Mengajari, Bukan Membatasi

18:08:00



Terinspirasi dari postnya Nuel tentang 10 Cerita Yang Tak Boleh Didengar Anak-Anak

Cerita2 yg Nuel sebutin di sana adalah cerita2 yg jadi dongeng pengantar tidur gua di waktu kecil. Waktu umur 2-5 tahun tuh gua hiperaktif banget dan gua tuh paling susah kalo disuruh tidur. Satu2nya cara bikin gua tidur adalah dengan membacakan gua sebuah cerita. Dan gua tuh berbeda dengan anak2 pada umumnya, di mana gua punya ingatan yg kuat dan gua selalu pengen denger cerita yg baru, bukan sekedar pengulangan cerita yg udah pernah gua denger.

Karena itulah, Mama gua harus banyak baca buku cerita, supaya tiap malem bisa bacain gua cerita pengantar tidur yg berbeda. Gua inget dulu gua pernah liat di gudang, mama gua punya sekitar 15 buku dongeng setebel kamus dan puluhan buku2 dongeng tipis yg isinya dongeng dari barat, timur, maupun lokal. Karena itu, temen2 ngerti kan darimana bakat storytelling gua dalam menulis blog itu muncul? Pada waktu usia gua baru 2 tahun, gua udah bisa nyeritain dongeng2 anak populer macem Snow White, Sangkuriang, Si Kancil, Sungokong, dll dengan lancar. Dan umur 3 tahun, gua udah bisa baca tulis, lancar.

Dan yeah, waktu gua umur 3 tahun, gua mulai menyadari bahwa dongeng2 yg gua denger tuh isinya banyak yg kontroversial. Tapi apakah hal itu lantas membuat pikiran gua jadi ikut sesat? Nope. Karena mama gua setiap kali beres menceritakan suatu cerita, dia selalu menceritakan moral di balik cerita2 tersebut. Jadi cerita2 tersebut tidak selalu menyesatkan pikiran anak2. Itu pemikiran yg terlalu sempit dan picik kalo kata gua. Cerita2 dongeng tersebut, di sisi lain, dapat dimanfaatkan untuk mengajari anak kita tentang manis-pahitnya realita di dunia, seperti yg mama gua lakukan.

Gua udah tau apa yg namanya incest sejak umur 3 tahun, dan bahwa hal itu SALAH. Gua belajar untuk ga sembarangan makan makanan pemberian orang tak dikenal gara2 belajar dari Snow White. Gua tau bahwa mencuri itu buruk gara2 cerita si Kancil. Dan gua selalu berusaha bikin orang tua bangga, karena gua ga mau dianggap durhaka dan jadi batu kayak Malin Kundang.


Bukan bermaksud menyalahkan pendapat Nuel ya, justru gua berterima kasih ma dia, karena berkat post dia lah, gua jadi dapet inspirasi untuk nulis tentang hal ini. Lewat tulisan gua ini, gua cuma mengemukakan pendapat aja bahwa ga semua hal di dunia ini buruk, tergantung dari sudut pandang mana kita memandangnya. Dunia ini ga selalu hitam-putih kawan, ada baiknya sesekali kita mencoba berpikir di area abu2.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yg sangat menghargai yg namanya tradisi dan budaya, namun ironisnya, cara berpikirnya kadang masih terlalu kuno dan konservatif. Misalnya, ada suatu paham yg salah yg beredar di masyarakat Indonesia di mana orang tua lebih cenderung "membatasi" pengetahuan anak, daripada "mengajari" sang anak.

Contoh paling nyata? Ketika seorang anak bertanya sama mamanya,
"Ma, aku lahir dari mana?"
Sang orang tua pasti akan kelabakan dan kemudian berusaha mengelak
"Dari perut Mama"
"Dikirim Tuhan"
atau sampe jawaban yg paling absurd dan paling sering gua denger
"Kamu masih kecil, nanti aja kalo udah gede baru Mama kasih tau"

Anak jaman sekarang lebih kritis, percaya atau tidak. Anak jaman dulu mungkin akan manggut2 saja mendengar jawaban tersebut, tapi hal itu tidak berlaku dengan anak jaman sekarang. Mereka bisa dengan mudah mengakses informasi yg salah lewat teman, majalah, atau Internet. Dan hal itulah yg seringkali menyebabkan kebobrokan moral dalam masyarakat. Penyimpangan perilaku seksual dan kasus2 pemerkosaan yg kita baca di surat kabar setiap hari itulah salah satu bukti nyatanya.

Anak jaman dulu mungkin dapat ditakut-takuti oleh yg namanya takhayul. Ga boleh keluar rumah setelah Maghrib atau nanti diculik genderuwo, dan mereka akan nurut. Anak jaman sekarang mungkin akan pura2 nurut, kemudian mereka akan googling ato nanya temen, genderuwo itu siapa sih? Kenapa dia ingin menculik saya apabila saya keluar rumah setelah maghrib?

Gua sering geleng2 kepala sendiri saat membaca artikel2 di koran yg isinya adalah "men-TABU-kan" suatu hal dengan alasan agama atau pendidikan. Film Harry Potter mengandung ajaran setan. Film Naruto mengandung adegan kekerasan. Film Smackdown harus dilarang karena dapat mencelakakan anak. Lah, terus kenapa sinetron masih boleh tayang? Sinetron ngajarin perselingkuhan dan kekerasan juga lho. Bahkan sinetron di mana Kyai terbang2 ala Superman dan adu kamehameha sama Kuntilanak yg sering gua liat di Bulan Puasa pun mengajarkan kekerasan sebenernya. Terus kenapa cuma Smackdown dan Naruto yg disalahin? Sejujurnya, menurut gua, semua kecelakaan2 mengenaskan yg berhubungan dengan film2 tersebut adalah bukti kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya.


Kalian mikir ga, kenapa di Amrik sono film Smackdown bisa tayang dengan bebasnya, malah orang tua ngajak anaknya nonton Smackdown sama kayak orang tua Indonesia ngajak anaknya nonton Konser Dangdut? Karena orang tua di Amrik, meluangkan waktu mereka untuk menjelaskan kepada anak2 mereka mana hal yg baik dan mana hal yg tak pantas ditiru. Mereka ga ngelarang anaknya nonton Smackdown, malah mereka mendampingi anak mereka saat nonton. Bukankah itu tugas orang tua?

Di Hong Kong majalah2 porno bertebaran dengan bebasnya di etalase2 toko, tapi di sana kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual tidak separah yg terjadi di Indonesia. Kenapa bisa begitu? Karena di sana, masalah seks bukanlah hal yg tabu. Anak2 bisa bebas bicara dan bertanya kepada orang tuanya mengenai seks. Sementara anak2 di Indonesia, seringkali orang tua mengelak atau malah memarahi anaknya saat sang anak bertanya tentang seks dan hal itu malah menyebabkan sang anak makin penasaran dan akhirnya mencari informasi lewat cara yg salah.

Di era globalisasi ini, informasi sangatlah mudah diakses lewat berbagai macam media. Orang tua juga tidak dapat terus hadir di sisi sang anak 24 jam untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk. Lantas apa yg harus orang tua lakukan untuk mencegah anak2nya terbawa pengaruh yg buruk? Ajarilah mereka membedakan mana yg baik dan mana yg buruk. Ajarlah mereka untuk berpikir matang2 sebelum mengambil keputusan. Ajarlah mereka untuk menghargai diri sendiri dan masa depan mereka.

Bagaimana pun juga, suatu hari kelak anak2 kita akan dewasa dan terjun ke masyarakat. Saat itulah, mereka pasti akan berhadapan dengan banyak hal mulai dari seks, obat2 terlarang, persaingan tidak sehat, dll. Saat itulah, kita sebagai orang tua pasti berharap anak2 kita dapat memilih, memilih untuk melakukan yg baik dan menghindari yg buruk, memilih suatu pilihan yg dapat mereka pertanggung jawabkan secara moral, dan menjalani konsekuensi dari pilihan tersebut.

Gua harap artikel sederhana ini bisa jadi bahan renungan untuk kita, orang tua maupun calon2 orang tua di masa yg akan datang. Bijaksanalah dalam mendidik, karena anak2 kita tidaklah bodoh. Mereka untuk tahu dan mereka berhak untuk mengerti...


Doa Ayah



Tuhanku bentuklah puteraku menjadi
Seorang yang cukup kuat untuk menyadari kelemahan dirinya
Berani menghadapi manakala ia takut
Yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan yang tulus

Oh, Tuhan jadikanlah puteraku
Seorang yang tahu akan adanya Engkau
Dan mengenal dirinya sendiri sebagai dasar segala pengetahuan

Ya, Tuhan bimbinglah ia
Bukan di jalan yang mudah dan lemah
Tetapi di jalan yang penuh tempaan, tantangan dan kesulitan
Ajarilah ia
Agar puteraku sanggup berdiri teguh di tengah badai
Dan berbelah kasih kepada mereka yang jatuh

Ya, Tuhan jadikanlah puteraku
Seorang yang berhati suci dan bercita-cita luhur
Sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain
Mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu

Sesudah semuanya membentuk dirinya
Aku mohon Ya, Tuhan
Rahmatilah ia dengan rasa humor
Agar ia dapat bersungguh-sungguh tanpa menganggap dirinya terlalu serius
Berikanlah kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan kesabaran

Ini semua Ya, Tuhan
Anugrah dari kekuatan dan keagungan-Mu
Setelah semuanya tercapai Ya, Tuhan
Berani lah aku berkata :
“TAK SIA-SIA AKU HIDUP SEBAGAI AYAHNYA “

(Douglas McArthur)

You Might Also Like

19 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. hmm... bener nih om. kayak di tv itu kan suka ada tanda "bimbingan orang tua" tapi kenyataannya orang tua gak membimbing anaknya nonton.

    dan orang tua aku juga suka gitu kalo di tanya sesuatu (waktu aku masih SD) pasti jawabnya "nanti aja kamu mash kecil, gak akan ngerti"

    ReplyDelete
  2. Ngomong2 soal orang tua. Fridi enggak suka banget kalau Fridi lagi ngomong bener, bukan mengajari ke orang tua, cuma ngomong nasihat.
    Eh ortu malah balas
    "masih kecil sok ngajari orang tua"
    Please!! kalau Fridi ngomong jangan lihat orang yg ngomong, tapi lihat omongannya!!
    Walau penjahat ngomong 1 + 1 = 2 , itu bener, status "penjahat"nya tidak membuat omongannya jadi salah.
    Haduh kenapa Fridi heboh sendiri?! hahha :D

    ReplyDelete
  3. ada baiknya sbg org tua harusnya memberi tahu lebih dulu sebelum anak itu melemparkan pertanyaan. Dampingi anak dengan menjelaskan ttg apa yang mereka lihat terutama di televisi.

    ReplyDelete
  4. Setuju-setuju. :)

    Yah, pada akhirnya kembali ke orangtuanya. Orangtua harus mengajari pesan-pesan dari cerita tersebut kepada sangat anak.

    Btw, kalo nggak ada hal jelek dari sebuah cerita, gimana mau bikin konfliknya? -______-

    ReplyDelete
  5. iya ya, anak kecil tuh ingatannya kuat banget sebenernya, jadi ya kalau mengajarkan sesuatu emang jangan setengah2 daripada dia ingetnya setengah atau mencari informasi lebih lengkap via cara yang salah.
    Sya pernah ngejelasin tentang menstruasi ke adik yang baru berumur 7 tahun, beberapa bulan kemudian dia ngulang cerita sy, sy-nya mah udah lupa pernah nerangin.

    di Indonesia justru sinetron yang stripping-an itu yang wajib diwaspadai, orangtua keukeuh nonton pas waktu belajar anak, padahal sinetron lebih banyak negatifnya deh dibanding Naruto yang mengajarkan semangat perjuangan, keberanian dll.

    #eh panjang ya :P

    ReplyDelete
  6. wah utk cowok seumur kamu, tulisan ini sungguh dewasa. seolah2 kamu udah umur 30 an. serius lho.

    ReplyDelete
  7. postinganmu ini mengingatkanku pada salah satu postingan si Rawins yang bercerita tentang mencegah anak sekolah buat mengakses situs porno.

    menurut Om Rawins, mending dibuka sekalian dan anak2 itu dikasi tahu alias diajari.

    #kalau gak salah ingat yah, aku liat di blog dia dulu :P

    ReplyDelete
  8. keren..
    semua anak itu berhak diajari mana hal yang baik, dan mana yang buruk. bukan dilarang-larang.
    suatu saat nanti, mereka juga pasti akan tahu.. jadi, tidak salah kan jika anak tahu pengetahuan itu lebih dini..

    oh ya.. jujur, saya baru kenal kata 'incest' dan baru tahu 'incest' itu apa barusan .-.

    ReplyDelete
  9. wahhh,,pembelajaran bgs bwt para calon orang tua nih...tp jujur sja,ak sndri gak prnh dijelaskan scra lgsg oleh ortu ttg hal2 yg berbau seks dkk...yah,,cr tw sndri aj hehehe...

    ReplyDelete
  10. Emang anak zaman skrg rasa penasarannya tinggi banget dan daya tangkap mereka lebih cepat. Mungkin itu disebabkan oleh asupan gizi mereka.. :D

    ReplyDelete
  11. your post reminds me a lot of a Singaporean movie: I not stupid too

    udah pernah nonton? :>

    ReplyDelete
  12. Wah.. mas keven kali ini tulisannya mirip orang tua lagi ceramah #eh tapi aku setuju mas ^_^

    ReplyDelete
  13. waktu masih kanak kanak dulu teman saya pernah ada yg tanya tentang seks sama ortunya,malah diomelin,memang ya ortu jaman sekarang kurang bisa mendidik anak!Mereka cuma ngasih materi biar anaknya seneng,materi jg penting tetapi ajaran kebaikan dari orgtua lebih penting ! Nggak heran lah ya semakin bnyak saja kasus MBA di kalangan pelajar indonesia!

    ReplyDelete
  14. ini udah cukup ven buat ngejelasin pertanyaan gue yang soal ciuman itu. hehehe... gue malah berterimakasih baget lu udah mau bikin postingan ini. :D

    iya sih, mending sekalian aja blak-blakan. semakin ditutup2in, anak biasanya jadi kepengen tau. contohnya gue. dulu gue inget waktu smp, pertama kalinya gue tau yang namanya entot dan kontol (*maaf). itu dari teman loh gue taunya. Gue mau nanya ortu, tapi takut gue dimarahin. alhasil gue cari tau sendiri aja. ada kamus. hahaha...

    that's why, gue benci banget sama tipikal orang indonesia yang selalu nyalahin orang laen karna anaknya begini begitu. padahal kalo kita tanya balik ke mereka, mereka bisa gak didik anak mereka dengan baik. mereka ada enggak saat anak2 itu nonton atau main.

    kadang gue juga kesel juga ven kalo ada ibu2 marahin pengelola warnet gara2 anaknya lebih suka main di warnet ketimbang belajar. Lah yang ngasih uang saku kan mereka? larang dong. =,=

    ReplyDelete
  15. oke itu jadi komentar terpanjang gue di blog lu. hahaha... maaf kalo ada kata senonoh. anggaplah itu sex education. :P

    tapi sih walau dikasih tau kayak di amrik gitu, teteplah ada batasannya. :)

    ReplyDelete
  16. Tulisan utk perenungan yg bagus.

    ReplyDelete
  17. beberapa jam yg lalu baruuu aja bahas masalah yg sama dg seorang teman.

    yahh.. kalo dari 'pihak yang berkuasa' tidak bisa memulai untuk tidak men-tabu-kan sex, mungkin kita bisa mulai dari diri kita sendiri. untuk kedepannya :)

    ReplyDelete
  18. anak sekarang susah tuh dibatasi
    dilarang malah jadi nyolong nyolong
    makanya lebih tepat diimunisasi bukannya diisolasi..

    ReplyDelete
  19. kalo gitu kita nonton apa dong kak ? kalo pilem korea gimana kak ? kan selalu ada sisi romantisnya tuh .. biar kita jadi ikut romantis2 gitu .. hihihi

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe