Pak Manusun dan Saya (Part 1)

14:43:00

The mediocre teacher tells.  The good teacher explains.  The superior teacher demonstrates.  The great teacher inspires.  ~William Arthur Ward

Dari kecil, gua bercita2 ingin jadi seorang guru.

Waktu gua TK, gua sering denger Bu Guru di TK bercerita mengenai yg namanya Pahlawan. Bung Karno, Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman, dan masih banyak lagi. Dan sebagai seorang anak laki2 yg normal waktu itu, gua pun mulai terobsesi ingin jadi seorang pahlawan. Kesannya keren banget ya jadi pahlawan, dibikinin monumen, fotonya terpampang di setiap sekolah, dan kisah hidup kita diceritakan ulang turun temurun ke generasi selanjutnya, bahkan setelah kita tiada pun nama kita tetap harum dan dikenang.


Waktu gua masuk SD, konsep pahlawan gua mulai agak bergeser akibat pengaruh Ksatria Baja Hitam, Power Rangers, dan Ultraman. Menjadi pahlawan tampaknya tidak mudah, karena setiap minggu kita harus berperang dengan musuh, luka2, bahkan mati. Mengerikan, gua mulai meragukan keinginan gua untuk jadi pahlawan. Apa ga bisa kita jadi pahlawan tanpa harus babak belur?

Pertanyaan gua itu akhirnya terjawab ketika suatu kali gua denger cerita soal "Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Jadi waktu itu guru SD gua cerita soal Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang yg kena bom atom. Pada saat Kaisar Jepang pada saat itu meninjau ke lokasi, yg pertama ia tanyakan bukanlah "Berapa prajurit yg masih hidup?", tapi "Berapa orang guru yg selamat?". Hal itu terjadi karena sang Kaisar menganggap bahwa walopun saat itu Jepang kalah perang, tapi Jepang masih bisa bangkit lagi melalui generasi2 muda penerusnya...dan karena itu yg ia butuhkan adalah guru, bukan senjata perang atau prajurit.

Sejak itulah gua membulatkan tekad...oke, gua akan jadi seorang guru setelah gua besar nanti.

Dan ternyata Tuhan pun mengabulkan doa gua. Seiring gua bertambah besar, bakat utama gua yg paling berkembang adalah kemampuan persepsi, komprehensif, dan analogi yg baik di mana saat mendengarkan pelajaran di kelas gua bisa menangkap intinya dengan mudah, memahami hubungan antara satu hal dan hal lainnya secara komprehensif, dan kemudian merumuskannya secara sistematis, baik secara verbal maupun lisan.

Karena itulah catatan gua selama sekolah kebanyakan lebih berupa sebuah "mind-mapping" dan gua ga pernah kesulitan dalam pelajaran hafalan, karena gua ga pernah menghafal, melainkan memahami intinya. Gua juga selalu dapat nilai tinggi dalam ujian berbentuk essay karena selama gua memahami inti suatu topik, gua bisa menjabarkannya dengan kata2 gua sendiri secara sistematis dan menarik.
Bukan sombong lho, tapi hal itulah yg gua lakukan pada saat gua nulis blog.

Percaya ga percaya, dalam menulis sebuah artikel gua tidak pernah membutuhkan waktu lama. Post tentang FRIENDZONE kemarin misalnya, gua selesaikan dalam waktu sekitar 40 menit. 10 menit mikir, 10 menit nyari bahan, dan 20 menit kemudian nulis. Malah proses yg paling memakan waktu buat gua bukanlah menulis, tetapi proses berpikir sebelum menulis, di mana gua mencoba mencerna dan merangkai hal2 yg ingin gua tulis secara sistematis di dalam otak. Apabila gua telah berhasil melewati tahap itu, maka tulisan gua akan mengalir dengan bebas.

Kurang lebih penampakan catetan pelajaran gua yg berbentuk "Mind Mapping"

Oke, back to topic. Nah tapi seiring gua bertambah besar juga, gua makin ragu dengan cita2 gua untuk jadi seorang guru karena ternyata di Indonesia yg namanya guru tuh tidak dihargai. Gua sering ngobrol sama guru di SMA dan dosen di kampus, dan tidak jarang mereka mengeluhkan gaji mereka yg kecil (dan tidak memadai dibandingkan waktu dan tenaga yg mereka berikan).

Keadaan itu diperburuk karena kini beberapa institusi pun mempersulit kualifikasi seseorang untuk menjadi seorang guru, misalnya harus minimal S2 dan punya pengalaman mengajar sekian tahun. Dan mereka dilarang mempunyai proyek lain di luar sekolah/kampus, misalnya mengajar bimbingan belajar. Tapi ironisnya pembatasan2 itu tidak diikuti dengan peningkatan tunjangan dan subsidi kehidupan seorang guru. Bahkan tidak jarang seorang guru yg telah pensiun, masih tetap harus kerja keras banting tulang karena dana pensiunnya yg tidak kunjung turun akibat birokrasi.

Akhirnya waktu kelas 3 SMA pun gua memutuskan untuk banting setir, ganti haluan, jadi seorang designer grafis. Tapi meskipun begitu, hati gua belum sepenuhnya melupakan cita2 gua menjadi seorang guru. Hal itu terbukti dari kegiatan gua di luar kuliah yaitu membina Pramuka, jadi guru kursus, dan berbagi ilmu serta pengalaman lewat blog.

Namun ternyata takdir punya rencana lain untuk gua. Januari 2012 kemarin gua mengambil Semester Pendek (SP)  di kampus. Semester Pendek tuh suatu program di mana kita kuliah setiap hari, Senin-Jumat, selama liburan. Jadi total 15 pertemuan kuliah yg biasa ditempuh dalam waktu 4-5 bulan, kini dipadatkan menjadi hanya 3 minggu. Biasanya SP ini untuk pelajaran2 yg bersifat teori. Gua ngambil SP tujuannya supaya gua bisa beresin sisa 3 mata kuliah teori yg belum gua ambil sehingga di semester reguler nanti gua bisa fokus cuma pada satu mata kuliah saja yaitu Tugas Akhir (Skripsi)

Salah satu mata kuliah yg gua ambil di SP ini adalah mata kuliah Fenomenologi Agama, dan di kelas inilah gua bertemu dengan Pak Manusun...sebuah pertemuan tak terduga yg akan mengubah gua untuk selama2nya...

The dream begins with a teacher who believes in you, who tugs and pushes and leads you to the next plateau, sometimes poking you with a sharp stick called "truth."  ~Dan Rather

(TO BE CONTINUED...)

You Might Also Like

15 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. padahal Pak Manusun baru disebut, eeh udah to be continued. hho
    diantos deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya ini bagian pengantar yg penting, sebelum kita masuk ke inti cerita, hehehe

      Delete
  2. lah loh, ini temanya kok ada diakhir gak dijelasin pulaa
    lanjutkaaaaaaaaaaaan

    ReplyDelete
  3. ditunggu kelanjutannya ceritanya dengan pak Manusun.
    Jika ingin sukses pikiran dah hati percaya bahwa kita berhasil mencapai impian kita.

    ReplyDelete
  4. waaaw merubah keven menjadi seperti apa yaaaaa?

    ReplyDelete
  5. Loh bukannya jadi guru itu gak enak ya...?
    Harus ngadepin murid2 yang nakalnya parah banget (~_~
    Nanti malah stroke lagi (~_~

    ReplyDelete
  6. kalau di luar negeri guru dapat apresiasi tertinggi ya.. bukan hanya jepang, amerika pun juga begitu, gajinya besar pula.. sayang ya Indonesia belum bisa menghargai mereka..

    cerita selanjutnya ttg Pak Manusun ya.. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di Indonesia belu menghargai sang Guru.. Gajih mereka juga kecil, sehingga untuk mencukupi kebutuhannya, mereka menjalani pekerjaan tambahan seprti les private..

      Delete
  7. tidak disangka ternyata ksatria baja hitam dan power rangers membuat pandanganmu tentang pahlawan jadi mengerikan. bukannya kebanyakan anak-anak malah menganggap pahlawan itu keren setelah nonton satria baja hitam dan power rangers ? kan mereka bisa berubah, punya senjata, punya robot yang super gede pula :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau Keven bertemu pak Manusun, Kwee Ceng bertemu Ang Cit Kong.

      Delete
  8. Yah pak Manusun baru muncul..
    eh..bersambung,.
    di tunggu kelanjutannya *penasaran sama Mr Manusun*

    Beneran loh,Guru pahlawan tanpa tanda jasa,harusnya gajinya paling gede ya,

    ReplyDelete
  9. lho...
    kok nge gantung ceritanyah?

    Gue setuju banget sama konsep memahami esensi nya dari pada konsep hapalan...
    menurut gue hapalan itu sifatnya mematikan karena kita bisa lupa setiap saat... beda dengan memahami secara komprehensif...

    Jujur gue mengalami dilema ini waktu mau masukin anak gue ke SD...rada skeptis dengan cara pengajaran guru yang sifatnya hapalan... dan system penilaian multiple choice/pilihan ganda...

    Akhirnya Kayla gue masukin ke full day school dengan system pengajaran tematis...anak dididik untuk mengamati...meng observasi...kemudian memprosesnya dalam otak...lalu belajar mengambil kesimpulan ...dan mengeluarkan pendapat dengan cara mem presentasikan hal yang tadi di amatinya di depan kelas...atau mendeskripsikan nya dalam bentuk tulisan...

    So far sih gue puas...mudah mudahan sih gak salah ambil keputusan ya...ehm cuman ya gitu deh...spp nya bikin gue pengen pingsan gitu...hihihi....tapi worth it lah...

    ops...sori kepanjangan :)

    ReplyDelete
  10. kita ada kesamaan rupanya ven... gue juga kalo belajar juga suka bikin mindmap dulu ven... juga suka bikin ringkasan nya dulu, tapi bukan buat contekan... biar cepet masuk ke otak aja materinya. :)

    ReplyDelete
  11. jadi ingat papa, itu cerita favoritnya dia soal hiroshima dan nagasaki :)
    #papa saya guru soalnya,ehehe

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe