Balada Sop, Hiking, dan Celana Dalam

08:21:00


Tahun 2001, gua kemping ke Gunung Puntang, Kompleks Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, bareng anak2 pramuka. Ceritanya waktu itu lagi libur lebaran, dan daripada ga ada kerjaan di Bandung, akhirnya gua memutuskan untuk ikut. Waktu itu memang yg ikut jumlahnya ga terlalu banyak, kurang lebih cuma belasan orang. Setelah beres packing dll, kita berangkat ke tujuan nebeng di bak mobil pick-up punya salah seorang senior.

Acara hari pertama dihabiskan untuk bikin tenda dan masak makan malam, karena saat kita sampe di sana, hari udah sore. Dan malamnya, karena gerimis, kita ga bisa bikin api unggun. Sewaktu kita lagi asik masak, tiba2 ada orang dari tenda sebelah (di dekat tempat kita kemping juga ada beberapa kelompok orang yg lagi kemping) dateng ke tenda kita untuk minta garam. Sebenernya waktu itu kita juga lagi kekurangan garam, tapi apa boleh buat, akhirnya kita bagi sedikit. Malam itu kita juga berganti giliran jaga malam dan malampun berlalu dengan damai.

Hari kedua acaranya adalah hiking dan sebelum hiking, kita ditugaskan pembina kita bikin makan siang untuk dimakan di puncak nanti. Ketua regu gua, Darius, waktu itu mencetuskan ide sangat gila. Demi membuktikan bahwa Regu Kelinci adalah regu paling keren, sementara orang laen cuma bawa bekal nasi dan nugget, kita akan bikin SOP untuk makan siang di puncak nanti. Ceritanya dia mau ngebuktiin bahwa yg namanya kemping tuh ga harus makanannya serba instan melulu, 4 sehat 5 sempurna itu penting katanya, halah.

Jadilah kita seregu (waktu itu kita cuma berempat) masak sop dengan brutalnya. Masukin wortel, masukin kentang, masukin daging ayam, masukin kol, masukin sosis, cemplung, semua aduk jadi satu, tambahin masako dan sop kita pun jadi, satu PANCI BESAR! Sampe sini, kita udah ngerasa keren banget. Regu laen hanya bisa terbengong-bengong melihat regu kita masak sop.

Masalah baru muncul pada saat Darius ternyata lupa bawa kantong plastik untuk membagi2 sop itu. Panik karena sebentar lagi sudah harus berangkat, akhirnya dengan semangat yg berkobar2, dia bilang gini, "Kita bawa aja panci dan sopnya ke puncak!" Jadilah hari itu kita hiking sambil gantian bawa panci. Masalahnya pancinya gede dan berat banget, jadi mau ga mau bawanya harus pake 2 tangan. Panci berat yg harus dibawa pake 2 tangan + jalanan licin akibat hujan = TOTAL DISASTER!!!!!!


Gua dan 2 orang anggota regu lainnya saling bahu membahu untuk bawa panci itu. Awalnya kita semangat, tapi setengah perjalanan akhirnya kita ngomel2 juga. Melihat regu lain jalan dengan ringannya sambil bawa sebuah backpack kecil, sementara kita udah kayak budak Mesir bawa batu besar untuk bangun Piramid. Niatnya mau pamer, yg ada kita malah makan buah simalakama. Dan ternyata kesialan kita belum berakhir di situ.

Di tengah perjalanan, hujan pun turun dengan lebatnya. Kita langsung panik dan berusaha membungkus panci tersebut dengan ponco. Namun karena hujan saat itu sangatlah deras, air hujan pun tidak luput tetap masuk dari sela2 panci. Apalagi rute hiking menjadi semakin licin dan curam sehingga panci tersebut terhempas kiri dan kanan pada saat kita berempat mati2an berusaha membawanya naik tanjakan yg licin.

Di suatu tanjakan, salah seorang anggota regu gua yg bertugas bawa panci pun tersandung dan jatuh sehingga sopnya tumpah sebagian. Dan dengan gilanya, dia menyendok sop yg tumpah itu dengan tangan dan dimasukkin kembali ke dalam panci. Hal ini baru kita ketahui kemudian saat kita melihat ada tanah dan daun sedikit tercampur di dalam sop.

Pada saat akhirnya kita tiba di puncak, hujan sudah semakin deras. Kita duduk di pinggir sebuah curug kecil (Curug Siliwangi) untuk makan. Sementara regu lain makan nasi dan nugget panas dengan lahap, regu kita pun makan nasi + sop encer yg rasanya udah ga karuan karena sudah bercampur dengan air hujan dan tanah. Gluduk...gluduk...hujan deras pun menyamarkan air mata Regu Kelinci saat itu...


Entah bagaimana caranya, akhirnya hujan reda dan kini pun bergegas menuruni bukit untuk kembali ke tempat kemping. Kehujanan, kelelahan, mental kita udah drop banget. Hingga acara api unggun yg seharusnya seru pun berubah menjadi lesu akibat pesertanya sudah sangat letih. Para senior mencoba mencairkan suasana dengan bernyanyi main gitar, namun hal itu tidak membawa banyak perubahan.

Malamnya saat sedang jaga malam, kita dikejutkan oleh hilangnya beberapa bahan masakan yg berada di samping tenda Regu Kuda. Selidik punya selidik, akhirnya kita mencurigai pelakunya adalah orang2 yg pada malam pertama minta garam ke kita. Keliatannya tuh mereka ga modal banget, garam aja minta, ga aneh lah kalo lantas mereka mencuri korned.

Keadaan semakin diperparah saat Ali, ketua regu kuda, mendapati ada orang berbaju hitam sedang mengendap2 di balik tendanya. Ia mengejar orang itu sambil bawa golok, tapi orang itu berhasil melarikan diri. Di saat itulah sebutan "yayank" untuk golok pun muncul di angkatan gua. Karena pada saat kemping, golok sudah seolah2 bagaikan pacar, selalu dapat diandalkan di segala situasi, hahaha. Akhirnya kita melakukan ronda malam dengan lebih intensif sambil bawa2 yayank. Nyaris tidak ada satu anakpun yg tidur pada saat itu.

Menjelang jam 3 pagi, semua sudah kelelahan dan mata sudah berat. Akhirnya Darius mencetuskan sebuah ide. Sebuah barang yg ada di sekitar area perkemahan, kita masukin ke dalam tenda. Akhirnya kita semua masuk ke dalam tenda dan tidur berdesak2an dengan barang. Karena tidak ada space untuk berbaring, akhirnya kita tidur sambil duduk dan merebahkan kepala kita ke depan, mirip orang berlutut. Gaya tidur ini kemudian dikenal sebagai "tidur ala menyembah arwah nenek moyang"

Menjelang subuh, gua kaget karena tenda kita tiba2 rubuh. Bahkan regu sebelah jerit2 karena tendanya didorong hingga terbalik. Sambil emosi, Darius menerjang ke luar tenda sambil mengayun2kan yayank, tapi dia terkejut karena saat itu di depan tenda sudah muncul belasan orang memakai baju serba hitam yg ternyata adalah kakak2 penegak.

Ternyata semua kejadian sejak tadi malam adalah "penyerangan" oleh penegak. Kita semua disuruh baris dan dimarahi akibat tidak jaga malam dengan baik. Kemudian mereka mengeluarkan barang2 rampasan mereka seperti sandal, kaos kaki, panci, pasak, dan bendera regu Kuda. Kita semua disuruh push up untuk menebus barang2 tersebut. Satu buah barang dikali 20. Setelah push up sekitar 200 kali, seorang kakak melemparkan sebuah celana dalam ke depan kita dan menanyakan celana tersebut milik siapa. Saat itu kita semua diem dan ga ada yg ngaku, sehingga kita dimarahin dan disuruh push up lagi.



Belakangan ternyata diketahui bahwa celana dalam tersebut adalah milik salah seorang pembina donk, hahaha. Ternyata tenda pembina pun tidak luput dari serangan tadi malam...

---

Post ini disertakan untuk Buku Sejarah Pramuka Gudep 07019-07020.
Gambar2 semuanya berasal dari Google, hanya sebagai ilustrasi.

You Might Also Like

15 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. JOROK IH SOP nya -___-" huahahah keren bgt pengalaman lu om :)

    ReplyDelete
  2. huaaaaaaa, jorok bgt sop'a..
    lagian sih iseng banget,hahhaaa

    ReplyDelete
  3. sudah dilempar kancut kemudian di suruh pushup lagi? o_O

    ReplyDelete
  4. lumayan ven buat ngurusin badan baa panci di jalan yang licin. hahhaha... latihan... :D

    ReplyDelete
  5. itu air terjunnya apa ya namanya?
    saya orang sukabumi nih

    ReplyDelete
  6. Buset tuh sup kok kayak mkanan kucing bang,. :D
    Gila push up cuma untuk menebus kancut, luar biasa,, :D

    ReplyDelete
  7. ngumumin CD punay siapa?
    yaelah itu kurang kerjaan kyknya (_ _")

    dari semua itu kyknya masalah paling besar adalah soal sop dan ukuran pancinya, ditambah lagi perjalanan ke atasnya, wakwakwakk
    bener2 grup yg keren ..

    ReplyDelete
  8. Keven, saya pernah ke puntang..

    dan disana, ada kenangan manis yang engga akan saya lupaaa...

    terimakasih ya, sudah mengingatkan saya tentang Puntang!!

    ReplyDelete
  9. gunung puntang?
    dimana tuh?
    Gua dari berojol sampe segede bagong gini tinggal di sukabumi baru denger D:

    sukabumi nya kota sukabumi kan? -,,,,-

    ReplyDelete
  10. huahhh seru sekaliii~ trus itu gambar celdam punya siapa yang di pajang ?! punya Keven kah ? wakakaka~

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. absen,, salam kenal,, nahloh,, itu bawa panci sambil nanjak,, wow, klo gue gakk,,gak,,gakuuuaattttt O_O
    mampir2 juga ya ke http://www.tirtadarmantio.com/

    ReplyDelete
  13. Ahmad : hanya di pramuka

    Enny : biasa, anak2 ABG, pengen cari gaya

    Shinn : tragis ya?

    Nuel : waktu itu gua masih kurus ;p

    Fitri : curug Siliwangi

    Feby : itu gambar cuma illustrasi

    Ladida : yg penting seru!

    Meilya : u'r welcome! orang bandung juga?

    Lain : sori lokasinya gua ralat, bukan di sukabumi...

    Pitshu : punya Brad Pitt

    Tirta : salam kenal

    ReplyDelete
  14. wkwkwkwkkk..lutu abiss
    ampe diliatin ama tmn kntor dr kubikel sebelah neh gr2 ngakak2 sndiri:D

    ReplyDelete
  15. udah tumpah di masukin lagi ke panci? OH GOD -____-"

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe