why, I'll never ran out of love.

Saat kita mencintai seseorang, kita memberikan bagian dari hati kita kepadanya. Dan saat cinta kita tidak terbalas, kita tidak pernah mendapatkan kembali potongan yg telah kita berikan itu. Tapi bukan berarti lantas kita hanya mengalami kehilangan tanpa pernah mendapatkan hasil apa2. Keberanian kita untuk memberikan hati kita, keberanian untuk mencintai, itu adalah suatu pelajaran berharga, memori yg tidak ternilai. Dan luka2 di dalam hati kita itulah yg menjadi bukti nyata bahwa cinta itu ada, dan kekal adanya. The wound itself...is LOVE.
Jadi kalo temen2 ada yg lagi fall in love, jangan takut untuk bilang "I Heart You". Jangan ragu2 untuk memberikan hatimu untuk orang yg kaucintai itu. Mencintai tidak pernah merupakan sebuah kesalahan. Daripada punya hati yg kinclong, berkilau, sempurna bentuknya tapi tidak pernah mencintai, gua lebih bangga punya hati yg bentuknya udah ga jelas babak belur dan penuh luka. Karena itu bukti nyata bahwa hati gua sudah pernah mencintai. For the love we gave, is the love we keep. And I'll keep loving on for eternity...
Love is sometimes denied, sometimes lost, sometimes unrecognized, but in the end, always found with no regrets, forever valued, and kept treasured

PS : Cobain klik kata "upil" di atas ;p

You Might Also Like

4 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Wah, makasih kakak. Aku jadi bangga punya hati yang udah lecet-lecet ini ;)

    ReplyDelete
  2. Postingan yang bagus nih ttg cinta. Gue juga pernah mau nulis yg ginian, tapi gue udah nangis duluan.. :D

    ReplyDelete
  3. LOVE this!!

    Btw, di postingan yg "The Best of 2010-2011" itu aku sbnrnya mau comment, tp udah ke-close duluan wkwkwk..
    Kalo aku, suka banget ama postingan yg dalem2 begini, hehe.. Yg konyol2 jg suka sih, bikin ngakak hahahha

    ReplyDelete
  4. Nyoba klik UPIL

    Link-nya Hangus

    #BadLuckYoPas

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe