First Love ~ The Two Alices

00:46:00


Buat yg belom pernah baca cerita2 sebelumnya, gua sarankan baca dulu deh, supaya ngerti ceritanya
Part 1 - Traces of Distant Days
Part 2 - When There Was You And Me
Part 3 - Unspoken Emotions
Part 4 - My Days Without You
Part 5 - And Then I Found You

"Alice? Ini aku, Keven, do you remember me?" kalimat itulah yg pertama gua ketik setelah friends request gua diapprove olehnya.

"Alice? Namaku Alicia, bukan Alice..."

Gua kecewa banget saat mengetahui gua salah orang. Padahal gua pikir udah bener. Nama yg mirip, bisa Bhs Indonesia, dan tinggal di Sydney. Namun yg gua tidak tahu saat itu, pertemuan gua dan Cia (panggilan gua untuk dia, untuk membedakan dia dari Alice) yg tanpa disengaja itu, akan membawa perubahan besar dalam hidup gua, untuk selama2nya.

---

Berawal dari sebuah perjumpaan yg tidak disengaja, gua dan Cia malah jadi sering menyapa satu sama lain di ICQ, dan lambat laun, kita pun jadi akrab.

Cia punya nasib yg tidak jauh berbeda dengan Alice. Akibat kerusuhan di Indonesia, pada awal tahun 1998, ia pindah ke Sydney bersama adik perempuannya, sementara kedua orang tuanya masih berada di Jakarta. Namun karena sedari kecil ia besar di lingkungan gereja berbahasa Inggris, bahasa Inggrisnya sudah sangat fasih jika dibandingkan dengan anak2 sebayanya.

"So, tell me about this 'Alice'" kata Cia, suatu hari. "Do you love her?"
"She is my first love, of course, I love her very much!" jawab gua. Jawaban yg sangat klise, kalo gua pikir2 hari ini.
"Apakah kamu akan tetap mencintai dia, walaupun nanti saat kalian bertemu, dia sudah berubah jauh?" tanya Cia lagi.
"Tentu! I love her, and nothing will change that!" jawab gua lagi.

Cia terdiam, dan kemudian dia bilang ke gua sebuah kalimat... Kalimat yg hingga hari ini masih terpatri dengan jelas di otak gua.

"I love you, is a very heavy word..." jawab Cia. "When you said that you love someone, you are making a promise. A promise, of a lifetime. Make sure you remember that!"

Gua terhenyak. Selama ini dengan begitu mudahnya gua mengumbar kata "suka", "sayang", dan "cinta" Tapi kata2 Cia saat itu, benar2 membekas di hati gua.

Saat kita berkata bahwa kita mencintai seseorang, itu sama saja artinya dengan kita berjanji untuk terus mencintai orang itu seumur hidup, tak peduli apapun yg terjadi. Karena cinta sejati kekal adanya. Tak lekang oleh waktu, tak punah oleh jarak, tak sirna oleh perubahan. Mampukah kita tetap mencintai seseorang, walaupun orang itu sudah berubah dan bukan menjadi milik kita lagi? Hari itu, prinsip gua tentang cinta pun terbentuk, dan hingga hari ini, masih gua pegang teguh.


Gua ga habis pikir, darimana Cia mempunyai begitu banyak pengetahuan dan kebijaksanaan mengenai yg namanya cinta, padahal dia hanya 1 tahun lebih tua dari gua. Tapi perlahan2, semakin banyak gua ngobrol dengan Cia, semakin gua menyadari bahwa selama ini gua begitu naif. Gua mencintai Alice dengan keegoisan gua, tanpa memikirkan perasaan dia.

Di hari2 terakhir kita bersama, Alice memilih untuk menghindari gua, mungkin salah satunya adalah demi gua juga. Dia sayang ma gua, gua tau itu, dan tentu dia juga ga akan seneng kalo melihat keadaan gua 2 tahun silam yg dirundung oleh obsesi buta akan masa lalu. Yup, selama 2 tahun ini, gua terlalu sibuk memandang ke belakang. Padahal jika memang suatu hari gua dan Alice ditakdirkan untuk bertemu, pertemuan itu hanya akan terjadi di masa depan. Betapa bodohnya gua.

Gua inget saat itu adalah New Year Eve tahun 1999. Detik2 menuju milenium baru, gua sibuk di depan komputer bersama Cia. Di Sydney, tahun 2000 telah tiba, karena waktu di sana 4 jam lebih cepat daripada di Indonesia, namun Cia dengan sabar menemani gua melewati detik2 terakhir gua di tahun 1999.
"If Alice is here, right now, what do you think she would say to me?" tanya gua pada Cia. Pertanyaan aneh.
"Well, I think she wants you to 'move on', Keven! Be a better man! If really do love her, make her proud..."

Jawaban Cia bikin gua terdiam. Apakah benar Alice ingin gua untuk move on? Apakah benar kalo gua move on sambil tetap berharap untuk bertemu dia suatu hari nanti? Apakah benar, bahwa gua bisa buktiin cinta gua dengan bikin dia bangga?

"Moving on is simple, Keven. It's what you left behind that makes it difficult. Alice yg kamu pikirkan itu, hanyalah image kamu tentang dia. Alice yg dulu kamu kenal, Alice yg dulu kamu sayang. 2 tahun berlalu dan aku yakin, Alice sudah move on dan punya kehidupan baru di sini. Tapi sementara itu, kamu masih terus menyeret2 dia sebagai beban di dalam hidup kamu.

Di hari2 yg kamu habiskan untuk memimpikan dia, di sana lah mulai timbul suatu rasa yg lain dari cinta. Keinginan untuk memiliki. Rasa posesif. Itu bukan cinta, Keven. Itu obsesi. Itu perasaan yg timbul dari keegoisan kamu semata, ketidakdewasaan kamu, yg menolak untuk grow up dan move on!"

Gua lumayan kesel denger omongan Cia, tapi entah kenapa, gua ga bisa membantah. Yg dia omongin tuh bener. 2 tahun ini, gua bagaikan hidup di dalam mimpi. Mimpi yg gua paksa untuk terus berlanjut, kendati mimpi itu sebenarnya telah berakhir. Gua udah bangun dari tidur, tapi gua menolak untuk bangkit. What am I doing?

"The hardest part of dreaming about someone you love is having to wake up. Aku tau itu tidak gampang, Keven, tapi kalo kamu begini terus, kamu ga akan punya masa depan. It gets you nowhere. Kamu baru 12 tahun, hidup kamu masih panjang. Kamu akan mengalami banyak hal, bertemu banyak orang...dan jatuh cinta... Alice juga sama, biarkan dia jalanin hidup dia tanpa rasa bersalah..."

Kata2 Cia itu...bagaikan seolah2 Alice sendiri yg mengatakannya ke gua. Yeah, kalo Alice ada di sini, dia pasti bilang begitu. "Kenapa sih kamu nyiksa aku terus?" Kata2 terakhir yg gua denger dari Alice, dan ekspresi muka dia saat itu, kembali terbayang di benak gua. Alice memang paling manis kalo lagi tersenyum, dan I want her to stay that way, forever...walopun bukan gua yg ada di sisi dia dan bikin dia tersenyum.


Lamunan gua terpecah oleh suara kembang api di langit. Tahun 2000 telah tiba. Yeah, gua rasa, bukan suatu hal yg buruk untuk memulai milenium baru dengan semangat baru, resolusi baru, dan lembaran hidup yg baru...

"Happy New Year Keven!" seru Cia.
"Happy New Year Cia!" balas gua, disertai emoticon *toast*

Dan sekilas di otak gua terlintas bayangan Alice. Di suatu tempat di bumi ini, pada saat ini, Alice juga pasti sedang bersukacita merayakan tahun baru. Gua melihat ke jendela, memandang langit yg penuh dengan bintang dari jendela tingkat 4 rumah gua.


Happy New Year, Alice. Someday, somehow, somewhere, Im sure we will meet again underneath this starry sky. Until that day, I will do my best to hang on. Goodbye...

To be continued...
PART 7

You Might Also Like

23 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Hah msh bersambung lg?
    Tp seru n bikin penasaran kisahnya

    ReplyDelete
  2. udah diduga, pasti bakal bersambung!

    cia dewasa banget ya, suka banget deh sama karakternya. omongan dia dalem banget. tepat di kalimat "When you said that you love someone, you are making a promise. A promise, of a lifetime. Make sure you remember that!"

    ReplyDelete
  3. Aku kira adegan move on ini akan jadi ending kisah kalian, ternyata masih ada lagi toh -.-"

    Kayak baca komik seri nih :D

    ReplyDelete
  4. asik masih ada lanjutannya.
    kirain di acara move on udah ending, trnyata "bersambung" wkwk :D

    ReplyDelete
  5. Tarry : makasih, tongkrongin terus ya

    Anindita : yeah, sampe hari ini, kata2 itulah yg terus gua pegang

    Amanda & Dika : endingnya ga sesederhana itu kok, after all, this is life, bukan sinetron ;p

    dijamin seru deh, tongkrongin terus!!!

    ReplyDelete
  6. wah Cia keren ya..
    berawal dari ketidak sengajaan malah dpt temen yang asik ky Cia,whahhahh..
    gebet aja bang :D

    ReplyDelete
  7. dibikin novel aja Vin.. pasti seru tuh.. :D

    ReplyDelete
  8. Aih, bersambung lagi, bikin penasaran aja dah lo bang, jangan lama2 dibuat lanjutannya. kenapa kisah ini gak lo jadiin buku bang, mantap nih ceritanya serius.. :)

    ReplyDelete
  9. oh my what a nice story :) jadi pengen kenal sama Kak Cia, bijak sama dewasa banget ya :)
    suka sama post ini, banyak kata-kata bijaknya :)
    masih berhubungan gg tuh sama kak Cia-nya ? ups nunggu episode selanjutnya ya :D

    ReplyDelete
  10. waduh...bisa bisa jadi novel ini nanti mz...disatuin dijadiin kaya antologi gitu aja mas...keren dah

    ReplyDelete
  11. jarang2 lho ada cowok bisa sedemikian rupa mencintai seorang cewek..hmm...mungkin karena kamu belum menemukan someone yg bener2 pas aja. mungkin suatu hari kelak, kamu bisa bener2 lupain Alice.

    ReplyDelete
  12. alicia n cia, wow...sepertinya akan datang satu lagi, ali

    ReplyDelete
  13. aaaaa bersambung lagi. penasaran ama endingnyaaa.
    sosweet banget kaak XD

    ReplyDelete
  14. Aaaaaaargh! Terusiiiin!!!

    ReplyDelete
  15. Teteeeppp... Just one word, lanjutkan !!!

    ReplyDelete
  16. Nyla : hahaha, tunggu aja lanjutannya ya

    Dhenok : sedang dipikirkan

    Feby : gua share dulu di blog, kalo reaksinya bagus, baru gua pertimbangkan jadi buku

    Fiction : pertanyaan lu akan terjawab di episode berikutnya

    Vhey : dipikirkan deh

    Fanny : kayaknya gua memang agak berbeda dengan cowo2 laen, gara2 ajaran mama gua dari kecil

    Eko : berarti gua berhasil

    Avip : cia tuh panggilan dari Alicia

    Fathiya : tenang, udah mau tamat kok...bentar lagi

    Tukang colong : karena dia agen rahasia amerika? hahaha

    Inez & Mj : sabar ya

    ReplyDelete
  17. gw selalu baca postingan2nya lu. dan ini sebetulnya udah gw baca sih, cuman baru dari hape. serius bagus bagus. so sweet. dan gw suka kata2nya Cia yang ini --> "When you said that you love someone, you are making a promise. A promise, of a lifetime. Make sure you remember that!"

    saking sukanya, gw kopas dan gw tweet ke twiter gw. Kereeen... dan gw pun langsung inget sama kisah cintanya gw yang hanya bisa jatuh cinta diam-diam.:(

    ReplyDelete
  18. Nuel : next time, you can do better ;p
    tiap orang punya kisahnya masing2, dan kisah lu suatu hari nanti juga gua yakin ga akan kalah sama cerita gua, hehehe

    ReplyDelete
  19. Makin penasaran. :/
    Btw, Alicia itu dewasa ya untuk seorang gadis 13 tahun. Kata-kata yang diucapkannya adalah quote.

    ReplyDelete
  20. ini percakapan anak SMP ya?! ckckck...

    gw SMP masih ngomonin boyband...

    hahaha...

    you guys grow up so fast

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe