Go The Distance

23:35:00


Hanya orang serakah yg bilang Tuhan itu ga adil. Why? Karena menurut pengalaman gua, ternyata semua hal di dunia ini selalu berfungsi sebagaikan sebuah neraca yg seimbang. Ada kelebihan dalam satu hal biasanya diiringi dengan kekurangan dalam satu hal, mendapatkan sesuatu juga diiringi dengan kehilangan sesuatu.

Segala sesuatu yg berlebihan, hal baik sekalipun, ujung2nya menjadi tidak baik. Iman misalnya, iman yg berlebihan terhadap kepercayaan kita akan berujung kepada fanatisme, dan yg namanya fanatisme selalu tidak berakhir dengan baik. Orang yg terlalu banyak uang, hidupnya seringkali tidak tenang...takut ditipu orang, takut dirampok, dan lain sebagainya.

Banyak orang yg setelah baca kisah perjalanan gua di China bilang kalo mereka sirik ma gua karena gua punya kesempatan untuk belajar ke luar negeri, dll. Awalnya juga gua mikir begitu, bahwa kesempatan untuk kuliah ke luar negeri ini adalah kesempatan yg sangat ajaib dan wah. Apalagi gua pergi ke sini pake beasiswa, bukan ngabisin duit ortu, kesannya sempurna banget ya. Sedikit gua menyadari bahwa untuk mendapatkan sesuatu, gua juga harus melepaskan sesuatu yg sama harganya. Yup, kalo kalian ga ngalamin sendiri, kalian ga akan sadar...bahwa studi ke luar negeri juga butuh pengorbanan...

Hari ini Kamis Putih dan besok Jumat Agung. Tapi jangankan merayakan Paskah, besok gua libur aja kaga tuh. Jujur, kalo bukan gara2 gua liat temen2 gua di grup Whatsapp pada sibuk ngerencanain liburan, mungkin gua udah lupa sama sekali bahwa minggu ini adalah Paskah. Maklum, hidup di negara sosialis seperti China, gua lumayan terisolasi dari hal2 yg sifatnya religius. Di sini setiap pagi dan sore ga ada suara adzan, di koran ga ada berita soal perselisihan antar umat beragama, ga ada orang egois yg manfaatin agama untuk alat politik. Dalam hal ini, gua jujur lebih suka China daripada Indonesia, hehehe.

Event2 seperti inilah yg kadang bikin gua rindu banget sama kehidupan gua di Indonesia. Gua inget, tahun lalu, menjelang Paskah, gua lagi sibuk nyanyi di gereja bareng paduan suara, bahkan gua masih inget lagu apa aja yg waktu itu kita nyanyiin. Terus di long weekend menjelang Paskah, gua sering kumpul bareng temen2 SMA dan maen bareng. Hal2 seperti itulah yg kadang bikin gua homesick banget dan pengen pulang. Waktu dan kesempatan berharga bersama teman dan keluarga, hal itulah yg gua korbankan selama gua kuliah di China.

Memang di sini gua dapet banyak pelajaran berharga. Mandarin gua meningkat pesat, pengetahuan gua bertambah, gua belajar hidup mandiri dan berdikari di negeri orang, gua dapet banyak pengalaman berteman dengan orang dari manca negara, gua traveling ke tempat2 yg sebelumnya hanya bisa gua impikan seperti Xi'an dan Harbin, dan masih banyak lagi. Bahkan kalo gua sukses apply beasiswa, gua bakal tambah 3 tahun lagi di China sampe gua lulus S2. It looks to good to be true ya? Di satu sisi sih iya, di satu sisi lagi...ngga juga...

Jangan salah, gua di sini ngerasa nyaman banget. Gua punya banyak sahabat2 baik dari mancanegara yg sayang dan peduli sama gua. Kalo gua susah, mereka akan bantuin gua sekuat tenaga, walaupun tanpa diminta. Laoshi2 di sini juga semuanya baik, udah kayak Cici dan Bibi gua sendiri aja, semua selalu siap membantu kita murid2 asing, jikalau ada kesulitan. Semua orang di sini udah kayak keluarga kedua gua, rumah kedua gua. Tapi tetep, sebaik apapun mereka, tetep aja di hati gua, mereka ga bisa menggantikan posisi keluarga dan sahabat2 nun jauh di seberang lautan...

4 tahun yg gua habiskan di China berarti 4 tahun waktu bersama teman dan keluarga di Indonesia yg gua korbankan. Gua ga bermaksud pesimis, tapi umur manusia siapa sih yg tahu? 4 tahun di China berarti gua kehilangan waktu 4 tahun yg berharga untuk berada di sisi orang tua gua. Gua kakak beradik cuma dua orang, kadang gua suka mikir...apakah adik lonely di rumah tanpa kehadiran gua? Gua melewatkan tahun2 berharga di masa remaja dia, ga bisa melihat dia tumbuh dan berkembang sebagai seorang designer interior dan seorang laki2 yg tangguh.

Kadang gua suka mikir bahwa jaman dulu di mana belom ada Internet dan smartphone, mungkin ga seberat sekarang rasanya kalo studi ke luar meninggalkan tanah air. Sekarang didukung dengan kecanggihan teknologi, setiap hari gua bisa ngobrol dan menggila bersama sahabat2 gua. Seru banget, gua jadi ga pernah ketinggalan update soal hal2 yg terjadi di Indonesia, tapi di satu sisi...kadang gua suka galau sendiri liatnya... Contohnya, waktu ada seorang sahabat yg ngadain acara jalan2 terus nanya "Jadi, siapa aja yg hari ini ikut badminton?" Gua pengeeeeen banget jawab "Gua ikuuutttt"...tapi kan ga mungkin, kecuali mereka maen badmintonnya di dalem game online, hehehe...

Sekarang mereka mungkin belom pada married, masih bisa maen dan menggila ke mana2, tapi mungkin saat gua pulang nanti, mereka semua udah pada married, udah pada sibuk dengan keluarga, mungkin bakal makin jarang ketemu. Tahun lalu ada seorang sahabat baik gua yg mau ngelamar cewenya, tapi berhubung gua lagi di seberang lautan, gua ga bisa hadir dan bantu dia secara nyata. Kalo mereka married tahun2 ini, apakah gua bisa hadir? Ataukah gua juga harus melewatkan kesempatan berharga untuk hadir di pernikahan sahabat baik gua sendiri?

4 tahun di China berarti gua kehilangan kesempatan untuk melewati 4 kali Natal, Paskah, Tahun Baru, Ulang Tahun, dan Imlek bersama sahabat dan keluarga gua. Tahun lalu Natalan sendiri di China aja udah bikin gua uring2an setengah mati, nah ini gimana kalo ditambah 3 tahun lagi? Kadang gua meragukan keputusan gua ini. Jangan2 kalo gua pulang nanti, semua udah berubah, dan berjalan semestinya tanpa melibatkan gua. Gua takut kalo nanti gua hanya akan jadi sesuatu yg tidak signifikan di mana gua cuma bisa bengong dan merasa being left out dari segala sesuatunya. Bahkan gua curiga nanti pas gua pulang, anjing gua aja udah ga inget sama gua. Sedih ga sih rasanya?

Tapi semua ini tentunya hanya curhatan galau gua belaka. Tentu gua punya alasan kuat kenapa gua memilih untuk pergi ke China dan kuliah S2 di sana. Gua cukup yakin bahwa jalan pilihan gua ini (kemungkinan besar) bener dan ga akan gua sesalin nantinya. Cuma maklum lah, sebagai seorang manusia kita sering takut pada suatu ketidakpastian, gua pun demikian. Kadang gua masih suka bertanya2 aja...is it worth it? Apakah semua yg gua dapatkan nantinya setara dengan yg gua korbanin?

Untuk saat ini gua belum bisa jawab. Gua cuma berharap, Tuhan akan tuntun jalan gua, kasih gua banyak pengalaman dan pelajaran berharga sehingga kalo gua pulang ke Indonesia suatu hari nanti, gua bisa bersyukur dan bangga untuk mengatakan bahwa setiap detik yg gua jalani di seberang lautan, jauh dari keluarga, itu berharga dan gua memanfaatkannya semaksimal mungkin. Bahwa gua sekarang kembali ke kehidupan lama gua, sebagai sosok pribadi baru yg tangguh, dan bisa membawa perubahan positif bagi orang2 di sekeliling gua.

Ada satu lagu yg menggambarkan perasaan gua saat ini...lagu yg dulu sering gua dengerin menjelang graduation SMA...

Go The Distance - Michael Bolton



I have often dreamed
Of a far off place
Where a hero's welcome
Will be waiting for me
Where the crowds will cheer
When they see my face
And a voice keeps saying
This is where I'm meant to be

I will find my way
I can go the distance
I'll be there some day
If I can be strong
I know every mile
Will be worth my while
I would go most anywhere
To find where I belong

Down an unknown road
To embrace my fate
Though that road may wander
It will lead me to you
And a thousand years
Would be worth the wait
It might take a lifetime
But somehow I'll see it through

And I won't look back
I can go the distance
And I'll stay on track
No I won't accept defeat
It's an uphill slope
But I won't lose hope
Till I go the distance
And my journey is complete
But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero's strength is measured by his heart

Like a shooting star
I will go the distance
I will search the world
I will face its harms
I don't care how far
I can go the distance
Till I find my hero's welcome
Waiting in your arms...

I will search the world
I will face its harms
Till I find my hero's welcome
Waiting in your arms


Bagaimana nih? Apakah temen2 ada yg punya pengalaman serupa dengan gua? Siapapun yg pernah kuliah/kerja di luar kota mungkin pernah ngalamin perasaan yg sama seperti yg gua alamin. Share donk di sini... =)

To look beyond the glory is the hardest part, for a hero's strength is measured by his heart...

You Might Also Like

25 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Segala sesuatu yg ada di dunia ini mungkin begitu,ada siang,ada malam,ada tawa ada sedih,ada mendapatkan dan kehilangan,semuanya seperti harus begitu supaya "roda "kehidupan berputar dan balance,mungkin...

    ReplyDelete
  2. eh, bener loh, Tuhan itu emang adil, semuanya dibikin seimbang. contohnya kayak gua, dikala pusing mikirin biaya kawinan yang bengkak sana sini, ampe saat ini gua dipertemukan dengan orang2 baik semua. minimal, ampe sekarang ga ada vendor2 yang rese.

    ini koq jadi curcol hahahaha.

    untuk meraih kesuksesan kan memang kadang ada yang harus dikorbankan. semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you. Ya, gua percaya semua akan indah pada waktunya...

      Delete
  3. untung gue kuliah di dalem kota sendiri, tapi kadang kasian juga kalo ngeliat temen2 yg asalnya dr luar daerah, mereka suka -seperti yg td lu bilang- uring2an sendiri. dan itu baru beda daerah loh..

    kalo nanya "is it worth it ?", well, senggaknya kita mesti punya keyakinan buat itu..

    jadi inget, di kartun fullmetal alchemist, ada yg namanya "The Law Of Equivalent Exchange", yg bilang "Humankind cannot gain anything without first giving something in return. To obtain, something of equal value must be lost." Mmhh, gue gak tau artinya apaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kalimat favorit gua dari Full Metal Alchemist, hehehe...kapan nulis blog lagi? Kangen liat tulisan lu, hehehe

      Delete
  4. buatlah tempat kamu berada sebagai rumah barumu...

    home is where you find comfort.

    if you cant... suck to be you xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. I did, but still...home is still unreplaceable...

      Delete
  5. Gue kasusnya beda, tapi pertanyaannya sama.

    Jadi gue terpaksa cuti kuliah buat ngumpulin uang kuliah, padahal gue udah klop banget sama sahabat-sahabat yang sekelas terus di kampus. Sepanjang cuti kuliah gue bertanya-tanya apa ntar semua berubah? Apa sahabat-sahabat gue masih tetep inget sama gue? Apa gue masih bisa barengan sama mereka mengingat mereka udah satu tingkat di atas gue?

    Dan saat gue balik...

    ReplyDelete
  6. semangat kak Keven (^_^)
    pengorbanan dan usaha keras itu nggak akan mengkhianati kok. hihi

    ReplyDelete
  7. Sebaik dan senyaman apapun "rumah" orang, tetap aja tempat terbaik itu "rumah" kita sendiri ya, Bang :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. There's no place better than home...agree...

      Delete
  8. Cup cup cup jangan sedih ya dek :) gw malah pengen bgt ke cina dulu tp ga tau caranya buat dapet beasiswa jadi lu itu adalah one in the million. Jgn sedih ya gw yakin lu bakal jadi org hebat. Krn skr gw punya 2 anak yg lucu2, gw ga ngerti apakah klo gw jd studi overseas dulu gw bakal punya mereka ato ga. So, God works in His way,right? Cheers and semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, semua itu pilihan hidup. Bener. =)
      Thanks sharingnya...

      Delete
  9. ini original soundtracknya Hercules ya kep?

    ReplyDelete
  10. Kalau soal anjing, banyak yang bilang 'binatang itu jauh lebih menghargai atau sayang atau ingat daripada manusianya sendiri', Ven.

    ReplyDelete
  11. yap, choices.. we have to choose something that we might not know which way is the best among others.. that's how life goes..

    nice share kev, bikin aku mikir :p

    ReplyDelete
  12. wuuuaaaaah lagu itu aku juga suka...
    jadi kangen sama michael bolton

    ReplyDelete
  13. Hai Ko keven, kbtulan aku skrg jg lg apply beasiswa s2 ke china.. Smua yg ko keven blg kyknya sm kyk aku.. Tp msh bngung jg nih kira" dpt ga ya ko.. Tp hrs optimis psti dpt.. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah hebat, apply ke kota mana?

      Delete
    2. Guangzhou, beijing.. ko keven apply ke kota mana?

      Delete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe