The Legend of TOP

09:11:00


“BILA KALIAN TIDAK MAMPU MEMATUHI PERATURAN SEKOLAH INI. UNDURKAN DIRI SAAT INI JUGA!”

Dengan suara menggelegar, pak Ronald berteriak kepada kami semua. Enam ratus lima puluh anak angkatan baru yang sedang menjalani masa penataran P4 tertunduk diam, tidak ada satu pun yang berani bergerak di lapangan bola yang tandus itu. Angin sore yang menderu lembut terdengar lebih jelas dari biasanya...


Usiaku belum genap 16 tahun hari itu. Dengan hati sedih, kucat sepatu hitam yang baru dibelikan Ibuku dengan spidol hitam. Semua bagian putihnya harus menjadi hitam besok bila tidak ingin diteriaki lagi oleh Pak Ronald. Terbayang tabungan yang disisihkan Ibuku untuk membelikan sepatu baru ini.... Ah, apakah keputusan bersekolah ke Bandung adalah sebuah keputusan yang tepat? Demikian desahku dalam hati.

Saat itu aku tidak menyadari bahwa keputusan yang kuambil bersama dengan Ayahku ini adalah sebuah keputusan yang akan membelokkan jalan hidupku. Keputusan ini membuat perbedaan kecil yang perlahan namun pasti menjadi besar di kemudian hari.

Sekolah kami bernama SMA Santo Aloysius. Sekolah terbaik di kota kembang. Begitu baiknya, sekolah ini terkenal dengan sebutan TOP, yang secara simplisit berarti terbaik. Asal muasal sebutan TOP dari bahasa Belanda "Tot Onze Plezier" atau "To Our Pleasure" bila diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Sansekerta, TOP diterjemahkan menjadi "Taruna Ogha Pravritti" yang mencerminkan keterbukaan wawasan pendiri sekolah ini.

Sebagai sekolah katolik, Aloysius memiliki kebijaksanaan dalam penetapan uang iuran sekolah. Setiap siswa membayar jumlah yang berbeda, tergantung tingkat sosial orangtuanya. Berbeda dengan yang dipikirkan oleh masyarakat, tidak hanya orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya di TOP, ada juga orang biasa. Walaupun merupakan sekolah yang didirikan oleh Bruder2 Katolik dari Belanda, Aloysius terbuka bagi pemeluk agama lainnya.

Pada tahun 1990, sekolah ini memiliki satu lapangan bola, dua lapangan basket, dua lapangan volley dan satu kolam renang. Jangan bilang ke Ayahku kalau yang terakhir ini adalah hal yang membuatku memilih memasuki sekolah ini instead of SMAK1, Jakarta yang pada tahun 1990 juga merupakan sekolah terbaik di Ibukota.

Sekolah dengan kolam renang? Pada jamanku dulu, hanya TOP yang bisa begini. Selesai pelajaran matematika jam 9 pagi, kami semua akan menuju kolam renang, ganti baju dan berenang selama satu jam sebelum jajan nasi bakmoy yang hangat pas jam istirahat.

Kantin sekolah kami adalah sebuah legenda yang dibicarakan semua anak sekolah lain di kota kembang. Tahukah Anda bahwa ada sepuluh kios kantin di sekolah kami? Dari kios yang khusus menjual minuman, menjual snack, bakso, siomay sampai nasi campur tersedia di sekolah ini. Pendopo kami luasnya sekitar setengah lapangan bola dan dikelilingi oleh sepuluh kios ini. Pilihannya begitu beragam!

Guru2 kami adalah guru2 terbaik. Masih teringat ketika belajar menyanyi lagu Jerman yang tidak jelas artinya di ruangan tertutup yang di-design khusus untuk menyanyi. Minta ampun, belum pernah menyanyi menjadi kegiatan yang begitu rumit dan menyusahkan. Dari pak Kris, aku belajar menyanyi dengan suara bulat. Biarpun mulutnya harus dimonyongkan seperti ikan, ternyata kualitas suara yang keluar memang lebih indah.

Banyak orang bilang bahwa guru yang seringkali diingat adalah guru yang paling galak. Ini tidak salah.

Pak Ronald yang badannya tinggi besar adalah guru bahasa Inggris. Ketika masih SMA dulu, aku benar2 merasa lega karena beliau hanya mengajar kelas 3 SMA. Saat ini, aku tetap senang karena pernah diajar beliau di kelas 3 SMA. Walaupun demikian aku sempat bertanya2, bila beliau mengajar kami dari sejak kelas 1 SMA, bahasa Inggrisku mungkin akan lebih baik lagi.
Sejak kecil, pelajaran bahasa Inggris tidak pernah menjadi pelajaran favorite bagiku. Aku memang tidak terlalu berbakat dalam hal bahasa. Setidaknya itu yang ada dalam benakku.

Reputasi Pak Ronald yang galak sudah terkenal di seluruh sekolah. Ketika beliau mengajar kami di kelas 3 SMA, banyak siswa yang terpaksa harus mengambil les tambahan di luar sekolah sekedar hanya untuk mengikuti ritme mengajarnya yang penuh disiplin. Sebagai anak rata2, aku termasuk anak2 yang mengambil les tambahan.

Masih jelas dalam ingatanku bila beliau masuk kelas di pagi hari, beliau akan meminta kami semua mengeluarkan sehelai kertas putih yang telah dibagi empat. Diatas kertas kecil itu, kami harus menuliskan jawaban atas 5 pertanyaan yang diberikan di awal pelajaran. Artinya, sebelum pelajaran bahasa Inggris pak Ronald, kami sudah harus siap dengan quiz kecil bila tidak ingin mendapat nilai merah di ujian informal itu.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk belajar selain mengulang, mengulang dan mengulang. Ini sudah diketahui oleh pak Ronald. Dan dari system pengajarannya, beliau mendisiplinkan kami untuk mengulang, mengulang dan mengulang. Tidak heran, begitu lulus dari SMA Santo Aloysius, peningkatan kemampuan bahasa Inggrisku sungguh jauh di luar dugaan.

Pak Ronald memang guru bahasa Inggris. Rasanya terlalu mengecilkan bila beliau hanya disebut sebagai seorang guru bahasa Inggris. Beliau juga memegang peranan penting dalam organisasi SMA Santo Aloysius. Termasuk salah satu guru besar yang menyeleksi murid2 yang bisa masuk ke dalam sekolah yang prestigius ini.

Bahasa Inggris adalah materi yang sangat beliau kuasai. Walaupun demikian, kami tidak hanya belajar bahasa Inggris dengan beliau. Kami diajarkan tentang disiplin, tentang hidup, tentang kasih. Dibalik badannya yang besar dan suaranya yang menggelegar, ada sosok seorang Ayah yang tegas yang terkadang menertawakan tindakan2 konyol kami sebagai anak remaja. Dibalik hukuman yang diberikan kepada kami, terkadang terselip sebuah senyum simpul yang sengaja disembunyikan.

Pak Ronald selalu datang pukul 6 pagi di sekolah. Tidak seperti sekolah lainnya yang mulai jam 7 pagi, jam pelajaran pertama di Santo Aloysius dimulai jam 6.40 pagi. Kata orang2 tua, rejeki jatuh ke tangan orang2 yang bangun lebih pagi. Mungkin ini sebabnya anak2 lulusan Aloysius rejekinya tidak pernah habis.

Walaupun demikian, terkadang kami disuruh datang ke sekolah jam 6 pagi untuk ulangan bahasa Inggris karena pak Ronald tidak menemukan jam lain yang lebih tepat! Jam 6 pagi disebut sebagai jam pelajaran ke Nol. Bila nakal, terkadang kami juga dihukum datang jam 6 pagi ke sekolah untuk merenungi tindakan kami yang bodoh kemarin.

Sekolah di Aloysius memang berat. Tanpa kerja keras tidak akan berhasil. Pada tahun 1990-an, Aloysius terkenal sebagai satu2nya sekolah menengah atas di kota Bandung yang tingkat kelulusannya 100%. Rahasianya sederhana, bila Anda dianggap tidak mampu lulus SMA, Anda akan didepak keluar sebelum kelas 3 SMA.

Jangan salah. Siswa yang terdepak dari Aloysius bukanlah siswa yang gagal. Mereka seringkali menjadi juara di sekolah lain. Pelajaran terdepak dari sekolah terbaik ini seringkali merupakan cambuk bagi mereka untuk bekerja lebih keras. Biasanya mereka mampu berkumpul bersama kami kembali di universitas2 ternama.

Soal disiplin, sekolah ini pun tidak kalah terkenal. Di SMA Santo Aloysius, rok yang dipakai para siswi tidak boleh berada diatas lutut. Ada sebuah cerita tentang anak sekolah lain yang sedang main di kantin Aloy. Ketika sedang tertawa, tiba2 salah satu dari mereka ditarik oleh Ibu Regina Kopi dan diseret ke ruang kepala sekolah. Di ruang ini, rok anak tersebut disobek bagian bawahnya karena berada diatas lutut. Sambil menangis ketakutan, anak ini akhirnya menjelaskan bahwa dia bukan siswi sekolah kami. Tentu saja dia dilepaskan dengan peringatan jangan kembali ke sekolah kami. Sebenarnya tanpa peringatan pun, anak itu tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki ke sekolah kami.

Work hard, play hard.

Walaupun penuh persaingan dan kerja keras, anak2 yang bersekolah di Aloy tidak lupa berpesta pora. Tidak terhitung banyaknya pesta sepanjang tahun sekolah.

Ada tradisi pesta kelas di rumah salah satu siswa yang agak besar. Pesta ini terbuka untuk seluruh anak di kelas tanpa kecuali, tetapi tidak diwajibkan. Setiap anak yang tertarik akan berpartisipasi sebesar tiga ribu rupiah. Lantas ada seksi konsumsi yang akan membelanjakan uang ini untuk makanan dan beberapa perlengkapan pesta. Ada juga seksi acara yang akan mengadakan permainan untuk menciptakan keakraban diantara teman sekelas. Acara ini biasanya diakhiri dengan menyanyi di depan api unggun atau bercerita tentang hal hal yang menakutkan di ruang perpustakaan.

Pesta kelas biasanya diadakan dua sampai lima kali dalam satu tahun ajaran, tergantung pada kekompakan kelasnya. Semakin kompak, semakin sering pesta kelas. Semakin sering pesta kelas, maka kelasnya juga akan semakin kompak.

Di bulan October, ada Malam Gembira (MG). Malam Gembira adalah pesta sekolah yang terbuka untuk umum. Setiap kelas akan menyumbang acara berupa kabaret, band, tarian dan lain lain. Tidak semua sumbangan acara diterima. Ada juri yang akan menyeleksi acara ini sehingga MG menjadi ikon acara kebudayaan yang sangat ditunggu oleh banyak anak sekolah.

Pada jaman kami dulu, group Padhyangan sering memberikan pengarahan untuk acara kabaret sekolah ini. Biasanya group kabaret yang berada dibawah pengarahan Padhyangan memang akhirnya menjadi acara puncak di Malam Gembira. Beberapa tahun setelah aku lulus SMA, group Padhyangan pun menjadi sangat populer di Indonesia.

Selesai Ujian Akhir Semester di bulan Desember, ada acara yang disebut STR (Samantha Track Record) yang berupa acara jalan2 ke hutan yang dikelola oleh group pencinta alam yang diberi nama Samantha. Siswa yang berminat ikut harus membentuk kelompok yang masing2 terdiri dari 5 anak. Dalam satu kelompok harus ada siswa putra dan putri. Kelompok2 ini akan mengikuti acara yang biasanya dimulai disekitar Lembang dan berujung di kawah Gunung Tangkuban Perahu. Acara outdoor tahunan ini sangat menarik dan menguras tenaga. Selesai mengikuti acara ini biasanya aku langsung tertidur pulas sampai keesokan harinya.

Ketika hari Valentine tiba di pertengahan bulan February, pengurus sekolah memberikan kebebasan kepada para siswa untuk menghias kelas. Beberapa siswa yang kreatif mencoba bisnis bingkisan yang berupa kirim mengirim bingkisan bunga atau coklat kepada teman yang kita taksir. Ada satu jam pelajaran dimana kami boleh memasang musik di dalam kelas untuk merayakan hari kasih sayang ini. Pada akhir hari, siswi yang paling cantik dan populer biasanya membawa pulang beberapa kotak coklat ataupun beberapa tangkai bunga mawar.

Kelas dua SMA adalah masa jaya bagi tukang pesta. Ulang Tahun ke-17 siswi putri biasanya dirayakan besar2an. Undangan pesta sweet seventeen datang silih berganti.

Untuk siswa kelas tiga SMA ada acara besar yang tidak boleh dilewatkan. Acara ini diadakan beberapa bulan sebelum ujian kelulusan. Acara outing ke Bali ini adalah puncak dari semua acara di SMA Santo Aloysius. Berangkat naik kereta dari Bandung ke Surabaya, acara yang berlangsung selama seminggu ini seringkali menyimpan kenangan indah sampai bertahun-tahun kemudian.

Seperti banyak SMA di kota Bandung, wisuda SMA Santo Aloysius dirayakan besar2an. Siswa putra mengenakan jas sementara para siswi mengenakan kebaya. Beberapa photographer professional hadir mengabadikan moment yang indah ini. Ketika tiba di Aula tempat diadakannya acara wisuda ini, semua photographer berebutan mengambil photo kita, serasa celebrities padahal hanya perayaan lulus SMA.

Beberapa tahun setelah aku lulus dari SMA Santo Aloysius, kabarnya sekolah ini membeli sebuah rumah peristirahatan yang besar di Gambung. Gambung adalah daerah Pegunungan yang tidak jauh dari Bandung. Secara bergantian, murid kelas dua atau tiga SMA menginap di Villa ini selama tiga hari. Selama menginap disini, mereka diajarkan tentang table manner dan juga dansa ballroom. Aku tidak sempat merasakan masa2 itu.

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak kami diteriaki oleh pak Ronald pertama kali di lapangan bola. Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Saat ini pak Ronald sudah pensiun dari SMA Santo Aloysius. Banyak yang mengatakan bahwa kualitas sekolah ini tidak sebagus dulu lagi. Walaupun demikian, kabar burung ini sudah kudengar sejak dua puluh tahun yang lalu.

Facebook memang phenomenal. Lewat jaringan sosial ini, aku berhasil menjalin kembali hubungan dengan teman2 SMA yang saat ini sudah tersebar ke seluruh dunia. Sebagian besar tentu saja di Indonesia, banyak yang tinggal di Amerika dan Australia. Sebagian lagi tinggal di negara2 Asia dan Eropah. Sayang, teman yang tinggal di Afrika tetap minim.

TOP yang didirikan sejak tahun 1948 merupakan sekolah swasta pertama di Bandung, dan selalu menjadi yang terbaik. Sebenarnya apa yang membuat sekolah ini terbaik? Bukan kolam renangnya, bukan kantinnya dan bukan segudang fasilitas yang dimiliki sekolah ini.

Yang membuat sekolah ini tetap menjadi sekolah terbaik adalah kita, alumninya. Lihatlah diri kita hari ini. Tanyakan kepada diri kita sendiri, apa yang kita raih hari ini, apakah semua itu jatuh dari langit? Tidak. Semua itu sudah digariskan! Semua itu sudah diprediksi sejak awal! Sejak di lapangan bola yang tandus itu, dua puluh tahun yang lalu.

Suara pak Ronald terdengar melembut di acara wisuda kami....

“Tugas kami sudah selesai dalam mendidik kalian. Tiga tahun telah berlalu. Saat ini kami akan melepas kalian. Ingatlah satu hal, apa pun yang kalian lakukan kelak, TOP akan melekat dalam diri kalian...”

We are selected among the best. Educated by the best. Being simply the best naturally puts us to the Top.

This is a story about Santo Aloysius High School, the legend of the TOP.


Note:
TOP dalam bahasa Sansekerta adalah "Taruna Ogha Pravritti" yang berarti “The Youth Shall Persists”
Untuk memberi notion nilai rupiah pada tahun 1990, 1 USD setara dengan Rp 2 000. Satu potong ayam KFC seharga Rp 1 500.

Le Havre, August 2010

---

Tulisan ini bukan karya gua, ini karya seorang senior yg juga alumni dari sekolah yg sama dengan gua. Gua share di sini dengan harapan lebih banyak orang yg bisa baca tulisan bagus ini. Bukan hanya untuk alumni sekolah gua, tapi juga menginspirasi semua orang yg membacanya. This is how an education should be. Bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik. Murid2 yg dihasilkan tidak hanya harus pintar, tapi juga kreatif, berkarakter, dan berbudi.

Rindu banget masa2 sekolah di Aloy. Ga peduli orang mau ngomong apa, ga peduli sekarang mau jadi kayak apa, I will always be proud of it.

We are TOP! St.Aloysius OK!

You Might Also Like

10 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. waaah TOP juga ya....
    mantabh deeh..
    :)

    ReplyDelete
  2. tulisannya panjaaaaaaanhg ya
    :D hahaa

    setuju, sekolah itu bukan cuma mengajar tapi mendidik. sayangnya..sekarang banyak sekolah jauh dr kata membimbing :(

    ReplyDelete
  3. yang di belakang bip ya..?
    tahun 90 berapa suka kesana ngurus telpon umum
    emang keren kok keliatannya
    bangunanya juga terawat biarpun udah tua

    ReplyDelete
  4. nice!!
    lanjutkan perjuangan!!
    berkunjung balik, ya...

    ReplyDelete
  5. Keren banget itu tulisan. Bikin semangat jadi menggelora.

    Salam kenal ya, Ken... Aku datang dari blognya si Poni aka Glo

    ReplyDelete
  6. Ok, saya suka sekolahyna ko Keven waktu SMA, menurut cerita sang penulis asli Legend of the Top, kelihatannya sekolah ini penuh disiplin dan benar2 mendidik muridnya

    cuma, saya kurang paham apa fungsi pelajaran table manner itu?

    ReplyDelete
  7. " Murid2 yg dihasilkan tidak hanya harus pintar, tapi juga kreatif, berkarakter, dan berbudi."

    kyknya dijaman sekolahan skrg ini, jarang deh yg berprinsip seperti itu.
    apalagi ngliat guru2nya yg lbh mengandalkan buku ketimbang presentasi di dpn kelas.

    ReplyDelete
  8. ijinkan saya share tulisan ini dalam group reuni silver TOP 1989 kami .. tulisan ini ditulis oleh angkatan beberapa tahun dibawah saya ( Arianti Darmawan, dengan panggilan Anti angkatan 1989 ) apa yang ditulis sama persis dengan apa yang kami rasakan .. tempaan terberat saya adalah masa SMA, dibanding S1, S2 maupun masa kerja saya, namun terbahagia! Pak Sutardi kemarin ( pada reuni silver kami ) mengatakan kami lulusan terbaik dari sekolah terbaik, peringkat no 1 se jawa barat. Itulah bekal kami, sekolah yang mengajarkan keutuhan kehidupan bukan hanya akademis tetapi keseluruhan kualitas pribadi ... untuk perjalanan selanjutnya. Salute.

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe