Science vs Religion

15:09:00


Hari ini saking bosennya di kantor karena ga ada kerjaan, gua bengong, melototin bayangin muka sendiri di layar iMac. Sambil bengong, gua dengerin temen2 kantor gua ngobrol. Ada satu topik pembicaraan yg menarik yaitu soal apakah manusia berasal dari kera? Ada satu orang yg setuju, ada yg bilang kalo kita sebenernya dari semacam ikan, dan lain sebagainya. Terus pembicaraan mulai nyambung ke masalah agama. Menurut agama kan manusia lahir dari Tuhan, Adam dan Hawa, tapi tidak begitu menurut teori evolusinya Darwin. So, mana yg bener? Agama atau Ilmu Pengetahuan? Apakah Agama mencoba membodohi manusia dengan cerita2 yg ga bisa dibuktiin sama fakta?

Gua tersenyum simpul mendengarnya. Jawaban dari pertanyaan mereka, I've known it from so long ago. Taun 2010 gua pernah nulis di blog gua yg lama soal Science vs Religion. Ada satu ilustrasi cerita yg menggambarkan soal pertentangan Agama dan Ilmu Pengetahuan. Check this out :



Seorang Profesor Filosofi penganut Atheis sedang berbicara kepada kelasnya mengenai masalah pertentangan ilmu Sains dengan TUHAN YANG MAHA KUASA. Ia bertanya kepada salah satu mahasiswa barunya yang taat beragama.
Profesor: Kamu beragama Kristen, iya kan nak?
Murid: Iya.
Profesor: Jadi, kamu percaya adanya TUHAN?
Murid: 100%, Pak.
Profesor: Apakah TUHAN baik?
Murid: Pasti.
Profesor: Apakah TUHAN MAHA KUASA?
Murid: Iya..
Profesor: Saudara saya meninggal dunia karena kanker meski pun dia sudah berdoa kepada TUHAN untuk menyembuhkannya. Sebagian besar dari kita akan mencoba membantu orang yang sedang sakit atau kesusahan. Tapi TUHAN tidak melakukannya. Jadi bagaimana bisa TUHAN dianggap baik? Hmm?
(Murid terdiam)
Profesor: Kamu tidak bisa menjawab, kan? Mari kita coba lagi, anak muda. Apakah TUHAN Baik?
Murid: Iya.
Profesor: Apakah Setan baik?
Murid: Tidak.
Profesor: Darimana datangnya Setan?
Murid: Dari … TUHAN..
Profesor: Itu benar. Beritahu saya, nak, apakah ada kejahatan di dunia ini?
Murid: Iya..
Profesor: Kejahatan ada dimana-mana, kan? Dan TUHAN menciptakan segala hal. Benar?
Murid: Benar.
Profesor: Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan?
(Murid terdiam)
Profesor : Apakah ada penyakit di dunia? Keabadian? Kebencian? Kejelekan? Semua hal buruk ini ada di dunia, bukan?
Murid: Iya, Pak.
Profesor: Jadi, siapa yang menciptakan semua hal buruk itu?
(Murid tidak punya jawaban)
Profesor: Ilmu Sains mengatakan bahwa kamu memiliki 5 indera yang dapat kamu gunakan untuk mengidentifikasi dan mengobservasi dunia sekitarmu. Beritahu saya, nak…Apakah kamu pernah Melihat TUHANmu?
Murid: Tidak, Pak.
Profesor: Beritahulah, apakah kamu perngah Mendengar TUHAN?
Murid: Tidak, Pak.
Profesor: Apakah kamu pernah Merasakan TUHANmu, Memegang TUHANmu, Mencium TUHANmu? Apakah kamu pernah mengalami persepsi indera apapun tentang TUHAN?
Murid: Tidak, Pak. Saya tidak pernah.
Profesor: Tapi kamu masih Percaya kalau DIA ada?
Murid: Iya.
Profesor: Berdasarkan Protokol Empiris, Dapat Diuji, dan Dapat Didemonstrasikan, Ilmu Sains mengatakan bahwa TUHAN tidak ada. Apa yang bisa kamu katakan untuk menanggapi pembuktian itu, nak?
Murid: Tidak ada. Saya hanya memiliki kepercayaan saya.
Profesor: Ya, Kepercayaan. Dan itulah Masalah yang dimiliki Ilmu Sains dengan TUHAN.
Murid: Profesor, apakah ada suatu hal yang disebut Panas (Heat)?
Profesor: Iya
Murid: Apakah ada suatu hal yang disebut Dingin (Cold)?
Profesor: Iya.
Murid: Tidak, Pak. Tak Ada.
(Kelas mulai terdiam dengan keadaan yang tiba-tiba berbalik)
Murid: Pak, hal-hal yang disebut “Lots of Heat”, bahkan “More Heat”, “Superheat”, “Mega Heat”, “White Heat”, “Little Heat” atau “No Heat” memang ada. Tapi tidak ada hal yang disebut Cold secara sains. Kita bisa menurunkan temperatur 458 celcius di bawah nol, yaitu kondisi yang disebut “No Heat”, tapi kita tidak bisa menurunkan temperatur lebih bawah daripada itu. Tidak ada sama sekali hal yang disebut Dingin (Cold). Dingin hanyalah sebuah kata yang kita gunakan untuk mendeskripsikan Tidak Adanya Panas (the Absence of Heat). Kita tak bisa mengukur Dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah lawan dari Panas, Pak. Dingin hanyalah Absence (tidak adanya) dari Panas.
(Kelas terdiam sunyi)
Murid: Bagaimana dengan Kegelapan, Profesor? Apakah ada hal yang disebut kegelapan ini?
Profesor: Iya. Apa itu Malam kalau tidak ada kegelapan?
Murid: Anda salah lagi, Profesor. Kegelapan adalah the Absence (tidak adanya) suatu hal. Kita memiliki Low Light (cahaya rendah), Normal Light (cahaya biasa), Bright Light (cahaya terang), Flashing Light (cahaya berkedip)… Tapi jika kita memiliki No Light (Tidak ada cahaya), kita tidak memiliki apa-apa dan itu yang kita sebut Kegelapan, bukan? Dalam realita, Kegelapan tidak nyata adanya. Karena jika ia nyata, kita pasti bisa membuat yang Gelap lebih Gelap lagi, bukan?
Profesor: Apa maksud yang ingin Anda sampaikan, Anak Muda?
Murid: Maksud saya adalah dasar pikiran filosofi Anda bermasalah, Profesor.
Profesor: Bermasalah? Bagaimana Anda bisa menjelaskan itu?
Murid: Pak, Anda berpikir menggunakan logika dasar pikiran Dualitas Anda berargumentasi bahwa ada Kehidupan dan ada juga Kematian, ada TUHAN baik dan ada TUHAN buruk. Anda melihat konsep TUHAN sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat diukur. Pak, Ilmu Sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah Pikiran… Ilmu Sains menggunakan konsep Electricity and Magnetism (Listrik dan Magnet), namun tidak pernah melihat, apalagi benar-benar mengerti kedua hal tersebut. Untuk menganggap Kematian sebagai Lawan dari Kehidupan, itu berarti kita pura-pura tidak tahu bahwa Kematian tidak akan bisa ada sebagai hal yang substantif (Yang dapat diukur dan diintensifkan, selayaknya Panas, Kehidupan, Cahaya, dan sebagainya.) Kematian bukanlah Lawan dari Kehidupan. Kematian hanyalah Absence (ketidak-adaan) dari Kehidupan. Sekarang beritahu saya, Profesor, apakah Anda mengajarkan murid Anda bahwa mereka berevolusi dari kera?
Profesor: Jika maksudmu adalah Teori Evolusi Darwin, maka iya, saya memang mengajarkan teori tersebut.
Murid: Apakah Anda pernah mengobservasi proses Evolusi dengan mata kepala sendiri, Profesor?
(Pak Profesor menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, mulai menyadari kemana arah argumen ini)
Murid : Karena tidak ada satupun orang yang pernah mengobservasi berlangsungnya proses Evolusi dan bahkan tidak bisa membuktikan bahwa Proses ini adalah sesuatu yang terus berlangsung, Bukankah Anda hanya mengajarkan sebuah opini, Profesor? Mungkinkah Anda bukan seorang ahli ilmu pengetahuan, melainkan seorang khatib/pendeta?
(Seisi kelas ribut hebat)
Murid : Apakah ada seseorang di dalam kelas ini yang pernah melihat otaknya Profesor?
(Seisi kelas ketawa)
Murid: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak sang Profesor, merasakannya, memegangnya, ataupun mencium baunya? Sepertinya tidak ada seorangpun yang pernah melakukan itu. Jadi, berdasarkan peraturan Protokol Empiris, Tetap, dan Dapat Didemonstrasikan, Ilmu Sains mengatakan bahwa Anda tidak memiliki Otak, Profesor. Dengan segala hormat, Profesor, bagaimana kami bisa mempercayai ajaran kuliah Anda kalau seperti ini kenyataannya?
(Kelas terdiam lagi. Sang Profesor menatap muridnya, dengan ekspresi yang susah diartikan.)
Profesor: Mungkin kamu harus bisa mempercayainya hanya dengan KEYAKINAN HATI, nak.
Murid: Itu dia Pak…tepat sekali! Hubungan antara manusia dan TUHAN adalah KEYAKINAN, IMAN. Hanya itu yang membuat hal-hal hidup dan bergerak.
NB:
Murid itu adalah Albert Einstein.

---

So, kesimpulannya menurut gua, Agama dan Ilmu Pengetahuan, dua2nya sama2 ga ada yg salah, kalo kita tinjau dari sudut pandang yg tepat. Yg satu mau mengajarkan soal intelegensia rohani (iman), yg satu lagi mengajarkan soal intelegensia jasmani (logika), so kalo ditinjau dalam konteks yg sesuai, dua2nya ga salah. Kalo masalah yg paling bener siapa, gua rasa ga ada yg tau. Soalnya kita ga bisa pergi ke masa lalu untuk melihat dan buktiin dengan mata kepala sendiri kan? So, pada intinya, itu sih masalah bagaimana kita menangkap maksud sebenarnya di balik dua buah konteks yg saling bertentangan tersebut.

Menurut gua pribadi, Agama dan Ilmu Pengetahuan tuh, walaupun lewat pendekatan yg berbeda, tapi sama2 mau mengajarkan sesuatu yg sama tentang hidup ini -> the ability to UNDERSTAND each other
Bahwa pada dasarnya kita tuh satu keluarga, satu rumpun, satu nenek moyang, satu Tuhan, satu dunia yg kita pijak, dan satu langit yg kita junjung
Apabila kita saling mengerti dan memahami, tidak akan ada yg namanya perang dan pertumpahan darah
I hope someday, we all can UNDERSTAND each other, and then we will live together as one, hands in hands, in harmony

We can't always be smart or wise, but more importantly, we can always be KIND =)

You Might Also Like

2 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. dulu pernah baca juga sih cuman beda versi sob.. mantap lah ulasannnya lu.. :)

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe