Catatan Perjalanan - Menaklukan Sang Raksasa

00:48:00


Though we travel the world over to find the beautiful, we must carry it with us or we find it not.


Di awal pelajaran Fotografi Dasar di kampus tahun 2009 silam, Pak Paulus (almarhum), sang dosen, memulai mata kuliah dengan menunjukkan sebuah foto. Foto tersebut adalah foto Gunung Bromo yg beliau jepret dengan sangat indahnya. Tidak ada kata yg dapat menggambarkan keindahan foto hasil karyanya tersebut, dan para mahasiswa tambah terkagum2 saat beliau bercerita mengenai usaha yg ia lakukan untuk dapat memotret foto tersebut.

"Kalian semua harus pergi ke Bromo suatu hari nanti...dan potretlah foto yg lebih bagus dari milik saya ini. Itu tantangan saya untuk Anda semua..." kata beliau, mengakhiri sesi pengantar dari kuliah tersebut.

Waktu berlalu dengan cepat, Pak Paulus telah tiada, gua udah lulus kuliah, namun akhirnya kesempatan itu datang juga.


17 Agustus 2012 - Malam

Bus yg membawa gua dan keluarga besar akhirnya tiba di Probolinggo, di sebuah terminal khusus parkir bus pariwisata. Begitu pintu bus dibuka, udara yg sangat dingin menusuk pun menyergap. Gua segera bergegas mengenakan jaket, kupluk, sarung tangan, dan syal. Kami semua masuk ke dalam sebuah mobil Elf, dan 45 menit kemudian, setelah melewati jalan menanjak yg berkelok2, tibalah kami di Hotel Bromo Permai, Desa Cemoro Lawang, tempat yg paling strategis untuk memulai perjalanan ke Bromo. Hotelnya tidak mewah. Sederhana, namun nyaman. Begitu sampai di lobby hotel, gua liat banyak banget bule membawa ransel besar. Mereka semua asik bercakap2 dalam bahasa yg tidak gua mengerti.

Lobby hotel


18 Agustus 2012 - Subuh

Kurang lebih jam setengah 4 pagi, pintu kami diketuk oleh petugas hotel (Morning Call ceritanya sih). Gile, udaranya dingin banget! Lantai kamar hotel rasanya udah kayak es! Gua cepet2 pake baju 3 lapis dan semua perlengkapan seperti kupluk, syal, dan sarung tangan, dan kemudian bergegas menuju lapangan parkir hotel di mana mobil Jeep sewaan sudah menunggu.

Kamar hotel

Dengan mengendarai Jeep, kami menembus padang pasir di tengah kegelapan malam, menuju Gunung Penanjakan, sebuah tempat yg paling strategis untuk melihat keindahan Bromo di kala matahari terbit. Setelah sekitar 45 menit melewati jalanan curam yg berkelok2, kami tiba di sebuah jalanan yg penuh dengan Jeep. Wow gila, ini kan gunung, tapi macetnya sudah serasa seperti di Jakarta o_0

Untungnya Tour Guide kami tahu sebuah spot rahasia di mana meskipun tidak sampai di puncak Gunung Penanjakan, tapi kami tetap dapat menyaksikan keindahan Bromo dengan sangat jelas seperti jika berada di puncak. Kami dibawa melalui sebuah jalan setapak kecil dengan sebuah senter di tangan masing2, dan setelah berjalan selama 10 menit tibalah kami di sebuah tebing kecil.

Awalnya tidak terlihat apa2, namun sekitar 10 menit kemudian, semburat warna merah pun muncul di ufuk timur...dan perlahan, tapi pasti, Bromo, sang raksasa, mulai menunjukkan wujudnya yg elok... Sayang gua belum punya kamera SLR jadi gua tidak bisa memotret sebagus Pak Paulus. Padahal situasinya strategis banget karena tebing ini serasa punya sendiri. Hanya ada keluarga gua saja, tidak ada orang lain. Kami pun menikmati momen indah ini sambil minum kopi dan foto2. 

Sebelum sunrise

Sekitar jam setengah 6 pagi, sang surya pun mulai menunjukkan sosoknya di ufuk timur. Dan sinar cahaya keemasan pun seolah bagaikan sangkakala yg mengiringi kemunculan sang raksasa dengan gegap gempita. Lambat laun, sinar mentari pagi yg hangat pun mengikis kabut yg menyelimuti kami, dan akhirnya kami dapat melihat wujud asli sang raksasa. Bromo, yang agung, berdiri dengan gagahnya di tengah hamparan lautan pasir yg terbentang luas. Keindahan yg gua saksikan saat itu sungguh membuat tenggorokan gua tercekat. Ya Tuhan, betapa agung ciptaan-Mu!

Setelah sunrise

 I think a photography class should be a requirement in all educational programs because it makes you see the world rather than just look at it. 
 

18 Agustus 2012 - Pagi

Kira2 pukul setengah 7 pagi, setelah puas foto2, kami pun berangkat menuju tujuan berikutnya yaitu menaklukan sang raksasa. Di tengah perjalanan, bokap gua nemuin penjual bunga yg nawarin bunga Edelweis. Setelah tawar menawar, akhirnya bokap berhasil membeli dengan harga 10.000 per buket. Kenapa Edelweis ini special? Edelweis dikenal sebagai "bunga abadi" yg tidak akan pernah layu. Jadi meskipun sudah dipetik dan dijadikan buket, bunga ini tidak akan pernah kering dan layu. Kenapa bisa begitu? Silakan cari sendiri jawabannya di Wikipedia, terlalu panjang untuk dibahas di sini.

Edelweiss
Edelweiss, close up

Mobil Jeep membawa kami melaju menembus kabut, melewati hamparan padang pasir luas yg indah. (Belakangan gua baru tau kalo padang pasir ini punya nama : Segara Wedi) Sinar matahari pagi berkilauan dipantulkan oleh butir2 pasir yg mengkilap. Sungguh merupakan keindahan yg sulit dilukiskan oleh kata2. Setelah sekitar 20 menit perjalanan, kami pun tiba di sebuah daerah di kaki Bromo yg dipenuhi oleh tukang kuda dan penjaja makanan. Kami turun di situ dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati gunung2an pasir, menuju puncak Bromo.

Kaki gunung

Sebenernya bisa aja sih kita bayar untuk naek kuda sampe puncak, tapi entah kenapa, saat itu, gua memilih untuk jalan kaki saja. Saat itu udara lumayan panas, dan pasir yg berterbangan lumayan membuat gua sulit bernafas. Tapi dengan berbekalkan tekad baja dan sebuah syal penutup hidung, gua terus melangkah maju. Setelah setengah perjalanan, gua kembali berhenti untuk foto2. Pemandangannya bagus banget, dan saat itu untungnya tidak begitu ramai oleh pengunjung. Oya, denger2 katanya di sini lah tempat syutingnya film "Pasir Berbisik" nya Dian Sastro. Ada yg pernah nonton filmnya?

Sebelum mendaki

Pasir berbisik

Setelah berjalan kira2 setengah jam, akhirnya gua sampai di kaki "Tangga Seribu" menuju ke puncak Gunung Bromo. Tangga yg sudah porak poranda akibat tidak terawat ditambah dengan debu pasir yg beterbangan, membuat pendakian saat itu terasa sangat sulit. Gua bersusah payah menjejakkan kaki di pasir untuk mendaki kemiringan yg terjal tersebut, sampe jantung gua mau pecah rasanya. Tapi pada akhirnya, semua rasa lelah itu terbayar saat gua tiba di puncak.

Terjal banget ya?

Ya, setelah melalui aneka ragam tantangan dan kesulitan, akhirnya gua pun tiba di puncak. Meskipun masih ngos2an, tapi udara di puncak terasa sangat menyejukkan.  Semua usaha dan jerih payah gua untuk sampai ke sini semuanya terasa manis.

Ya, akhirnya Sang Raksasa pun berhasil gua taklukan.

Kawah Bromo

Foto bareng di puncak

Tadinya gua pengen bikin aneka ragam foto kenang2an di puncak, namun saat itu pengunjungnya terlalu padat. Banyak daerah yg hancur akibat gempa di tahun 2006 silam, dan karena itulah para pengunjung terpaksa hanya bisa berkumpul di satu sisi saja. Sayang sekali ya, obyek wisata ini sangat terkenal, tapi lokasinya sangat kurang terawat. Jalanannya rusak di sana-sini, tangga menuju kawah dan lokasi di sekitar kawah juga hancur lebur, belum diperbaiki setelah hampir 5 tahun lamanya. Padahal kalo diperbaiki, mungkin akan meningkatkan daya tarik lokasinya.

Hari itu juga gua tidak berhasil mendapatkan sebuah foto yg bagus di Puncak Bromo, sungguh sangat disayangkan. Tapi di saat gua memandang pemandangan indah dari Puncak Bromo, sekali lagi kata2 Pak Paulus, terngiang2 di telinga gua.
"Tidak ada kamera yg lebih canggih daripada mata manusia. Karena itu, kadang ada keindahan yg tidak bisa kita abadikan melalui foto, namun dapat kita patri di memori kita selamanya melalui kedua mata kita."

Sepertinya hari ini gua belum bisa memenuhi tantangan Pak Paulus dalam hal foto. Tapi setidaknya, saat ini, gua bisa ikut merasakan keindahan yg beliau rasakan saat beliau berdiri di sini untuk memotret. 

There will be times when you will be in the field without a camera.  And, you will see the most glorious sunset or the most beautiful scene that you have ever witnessed.  Don't be bitter because you can't record it.  Sit down, drink it in, and enjoy it for what it is! 


Tulisan ini disertakan dalam Giveaway : Popcorn's 2nd Anniversary di blognya Armae

You Might Also Like

15 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. ini baru naanya perjalanan liburan yang beda, seneng banget lihatnya. aku pingin kesana tapi nunggu anak-anak lebih besar mungkin ya

    ReplyDelete
  2. Kali ini, gue lebih terkesan banget sana foto jepretan lu ketimbang tulisan lu... Asli, foto2 lu ajib2, men..... World class banget... Itu pake kamera apaan? AMaziiinng.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamera pocket biasa kok, hehehe...gua belom mampu beli SLR...hiks

      Delete
  3. lebih mantabh fotonya daripada tulisannya...
    :P

    ReplyDelete
  4. 3 kali ke Bromo...dan masih selalu eksotis dan bikin pengen ke sana lagi dan lagi...

    Oia, haluan baliknya bisa tuh singgah di Madakaripura, air terjun yg konon dulunya tempat patih gajah mada bertapa...tak kalah serunya rute utk mencapai madakaripura

    ReplyDelete
  5. woww! nggak pake DSLR aja udah keren banget fotonya..

    tertarik untuk ke Bromo nih, cuman masih belom ada rencana ke sana....

    ReplyDelete
  6. wuiiiih, dahsyat, keren banget. makin gk sabaran. rencananya gue bareng sahabat mau ke Bromo juga di pertengahan januari besok. makin gk sabarrrr

    mau tanya, kalo bisa liat sunrise musti naik ke bromo jam berapa kang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jam 4 pagi lah kurang lebih berangkat...

      Delete
  7. Bromo selalu memberikan eksotisme yang berkesan pada setiap orang yang mengunjunginya.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    ReplyDelete
  8. Terimakasih sudah berpartisipasi dalam Giveaway Popcorn's 2nd Anniversary, Keven... Sudah saya catat :)

    ReplyDelete
  9. bunga edelweissnya cantik bgt kaya di pilem avatar :))

    ReplyDelete
  10. Itu bunga Edelweiss diperjual-belikan?

    ReplyDelete
  11. ini jepretan pocket ven? asli keren.

    ReplyDelete
  12. asli kereeeen, pengen kesana

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe