Hidup, Akhir, dan Perpisahan

16:59:00

Everything that has a beginning, has an end.
But what really matter is our choice when we get there.

Ada dua hal yg paling diingat manusia di dalam hidupnya : yang pertama dan yang terakhir.
Pertama kali jadian, cinta pertama, ciuman pertama...kencan terakhir sebelum putus, hari terakhir sekolah, waktu yg dihabiskan bersama sebelum seseorang pergi meninggalkan kita.

Tiada yg abadi di dunia ini. Segala sesuatu yg mempunyai awal pasti suatu saat akan akan berakhir juga, itulah kehidupan. Dan hal itulah yg menjadi topik pembicaraan gua dan Toni di saat terakhir kali kita bertemu. Kita ngobrol berdua di KFC sampe jam 3 subuh tadi malam. Dia akan pulang ke kampung halaman dan baru balik ke Bandung beberapa minggu setelah Lebaran, sementara gua akan berangkat ke Cina seminggu setelah Lebaran. Bisa dibilang, malam ini adalah malam terakhir kita bertemu di tahun 2012.

Mengapa topik yg dibicarakan harus mengenai sesuatu yg berhubungan dengan sebuah akhir dan perpisahan? Bukan berarti kita berdua berpikiran negatif bahwa kita tidak akan bertemu lagi, bukan, tapi mungkin gua dan dia sama2 lagi kebawa mellow akibat betapa cepatnya ritme kehidupan kita selama beberapa waktu terakhir.

Toni sedang terkesima dengan kehidupannya akibat banyak sekali teman2 dan kenalannya yg sudah menikah, sementara itu gua sedang antusias sekaligus deg2an mengenai kepergian gua ke Cina bulan depan. Kita berdua sama2 takjub menghadapi sebuah kenyataan di mana hidup kita berubah drastis sejak selesai kuliah. Toni sibuk dengan kerjaan dan pacarnya, gua sibuk siap2 ke Cina sekaligus bimbang dalam menata rencana masa depan.

Dalam keadaan super hectic inilah tiba2 sebuah topik aneh menjadi bahan pembicaraan kita
"Kalo suatu hari lu mati, lu mau mati kayak gimana? Cepat dan tanpa rasa sakit tapi ga sempet pamit, ato sempet menghabiskan sisa hari bersama keluarga tapi harus menderita berkepanjangan dan menghabiskan biaya yg tidak sedikit?"
Gua dan dia sama2 bingung dalam menjawab pertanyaan yg kita cetuskan sendiri, bagaimanapun juga ini bukan suatu topik yg lumrah untuk dibahas di malam terakhir pertemuan kita.


Akhir adalah sesuatu yg tidak bisa kita prediksikan kapan dan bagaimana terjadinya. Gua inget betapa shocknya mantan gua saat bercerita bahwa suatu pagi papanya ditemukan telah meninggal akibat serangan jantung di dalam tidurnya. Beliau sehat, sama sekali tidak punya riwayat penyakit yg dapat menyebabkan gangguan jantung. Di satu sisi, mungkin kita bisa bersyukur apabila kita meninggal dengan cara seperti itu : cepat dan tanpa rasa sakit. Tapi cara seperti itu ada ga enaknya juga karena apabila kita meninggal mendadak, kita ga akan sempet pamitan dengan orang2 yg kita sayangi.

Tapi gua juga ga mau sakit parah yg berlarut2 dan derita yg berkepanjangan. Contoh paling nyata adalah almarhum nenek gua yg meninggal 2 bulan yg lalu. Sejak divonis menderita kanker, selama 10 bulan lebih beliau menghabiskan hari2nya dengan bolak-balik dirawat di rumah sakit. Memang sih, positifnya adalah keluarga yg ditinggalkan diberikan kesempatan untuk mempersiapkan hati dan merelakan kepergian kita, tapi tetep aja, sebagai orang yg sakit, gua yakin gua akan ngerasa ga enak dan merasa bersalah karena udah ngerepotin keluarga secara fisik, mental, maupun materi.

Kalo gua dikasih kesempatan untuk menentukan sendiri cara mati gua, gua sih pengennya ga usah menderita berkepanjangan tapi at least kasih gua waktu untuk mempersiapkan diri dan pamitan. Itu skenario sempurnanya, idealnya, tapi kenyataannya, di dalam hidup, kita tidak diberikan kuasa untuk memilih. Kematian, akhir, dan perpisahan selalu datang tiba2 dan mengejutkan kita.

Lantas apa yg harus kita lakukan? Apakah kita harus hidup di dalam ketakutan setiap hari bahwa kematian bisa saja menyergap kita atau orang yg kita kasihi setiap saat?


Bicara soal kematian, gua teringat akan percakapan terakhir gua dan seorang sahabat yg gua kasihi. Di saat terakhir sebelum kepergiannya akibat kanker darah yg telah menggerogoti tubuhnya selama 4 tahun, dia bilang gini ke gua :
"Gua pengen saat ini menjadi saat terakhir kita saling bertatap muka" kata dia.
"Lho? Kenapa?" tanya gua bingung.
"Soalnya gua ga mau lu liat muka gua saat gua pergi nanti. Pasti jelek." kata dia setengah bercanda.
Gua cuma tersenyum getir sambil memegang tangannya yg terkulai lemah.
"Gua pengen lu selalu mengingat wajah gua yg sedang tersenyum...dan gua juga pun demikian. Makanya, lu harus relain gua pergi...dengan senyum..." kata dia sambil tersenyum manis...senyuman terakhirnya, senyuman terindahnya, senyuman yg selalu terpasang di wajahnya setiap kali gua mengingat dia...hingga saat ini...

Ya, sahabat gua itu mengajari bahwa yg namanya kematian dan perpisahan adalah suatu hal yg tidak bisa kita hindari di dalam hidup ini. Ia bisa datang tiba2, sewaktu2, dan tanpa peringatan sama sekali. Karena itu, hendaklah kita memanfaatkan hidup kita setiap hari dengan sebaik2nya. Hargai setiap waktu dan kesempatan yg bisa kita lewati bersama orang2 yg kita kasihi, dan selalu sertakan kebaikan di balik setiap kata dan perbuatan kita. Jadi, apabila suatu hari kita atau seseorang di dalam hidup kita dipanggil mendadak oleh Sang Pencipta, kita bisa menghadapinya dengan ikhlas dan tanpa penyesalan.

Seringkali kita memikirkan seseorang yg sebenarnya tidak memikirkan kita sama sekali, dan malah melupakan orang2 terdekat yg ada di sekitar kita. Kenapa harus galau akibat gebetan nyuekin kita, sementara di sekitar kita sebenarnya kita dikelilingi orang2 yg mengasihi kita tanpa syarat. Daripada ngabisin waktu dan tenaga untuk nangisin seseorang yg sudah menyakiti hati kita, lebih baik kita gunakan waktu dan tenaga tersebut untuk menikmati saat2 bersama ayah, ibu, adik, kakak, maupun sahabat2 kita...sebelum kita kehilangan mereka suatu hari nanti.
Gua di Bandung cuma tinggal sebulan lagi dan gua ingin memanfaatkan waktu yg tersisa ini sebaik2nya untuk quality time bersama keluarga dan sahabat2 gua yg terkasih. Ngebina pramuka, latihan paduan suara, reuni dengan teman2 SMA, maen game di warnet bareng sahabat2 gua, lempar2an bola dengan anjing gua, dan bahkan hanya sekedar ngobrol sambil makan malem bareng nyokap pun menjadi suatu momen berharga di saat gua menyadari bahwa gua akan merindukan semua ini setelah pergi ke Cina nanti...

Dance like nobody's watching
Sing like nobody's listening.
Love like you've never been hurt before, 
And live each day as if it was your last. 

Cherish your every day...

You Might Also Like

28 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. waduh enak banget gan nmau ke cina , ane aja belom pernah , ane doain semoga ente selamat pulang pergi dari sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih doanya. Ayo jangan mau kalah, ke luar negeri tuh ga mahal kok, hanya butuh usaha dan kesempatan =)

      Delete
  2. Irra W Hasibuan23 July 2012 at 17:27

    " Kenapa harus galau akibat gebetan nyuekin kita?"
    JLEB

    Let's move on !
    Hahhahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya masih banyak hal2 penting yg bisa jadi prioritas kita, Ra...

      Delete
  3. wah. pengen bisa ke cina juga. saya dari sumatera aja ga pernah keluar. :(. Semoga Tuhan memberkati bro. dan selalu dalam lindungannya.

    Visit ya http://roemario-worlds.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. selamat,,, akhirnya cita-cita lo kewujud
    bisa ke china
    semoga lo ga jadi salah satu dari mereka yang melupakan indonesia..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya...akhir2 ini gua lagi ilfil berat sama Indo soalnya, di bulan puasa ini banyak banget temen gua yg jadi korban kejahatan soalnya >_<

      Delete
  5. begitulah kev. hidup mati seseorang gak bisa ditebak.

    ahh andai saja gue tahu kapan gue mati, pastinya gue bakalan menghabiskan waktu untuk orang2 yang penting dalam hidup gue dan juga... gue pasti akan nyiapin kuburan dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gua sih pasti pengen nerbitin buku, ngadain talkshow, masuk TV, whatever...manfaatin waktu dan momentum yg tersisa, hehehe

      Delete
  6. Agak so swiitt ya postingannya kali ini..
    Ciee, yang ngobrol dengan Toni sampe jam 3 subuh ciiee..
    Curiga gue jgn2 kalian KW... hahhaha...

    Bener bgt bro kematian mnjdi ssuatu yg sangat rahasia, postingan ini kembali ngingetin gw akan kematian adk gw 2 bulan lalu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Ngakak gue baca paragraf pertamanya... Wajar sih menurut gue ngomong sama cowok.... Temen akrabnya kali... Hehehehe... ^^v

      Anyway gue setuju sama Adittya... Kalao gue tahu kapan gue mati, gue bakal pamitan dulu atau malah gue bakal beli makam mewah di San Diego... :P

      Delete
    2. Bener kata Nuel, kalo udah ngobrol sama sahabat baik tuh waktu udah kayak mengalir aja, ga kerasa, hehehe...

      Kalo gua tau dalam waktu deket bakal mati, gua sih akan melakukan sebuah hal drastis untuk melakukan perubahan...masuk TV dan ngadain talkshow misalnya, hehehe

      Delete
  7. dalem banget kak. aku suka postingan ini. menyayat hati :'(
    entah kapan... pokoknya mohon maaf lahir bathin ya kak :)

    ReplyDelete
  8. ngapain aja tuh sampe subuh ngobrolnya hehehe

    ReplyDelete
  9. serem juga ceritanya mengenai kematian... karena hidup untuk berpisah.. maka berbuat baiklah karena hidup itu perlu bahagia... hehehhee

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Berbuat baiklah karena hidup itu perlu bahagia" ...nice quotes

      Not everyone can be great, but we can always be kind =)

      Delete
  10. "Hargai setiap waktu dan kesempatan yg bisa kita lewati bersama orang2 yg kita kasihi, dan selalu sertakan kebaikan di balik setiap kata dan perbuatan kita."

    manis banget quotesnya. Memang kita ga bisa memilih bagaimana cara kita mati, yang bisa kita lakukan hanyalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

    Semoga lancar ke Cinanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. postingan yg bagus,

      seperti halnya "dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan" itulah hidup

      Delete
    2. Pertemuan dan perpisahan tuh seperti dua sisi mata uang...selalu berdampingan...gua harap di Cina ntar gua bisa dapet pengalaman yg seru, yg bikin gua ga nyesel udah ninggalin kehidupan nyaman gua di Bandung, hehe

      Delete
  11. WOW

    Ini benar-benar mengingatkan.
    setiap yang terlupakan.

    dalem banget bang. keren sumpah.
    Inspiring! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salahin si Toni...suruh siapa dia ngajak mikir yg dalem2...hehehe

      Delete
  12. om kepen, lo ngepos kayak gini bikin gue makin sedih aja. gue yakin disana ada masa depan buat lo. bales sms gue dong, pengen ketemu sebelum gue pulang :'
    gonna miss you uncleee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gua ga bisa ikut buka puasa bareng tanggal 28, tapi tar kita janjian lagi aja waktu laen ya, hehehe

      Delete
  13. mari rayakan hidup..

    kan ada yang bilang : manfaatkan 5 masa sebelum 5 yang lain, waktu muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, dan seterusnya..

    dan post ini tepat banget sama hal itu.

    Carpe diem!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow...itu pepatahnya jleb banget...hehehe...pengen cari pepatah lengkapnya ah...

      Delete
  14. milih mati cepet aja tanpa rasa sakit meski gak pamit sama orang2 yg dicintai .hhehehe

    ReplyDelete
  15. makasih sudah posting ini kak, lebih dalem.. sudah buat gue ingat akan adanya kematian yang cepat atau lambat bakal kita temui.. yah gue harap kita semua dikasih umur yang panjang tapi gak panjang panjang amat yak :) visit back dong kak :)

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe