Pak Manusun dan Saya (Part 2)

20:52:00

 The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house of his wisdom but rather leads you to the threshold of your mind.  
~Kahlil Gibran~

(Lanjutan dari Part 1)

Pertama kali gua liat jadwal SP (Semester Pendek) gua, gua langsung lemes...kurang lebih gini jadwalnya :

Senin-Jumat
Fenomenologi Agama : 07.00 - 08.40
Pendidikan Kewarganegaraan : 09.30 - 11.10
Pendidikan Pancasila : 13.00 - 14.40

Edan, 3 pelajaran membosankan dalam satu hari, hari Senin sampe Jumat, dan yg paling PARAH adalah kuliah tentang agama di jam 7 pagi!!!


Oke, gua akui gua memang bukan orang yg sangat religius, dengerin khotbah di gereja aja kadang gua ketiduran, apalagi ini harus dengerin kuliah tentang agama 5 hari seminggu dan jam 7 pagi pula!!!

FYI, semenjak masuk desain, jam hidup gua jadi agak kacau. Gua biasa baru tidur sekitar jam 2 dan bangun sekitar jam 8. Lah ini kuliah jam 7, gua harus bangun paling lambat jam 5, karena harus berangkat dari rumah jam 6 kalo ga mau kena macet orang masuk kantor (rush hour).

Yah, setidaknya itu yg gua pikirkan...tapi ternyata gua salah

Hari pertama SP, gua bangun dengan bersungut2 jam 5 pagi. Brrrr...dingin banget. Sambil ogah2an gua mandi air dingin (karena di rumah gua ga ada air hangat), dan memacu motor gua menembus dinginnya udara Bandung. Gua sampe kampus jam 7 kurang dan kemudian duduk bengong di depan kelas. Gua liat anak2 yg sekelas ma gua tuh anak2 angkatan baru yg tidak satupun gua kenal. Keadaan seperti inilah yg sedikit memicu gua untuk cepet lulus, mengikuti jejak sahabat2 gua yg sekarang sudah mulai pada meniti karir.

Kurang lebih jam 7, seorang dosen cowo berjalan dengan tergopoh2 dan membuka pintu kelas. Gua pun masuk bersama anak2 laen dan duduk di barisan kiri agak depan, supaya gua bisa konsentrasi dan ga ketiduran di kelas. Gua liat dosen yg ngajar kelas Fenomenologi Agama ini, orangnya tinggi besar, berambut jarang malah cenderung agak botak, berkulit gelap dan dari logatnya gua nebak kalo dia ini keturunan Batak. Sang dosen terdiam memandangi kita tanpa berbicara, kemudian ia tersenyum, dan dengan berapi2 ia memulai introduksi kuliah.

"Teman2 semua, kenalkan nama saya Manusun Sinambela, selamat datang di kuliah Fenomenologi Agama...

Fenomenologi Agama adalah suatu disiplin ilmu hasil pengembangan dari filsafat fenomenologi yg mempelajari agama sebagai suatu fakta atau peristiwa yang dapat diamati secara objektif dengan menggunakan analisis deskriptif, termasuk pemahaman agama secara antropologi, sosiologi dan psikologi, hakekat dan pola hubungan antar agama, dan hubungan agama dengan hal atau institusi lain."

Huff, gila...rumit banget ya kelihatannya? Tapi ternyata tidak serumit yg kita duga. Selama satu jam kemudian, satu kelas pun hening, terpana. Dengan cara mengajarnya yg sistematis dan penuh semangat, Pak Manusun berhasil mencuri hati kami...

Hari2 berikutnya, kuliah Pak Manusun itulah yg memacu semangat gua untuk pergi ke kampus. Walopun cuma 3 pelajaran, tapi karena ketiganya adalah teori, makanya setiap harinya otak gua lumayan cape. Kalo bukan karena kelas Pak Manusun jam 7 pagi, mungkin gua bakal gunain jatah bolos gua sampe maksimal. Tapi gua ga pernah bolos...karena gua gak mau ketinggalan kuliah Pak Manusun.

Sebelum kita masuk ke suatu topik, Pak Manusun akan memulai dengan review singkat pelajaran sebelumnya, dan juga teori2 yg mendukung topik yg akan ia bahas. Ia menjabarkan dengan sistematis dan juga contoh2 nyata dalam kehidupan sehari2 supaya pelajaran fenomenologi yg sarat dengan filsafat ini dapat dicerna dengan mudah oleh para mahasiswa.

Walaupun topiknya berat, tapi kita tidak pernah merasa bosan atau ngantuk karena gaya mengajar Pak Manusun yg menyenangkan dan didukung dengan gestur tubuhnya yg selalu penuh semangat berapi2, meski ia sedang tidak sehat sekalipun. Ia juga menganggap mahasiswa sederajat dengan dirinya dengan cara ia memanggil mahasiswa dengan kata "teman2".

Ia juga selalu terbuka akan segala jenis pertanyaan dan ia juga akan berkata terus terang apabila ia tidak bisa menjawab suatu pertanyaan, sekaligus berjanji bahwa ia akan mencari jawabannya di rumah setelah pulang mengajar nanti. Cara Pak Manusun yg mengajar dengan jujur dan rendah hati itulah yg membedakan ia dengan dosen2 yg pada umumnya ingin selalu terlihat tahu segala dan selalu benar.

Namun yg menjadi ciri khas utama Pak Manusun dalam mengajar adalah...bagaimana ia mengajar dengan kasih. Ia tidak pelit ilmu, dan mau membagikan pengalaman hidupnya yg diselingi lewat materi2 yg ia ajarkan. Ia tidak segan untuk mengutarakan pendapatnya mengenai suatu masalah, disertai dengan kebijaksanaan yg menginspirasi. Kasarnya, denger kuliah Pak Manusun, kadang jauh lebih inspiratif dan instrospektif daripada dengerin khotbah di gereja.

Pak Manusun adalah orang yg sangat mencintai ilmu. Ia senang membaca berbagai buku sebagai referensinya dalam mengajar, ia sering tidur larut malam karena membaca minimal 150 halaman setiap harinya. Ia percaya bahwa untuk menjadi seseorang yg pintar sekaligus bijaksana, kita harus punya pemahaman yg komprehensif mengenai hidup ini, tidak boleh hanya dari sudut pandang tertentu saja. Bahkan soal2 ujian yg ia berikan pun lebih bersifat pemahaman daripada hafalan.

The best teacher is the one who suggests rather than dogmatizes, and inspires his listener with the wish to teach himself.  ~Edward Bulwer-Lytton~

Banyak sekali hal yg gua pelajari sepanjang gua kuliah dengan Pak Manusun, tapi terutama gua belajar lewat teladan sikapnya dalam mengajar. "Seorang guru harus melayani murid2nya", itu salah motto dia dalam mengajar, dan ia benar2 memegang ucapannya itu.

Sewaktu ujian akhir, ada beberapa mahasiswa (termasuk gua) yg namanya tidak tercantum di dalam daftar hadir ujian. Ia tidak menyuruh mahasiswa untuk menghadap tata usaha untuk membereskan daftar hadir, melainkan kita disuruh mengerjakan ujian terlebih dahulu, dan setelah ujian, ia sendiri yg akan menemui tata usaha untuk membereskan daftar hadir. Kita hanya tinggal menemui dia pada jam makan siang untuk susulan tanda tangan.

Setelah kuliah berakhir, kadang gua juga suka tinggal untuk mengobrol dengan Pak Manusun, dan gua seneng waktu denger dia sharing mengenai perjalanannya menjadi seorang pengajar. Memang jadi guru/dosen di Indonesia tuh penghasilannya tidak seberapa, tapi kecintaannya terhadap ilmu itulah yg membuat ia bertahan menjalani profesinya. Seorang guru yg baik bagaikan sebuah lilin yg menyala, ia tidak keberatan mengorbankan dirinya untuk mencerahkan kehidupan bangsa, kata Pak Manusun.

Gua ga tau apakah gua bakal ketemu Pak Manusun lagi atau ngga, karena dia bilang ke gua bahwa dia mempertimbangkan untuk berhenti mengajar di Bandung dan pindah ke Jakarta. Tapi semua pengalaman dan pelajaran hidup berharga yg telah ia berikan, akan terus hidup di hati gua. Dia menginspirasi untuk tidak pernah berhenti belajar, dan tidak pernah berhenti berusaha menggapai cita2 gua.

"Biarkanlah hidupmu bersinar, Mas Keven"
Kata2 terakhir Pak Manusun itu akan selalu jadi pelita yg menerangi perjalanan gua menyongsong masa depan...

Terima kasih, Pak Manusun...

A good teacher is like a candle - it consumes itself to light the way for others. 

You Might Also Like

10 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Waah Pak Manusun..
    Aku Padamu..

    Salut ya,min 150 halaman setiap harinya,Seorang guru harus melayani murid2nya..!!
    Andai semua guru berpikiran sama seperti Pa Manusun,..!!

    Ayo Keven masih smangat jadi Guru..?hhe..
    Smangat ..!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terharu liat cara ngajarnya pak manusun!!
      Smoga gw juga bisa gitu :)

      Delete
  2. Andai semua pengajar seperti pak Mansun yang menjadi dosen bukan untuk kebutuhan materi, tapi untuk kecintaannya terhadap ilmu. (y)

    ReplyDelete
  3. jarang ada guru / dosen kayak gitu. sayang sekali dia harus pindah dari Bandung ke Jakarta

    ReplyDelete
  4. kayaknya aku naksir sama Pak Manusun deh -.-
    kereeen, Kak!

    ReplyDelete
  5. Beh, mengajar dengan kasih. Jangan2 ini mahasiswa cowoknya rambutnya dibelai-belai lagi.. hehe.. Enak ye bang ada SP, di unikom mah kagak ada, sialan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan bawa fantasi binalmu ke sini, Feb...hahaha

      Delete
  6. wahh enak banget tuh kalau ada guru seperti itu, apalagi yak bang, kalau budaya guru indonesia seperti itu, wiihh mau....

    ReplyDelete
  7. gila, saya jadi kangen bangku kuliah -,-"

    eh tapi bagian terakhir postingan, ingetin saya dengan kalimatnya mario teguh. "selama kita mencintai diri kita, maka kita tidak akan pernah merasa jenuh pada pekerjaan ato suasana t4 kita bekerja. karena rasa tertarik pada diri kita sendiri". ah ribet, nyambung nggak sih,kev? :p

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe