Kalo Gua Jadi Presiden...

22:35:00

Gua dan cawapres gua...sama2 ganteng kan?

Hari ini gua liat sebuah pertanyaan menarik di grup blogger Kancut Keblenger, dan waktu lagi ngejawab...eh ternyata gua keterusan ngejawabnya sampe jawaban gua panjaaaaaang banget. Akhirnya gua pikir, ya udah, mending gua jadiin sebuah postingan di blog aja ya, biar temen2 pembaca juga bisa tahu isi hati gua.

Screenshot, pertanyaan yg jadi inspirasi gua untuk postingan ini...

Bagaimana keadaan Indonesia saat ini?
Menurut gua, Indonesia saat ini ibarat seorang jutawan kaya raya yg punya segala hal yg dia inginkan di dunia tapi tidak dapat menikmatinya akibat ia mengidap sakit kanker stadium 4 yg ga ada obatnya karena kankernya udah menggerogoti segala sektor... Ironis banget, lebih ironis daripada cerita absurdnya sinetron Korea...

Apakah suatu hari nanti Indonesia bisa jadi lebih baik? Jadi pelopor, pembaharu, mercusuar dunia yg dihormati dan disegani oleh segala bangsa di dunia?
Pengen jawab iya tapi kalo liat kenyataannya...agak tidak mungkin...
Kecuali ada keajaiban terus muncul pemimpin yg super duper sakti yg bisa bikin rakyatnya nurut sama dia sehingga program2 yg ia buat didukung oleh rakyatnya

Setahun terakhir gua di hidup di China, mungkin inilah salah satu faktor utama yg membedakan Indonesia dan China. Di China, pemerintah dicintai oleh rakyatnya. Rakyat bangga, dan mendukung segala keputusan pemimpinnya. Jadi, meskipun tentu ada aja beberapa pihak yg ga puas, tapi programnya tetap terlaksana dan hasilnya dapat dinikmati secara nyata oleh rakyatnya. Setidaknya, ada program, ada hasil.

Nah, di Indonesia? Rakyat kerjaannya terus menerus mengeluh, menghujat pemerintahnya, segala macam kelakuan pemerintah dikritik. Boro2 bangga, yg gua liat yg namanya pejabat tuh sebagian besar udah identik kayak sampah masyarakat di mata rakyatnya sendiri. Tapi ya, bukan tanpa alasan kok karena memang gua sendiri kadang ga habis pikir melihat kelakuan para pemimpin kita. Kok bisa ya orang2 kayak gitu jadi pemimpin? Kalo mereka yg notabene otaknya minus aja bisa jadi pejabat, tentunya gua yg sedikit lebih waras dari mereka mestinya bisa donk jadi pejabat?

Tapi jadi pemimpin di Indonesia juga bukannya gampang. Karena ga ada dukungan dari rakyatnya, pemerintah mau ngapa-ngapain juga ga bisa. Seringkali gua denger di saat presiden bikin proposal program ini-itu, beliau selalu mendapatkan pertentangan dari pihak oposisi di DPR. Cuma melihat persaingan politik di negara kita yg kotor, kadang gua berpikir...jangan2 yg menentang itu bukan karena proposalnya tidak bisa dilaksanakan, melainkan karena kepentingan golongan. Kalo presiden dari kubu A gagal, tentunya di Pemilu berikutnya kubu B akan mendapatkan keuntungan. Kurang lebih beginilah dunia politik di negara kita...penuh dengan egoisme dan keserakahan.

Jadi boro2 bisa jadi mercusuar dunia, mau bangun mercusuar di negara sendiri aja belom tentu proposalnya disetujui oleh rakyatnya toh?




Apa yg salah dari Indonesia?
Banyak banget, sampe kalo mau dijabarin bisa jadi novel Trilogi...dan gua juga ga yakin temen2 pembaca niat baca sampe habis. Tapi, sebagai bahan perbandingan, gua akan coba pilih beberapa kesalahan yg kedengerannya simpel, tapi efeknya fatal...setidaknya menurut gua demikian...

Satu, agama jadi alat politik. Jadinya, agama di Indonesia bukan bikin orang tambah pinter tapi tambah bodoh. Bukan bikin orang tambah beradab, tapi tambah biadab.

Temen2 pernah denger soal "Agama Sipil" di Amerika Serikat ga? Jadi intinya, di Amerika, mereka punya peraturan bahwa agama adalah masalah pribadi yg ga boleh dibawa2 ke dalam bidang kehidupan lainnya, apalagi ke dalam politik. Jadi, meskipun rakyatnya punya aneka ragam agama dan kepercayaan seperti di Indonesia, dalam hal2 yg berhubungan dengan pemerintah, yg berlaku adalah Agama Sipil tersebut.

Saat seorang presiden dilantik misalnya, apapun agamanya, apapun kepercayaannya, dia akan mengucap sumpah hanya kepada "God", bukan "Yesus", bukan "Allah", bukan "Buddha", just "God", tanpa nama atau referensi ke agama mana pun. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya perselisihan antar umat beragama di kancah politik seperti yg terjadi di Indonesia saat ini. Contohnya di Pilkada Gubernur Jakarta terakhir misalnya, banyak beredar laporan bahwa terjadi kampanye gelap menentang Jokowi-Ahok yg disebarkan di tempat ibadah oleh para pemuka agama. Benar atau salah, tapi persaingan yg kayak gini tuh ga sehat kalo menurut gua. Politik ya politik, agama ya agama, ga usah dicampur aduk..

Dan tau ga, Founding Fathers kita, Presiden Soekarno dan kawan2nya, sebenarnya sudah mempertimbangkan masalah ini di saat mereka menyusun persiapan kemerdekaan, karena itulah sila pertama Pancasila kita berbunyi : "Ketuhanan Yang Maha Esa", bukan berdasarkan suatu agama atau kepercayaan karena agama seharusnya menjadi hubungan pribadi kita dengan Sang Pencipta, bukan alasan untuk saling membenci, bukan juga alat untuk meraih keuntungan pribadi atau golongan.

This is my simple religion.  There is no need for temples; no need for complicated philosophy.  Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness.  ~Dalai Lama


Kedua, egoisme. Moral SDM nya bobrok, KKN di mana2, semua maunya menang sendiri. Dan sayangnya, kebobrokan ini bukan cuma satu-dua orang, tapi seluruh lapisan masyarakat juga ada. Logikanya gini, kalo di sebuah desa yg isinya semua orang jujur ada satu-dua orang maling, pasti maling2 tersebut tidak leluasa beraksi karena takut ketahuan. Beda halnya kalo di desa itu semuanya maling. Kalo ada suatu kasus mau diusut juga susah karena semuanya juga punya kesalahan, kalo satu ketahuan, nanti yg lain juga ketahuan, makanya mending diem aja ikutin arus. Dan itulah yg terjadi di Indonesia.

Kasus WC umum seharga 2 milyar di gedung DPR yg sempat heboh tahun lalu contohnya, atau kasus hangat yg baru2 ini terjadi di mana DPR bikin RUU santet pake jalan2 ke Eropa segala, ngabisin milyaran. Dalam hal tersebut, yg bikin proposal aja udah gila, menurut gua. Tapi yg lebih gila lagi, kok ada ya yg mengapprove proposal gila seperti itu. Sinting. Yg bikin sinting, yg mengapprove sinting. Pasti pihak yg bikin proposal, maupun yg mengapprove proposal, dua2nya dapet "bagian" dari biaya milyaran tersebut. Semuanya maling.

Karena alesan nomer dua, makanya di nomer ketiga, gua rasa Indonesia ga cocok pake sistem demokrasi. Rakyatnya kalo dikasih kebebasan malah ngelunjak. Pemerintah bagaikan macan ga ada taring akibat ditentang oleh partai oposisi di DPRnya sendiri. Presiden gonta ganti terus, akhirnya programnya ga ada yg terlaksana sampai beres akibat tiap presiden punya kemauannya sendiri. Indonesia butuh pemimpin yg diktator, tegas, bertangan besi, tapi bijaksana dan dicintai rakyatnya, itu menurut gua.



Kalo suatu hari nanti gua jadi Presiden, gua bakal ngapain?

1. Gua bakal hapus agama dari KTP supaya manusia tidak lagi dipandang dari agamanya. Agama urusan pribadi manusia dengan Sang Pencipta. Ajarannya boleh diterapkan di dalam sikap dan perilaku, tapi ga boleh disangkut pautin ke bidang2 kehidupan yg lain.

2. Ga ada partai politik yg boleh kampanye bawa2 agama atau golongan. Jumlahnya juga akan dibatasi dan diregulasi supaya ga kacau kayak sekarang. Orang idiot ga akan bisa masuk DPR dan seenaknya interupsi kerjaan pemerintah padahal kerjaannya cuma jalan2 pake duit rakyat.

3. Anggaran belanja yg ga perlu kayak bangun WC atau gedung yg nilainya milyaran ga akan gua approve, apalagi kalo anggota DPR minta dibeliin iPad sambil ujung2nya cuma dipake maen Solitaire atau nonton video 3gp porno sewaktu rapat. Sebagian besar uang akan dialihkan ke sektor pendidikan, ga boleh lagi ada anak yg buta huruf, minimal semua harus lulus SMA. Kasih beasiswa untuk anak2 di pedalaman yg berbakat tapi ga mampu bayar sekolah. Sekolahin rakyat sampai ke luar negeri supaya pinter. Semua ini investasi jangka panjang supaya suatu hari nanti generasi muda bisa bawa Indonesia ke arah yg lebih baik.

4. Hukum mati semua koruptor, pembunuh, pemerkosa. Ga peduli anak pejabat kek, ga peduli anaknya pedangdut kek, semua sama perlakuannya. Biarin orang mengenang gua sebagai presiden diktator dan biadab, yg penting jadi shock therapy untuk semua orang jahat di luar sana. Jadi laen kali, sebelum orang berbuat jahat, dia bakal mikir dulu.

5. Rakyat ga boleh demo sembarangan kayak sekarang, apalagi sampai menyebabkan kemacetan dan berbuat anarkis. Gua akan bikin biro khusus untuk menampung aspirasi rakyat dan tentunya dengan metode yg terorganisir, bukan teriak2 di jalanan sambil bakar ban kayak sekarang. Kebebasan bukan berarti boleh bertindak kayak binatang.

6. Perlahan2 membatasi dan meregulasi campur tangan pihak asing dalam aneka sektor yg melibatkan kehidupan banyak orang. Gua pengen suatu hari nanti orang asing ga bisa seenaknya ngambilin SDA Indonesia untuk diolah, kemudian dijual kembali ke Indonesia dengan harga mahal. Kita harus bisa berdikari dan mengolah sendiri SDA punya kita. Sulit sih, mengingat utang negara kita terlalu banyak, tapi harga diri juga penting.

7. Pindahin ibukota ke Kalimantan atau Sulawesi. Jakarta udah terlalu padat, Pulau Jawa udah terlalu sumpek, saatnya daerah yg lain dibangun. Biarin kota2 besar di Pulau Jawa jadi kota yg punya otonomi daerah, pemerintah pusat akan fokus membangun daerah lain biar lapangan kerja bertambah dan kemiskinan bisa dikurangi.

8. Perbaiki tata kota di kota2 besar di Indonesia. Memperketat ijin pembangunan mall dan pemukiman di daerah serapan air untuk mengurangi bahaya banjir. Batasi jumlah mall dan pabrik di kota2 besar dan meningkatkan penghijauan. Batasi jumlah kendaraan, semua kendaraan yg umurnya di atas 25 tahun harus masuk gudang, dilarang beroperasi. Sisi2 jalan di kota besar harus ditanami pohon, setiap 10 km atau tiga blok akan dibangun sebuah taman kota dan juga public space yg nyaman dan aman supaya penduduk punya tempat untuk olahraga atau menghirup udara segar.

9. Memajukan pariwisata Indonesia. Indonesia ga kalah dengan China dalam hal keindahan alam, sayangnya pariwisata Indonesia tidak terurus dan dalam hal promosi masih kurang. Gua akan bikin standar nasional, registrasi, dan restorasi semua tempat wisata Indonesia, terus gua promosiin dengan gencar supaya Malaysia juga ga bisa seenaknya menggunakan keindahan Indonesia sebagai alat promosi mereka. Tentunya semua harus didukung dengan peningkatan profesionalitas dan kualitas infrastruktur tempat wisatanya.

10. Mengubah sistem pendidikan di sekolah2 Indonesia menjadi metode pendidikan kreatif. Ga cuma logika atau hafalan diagung2kan, tapi juga kreativitas dan inisiatif. Pengajaran di sekolah ga hanya sekedar bersifat ceramah, tapi juga praktek, studi kasus, dan melibatkan kemajuan teknologi seperti Internet dan juga boardgame. Rakyat ga boleh sekedar punya IQ, tapi juga harus punya EQ.

Semua yg gua tulis di atas gua yakin ga 100% bener dan ga 100% bisa diterapin, I know. Itu hanya pendapat pribadi gua mengenai negara kita, dan tentunya semua itu didasarkan pada observasi dan pengetahuan gua yg terbatas. Maaf kalo ada kata2 yg menyinggung, ga maksud menjelek2an salah satu pihak atau golongan lho.

Sekian kampanye terselubung gua. So, kalo Pemilu tahun 2025 nanti gua mencalonkan diri jadi presiden, adakah yg bakal milih gua? Hehehe...


You Might Also Like

44 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. like this post so much, kalo ini Twitter uda gua pencet retweet sama favorite button.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Share postingan ini di Twitter atau Facebook juga lumayan membantu kok, hehehe...

      Delete
  2. Gue udah melakukan yang nomor 10 tuh di kelas gue. Tapi ya namanya Indonesia, gue jadi "dimusuhi" sama guru-guru lain yang "cinta Indonesia". :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah? Masa? Coba ceritain gimana tuh kronologisnya...

      Delete
  3. masalah hukum juga. hukum di indonesia uda acak kadut. anak pejabat yang nabrak mati orang dibiarkan bebas berkeliaran, ckckckck. sementara koruptor-koruptor masih bisa cengengesan di tv, pada ga tau malu gitu.

    tapi yang namanya keajaiban selalu ada. contohnya jakarta, sekarang tiba-tiba dipimpin jokowi dan ahok. biarpun hasilnya belom terlihat jelas, tapi harapan itu pasti ada, karena mereka ga kayak pejabat2 lainnya. mudah-mudahan ada keajaiban juga ya buat indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeah, kalo ada keajaiban, gua yakin Indonesia bisa berubah jadi lebih baik...in fact, we really need a miracle now...

      Delete
  4. wah wah, kalo pemimpin negara indonesia mendadak jd diktator dan ngijinin hukuman mati dsb, bisa2 negara lain yg pny kekuatan langsung ngelirik indo, bertopeng menyelamatkan rakyat dari diktatornya terus perang2an n ngambil alih indo kaya jaman penjajahan jepang, lol. sebijaksana"nya seseorang pasti ada celahnya, yg ga mungkin nge-judge seseorang benar ato salah, satu persatu.
    tp emg presiden2 yg pernah memimpin indonesia msg2 pny kekurangan. presiden aja bs kena tipu xD
    msh perjuangan berat deh bwt indo kalo mau maju :D, harus d mulai dari rakyatnya juga. indonesia yg skrg ini mentalnya udah terlalu lama terdidik begitu, *susah ngubahnya*
    tp perubahan dimulai dari hal kecil, ngga ada alesan bwt putus asa XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makin sini cara ngomong dan mikir lu makin mirip si cici, hahaha...

      Delete
    2. cici yang mana yaaa ? O_O
      xixixi, saya jarang banget komen d blog situu.

      Delete
    3. Ehhhh, sori, gua salah orang, gua pikir lu adeknya temen gua, hahahahaa...maap2 ^^;;;

      Delete
  5. klo nti km mencalonkan jd presiden,so pst kepilih lah...apalagi wakilnya andy lau,wkwkwk...

    ReplyDelete
  6. Lu ga bisa ngelakuin semuanya sendiri kep, tapi lu punya tim yang bisa nguasai dunia dari belakang layar :D

    Salam "Naaaaaaaamaku xxxx xxxx" Lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip lah, selama gua menguasai dunia lewat depan, kalian, kayak "Shinsengumi", beraksi di balik bayangan ya...wkwkwk

      Delete
  7. Gw nggak mau punya wapres macam Andy Lau. Gw mau punya wapres kayak Bruce Willis!

    Sebetulnya rakyat Indonesia punya kekuatan untuk melengserkan pemimpin kalau mereka nggak puas, toh mereka sudah pernah melakukannya di tahun 1998. Yang jadi problem, rakyat sekarang itu nggak kompak dan itu terjadi karena kurang meratanya pendidikan.

    Terus, dulu tuh Soekarno sudah punya ide untuk memasang Palangka Raya di Kalimantan Tengah sebagai ibukota negara. Gw pernah tinggal di Palangka dan gw melihat bekas-bekas rencana Soekarno itu masih ada: ruas jalan yang tertata rapi, tata kota yang terencana. Kalau ibukota dipindah ke Palangka, gw setuju. Tapi pelaksanaan di lapangan akan sulit karena kita nggak tahu gimana prosesnya. Mana duluan yang harus dilakukan, memindahkan ibukota ke Palangka lalu membangun infrastruktur penunjang, atau nyiapin infrastruktur dulu baru memindahkan ibukota? Dua-duanya, sama-sama "frustating".

    Tapi menurut gw setiap orang memang wajib punya agama, dan wajib itu ditandai cantuman agama di KTP. Menurut gw, orang yang nggak percaya Tuhan, pasti akan kesulitan mengurus dirinya sendiri daripada yang percaya Tuhan. Tapi agama itu cukup sampek di KTP aja, nggak usah jadi cap untuk memandang seseorang, apalagi sampek bikin diskriminasi cuman gegara agama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga punya agama bukan berarti menganjurkan supaya rakyat ga percaya Tuhan tapi gua liat akhir2 ini tuh agama udah terlalu banyak disalahgunakan, dijadikan alat untuk me'label"kan orang. Ada juga beberapa lembaga seperti sekolah misalnya yg pilih kasih menggunakan agama sebagai kriterianya.

      Coba liat negara2 lain di dunia, sebagian besar negara yg penduduknya menganut aneka ragam agama, US misalnya, tidak mencantumkan agama di KTP nya. Kenapa? Gua pernah tanya sama mereka, mereka jawab karena mereka ga mau nanti orang dikotak2an berdasarkan agamanya. Itu urusan pribadi manusia dengan Sang Pencipta, ga usah dibawa2 untuk urusan duniawi.

      Mungkin ga semua orang bisa nangkep maksud gua ini, tapi ini langkah awal untuk mencegah terjadinya pembodohan dan manipulasi politik berlabelkan agama seperti yg terjadi sekarang ini...

      Delete
  8. dosenku juga bilang kalo Indonesia ini gak cocok pake sistem demokrasi, soalnye pemikirannye masih purba. kata doi sih demokrasi cuman buat negara yang udeh maju.

    sebenernye demokrasi ini enak ye tapi entah kenape penduduk Indonesia itu.... bener-bener ngelunjak. dan bagusnye emang kalo dipimpin sama diktator macem Soeharto, lebih aman. kata nyokap sih pas jaman Soeharto, Indonesia kagak gini2 amat. cuman ya gitu deh, Soeharto rasis ye dan diktatornye keterlaluan hihihi :p

    Ya pokonye, cuman 1 yang kt butuhin : PEMIMPIN YANG BENER2 TEGAS, GAK LOYO, GALAK, DAN AMANAH.


    Ayolah ko, buruan jadi presiden!!!! hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama pendapat lu, hehehe. Tunggu aja tanggal mainnya ya, gua mau kontak Andi Lau dulu, tanyain dia mau ga mau jadi Presiden Indonesia tahun 2025 nanti, hahaha...

      Delete
  9. kita, Indonesia, masih di buat jadi "satu" bukan "bersatu" ini yang bikin kita jadi satu-satu. ayo bersatu !

    ReplyDelete
  10. Awal-awal postingan, gue setuju sama lu, apalagi yang soal kondisi Indonesia. Itu sama persis kayak yang dibilang dosen KWN gue dulu. Doi pernah bilang Indonesia itu kayak orang kena Kanker stadium akhir dan perlu waktu lama banget buat sembuh total (Kalau gak meninggal).

    Cuman...

    Yang gue gak setuju, yang soal hukuman mati. Apalagi ke koruptor. Bertolak belakang ke pernyataan lu yang menganalogikan soal egoisme negeri ini. Soalnya yang terjadi akhir-akhir ini, yang ketangkep itu seringkali bukan otak atau dalangnya, Ven. Seringkali hanya 'boneka'nya aja. Si X dihukum mati karena korupsi, nih; padahal dalangnya itu si Y. Dan si Y sudah melenggang bebas di suatu tempat - entah dimana. Kasus korupsi di Indonesia itu rumit, bro - gak kayak pemerkosaan dan pembunuhan yang pembuktiannya tak seperti korupsi.

    Kalau soal agama, menurut gue masih perlu ditaruh di KTP. Terutama untuk keperluan sensus dan ada beberapa hal dimana kita perlu tahu agama seseorang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal agama udah jawab di atas, soal hukuman mati, gua rasa rakyat Indonesia udah kebal sama yg namanya hukum. Sel penjara aja bisa ditransform menjadi seperti hotel kalo nyogok sipirnya, itu yg terjadi dengan para koruptor kita yg ada di penjara saat ini. Belom lagi hukum Indonesia yg ga ketat dan gampang diputar balik. Selama ada duit, ga ada yg ga mungkin.

      Gua tau kalo korupsi tuh efeknya berujung panjang dan ujung2nya ga pernah selesai kasusnya, makanya bagusnya Indonesia harus punya pemimpin yg tegas dan siap dihujat sama negara lain. Hukumnya juga harus diperketat, ga boleh loyo dan gampang disogok kayak sekarang.

      Kasus korupsi? Hukum mati semua yg terlibat. Sekali aja yg kayak begini diberlakukan, siapa sih yg berani korupsi lagi? Mau korupsi sedikit aja resikonya hukuman mati, ga takut lu?

      Lu tau kenapa negara besar seperti China misalnya, dengan penduduk tujuh kali lipat Indonesia, tapi tingkat kriminalitasnya lebih rendah? Dulu, waktu awal China merdeka, kalo ada pejabat ketauan korupsi atau membunuh misalnya, mereka dihukum mati...di depan umum.

      Bawa ke town square, tutup matanya, tembak dari jarak dekat. Butuh berapa peluru untuk matiin dia? 3 peluru misalnya. Satu peluru harganya seratus ribu, berarti keluarga dia harus bayar tiga ratus ribu. Kejam? Memang. Tapi lu liat efeknya sekarang. Seberapa maju negaranya?

      Untuk mencapai sesuatu, butuh pengorbanan. Rakyat Indonesia ada banyak, hukum mati segelintir untuk mendisiplinkan sisanya, gua rasa ga muluk2 tuh. Ga usah bawa2 HAM untuk kasus kayak gini, lu pikir emang itu pembunuh, pemerkosa, teroris, koruptor, mikirin HAM waktu mereka lagi beraksi?

      Delete
    2. Kalo terlalu banyak mikir, terlalu banyak ragu2, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak bimbang, yg ada ya ujung2nya ga akan terlaksana dan ga akan ada hasilnya. Ini yg terjadi di negara kita sekarang.

      Forget all the reasons why it won't work and believe the one reason why it will.

      Delete
  11. Menurut saya mencantumkan 'agama' di baik itu KTP, ijazan, kartu keluarga, rapor sekolah, etc masih penting deh.
    Secara, KTP itu kan Kartu Tanda Penduduk, tetapi lebih dipakai sebagai 'Kartu Tanda Pengenal' alih-alih 'Kartu Tanda Status'. Di KTP itu sendiri kan ada status kawin, tgl lahir, golongan darah, dan data-data lainnya. So, nanti entah itu polisi, atau guru, atau ketua RT yang nemuin entuh KTP paling enggak ngedapetin gambaran, apa sih agama yang dianut oleh pemilik ini? Kalo islam kan bisa aja dibawa ke mesjid, gitu lho. Jadi lebih gampang mengusut segala sesuatu dengan adanya identitas 'agama' si pemilik.

    Btw, yang paling setuju itu pemindahan ibukota! Setuju banget. Pak Sukarno aja dulu bilang kalo pusat negara Indonesia jangan di Jakarta. Sukarno malah pengen pusat Indonesia tuh dulu di Palangkaraya. Pusat pemerintahannya gpp lah tetep di Jakarta, secara Indonesia kan terbentuk di Jakarta. Di Jakarta juga banyak terdapat bangunan2 sejarah Indonesia. Mulai dari Istana Negara, Monas, Istiqlal (yang katanya mesjid 'saksi kemerdekaan Indo'), Kota Tua, TMII, etc.
    Aturan tuh, Jakarta kayak Washington DC. Sepi, penduduknya dikit. Bukan pusat hal2 yang berbau komersial dan kegaulan negara. Tanah di Jakarta juga harus mahal banget. Karena Jakarta adalah pusat pemerintahan, tempat tinggal pemerintah Indonesia beserta keluarga dan tempat tinggal keluarga pejabat Jakarta. Bisa juga jadi pusat pertelevisian, perusahaan, tempat tinggal orang-orang 'besar' Indonesia. Mallnya dikit saja, ngga usah banyak-banyak. Di Jakarta lebih banyak gedung pemerintahan bla bla bla ketimbang pusat hiburan Indonesia.

    Lah trus pusat Indonesia dimana?
    Harus di luar Jawa. Biar pulau Jawa tidak padat lagi. Saya maunya sih di kota Batam, Riau. Soalnya deket Singapura dan Malaysia. Strategis. Bule2 pada sering kesana. Udah gitu pendapatan per kapita di Riau--khususnya Batam--gede lho. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_provinsi_Indonesia_menurut_PDRB_per_kapita. Banyak orang yang mencari pekerjaan di Batam. Letak Batam juga tidak berdekatan dengan Samudra Hindia, lautnya tidak dilalui lingkaran api. Jadi relatif aman dari bencana khususnya gempa dan tsunami. Kota seperti Batam, berpotensi jadi pusat gaul dan bisnis Indonesia. Artis-artis nanti tinggalnya di Batam, bukan di Jakarta lagi. Jadi, Batam semacam 'New York'nya Indonesia.

    Sekarang, orang2 di daerah pada berbondong2 meninggalkan daerahnya dan mencari pekerjaan di Jakarta. Dianggapnya Jakarta itu adalah segala2nya, bisa mengubah segala2nya. Padahal enggak.
    Harusnya, di tiap provinsi tuh ada kota besarnya. Misal, Semarang dijadikan kota yang fasilitasnya se-oke Jakarta, tapi sesuai standar Jawa Tengah. Jadi, orang2 Jawa Tengah cukup bekerja di Semarang saja, tidak perlu merantau ke Jakarta. Begitu juga Bandung, harus jadi kota besar dan pusat Jawa Barat. Surabaya, Jogjakarta, Palembang, Padang, Medan, Jayapura, Makassar, Manado, Kupang, Mataram, Ambon, dll juga harus begitu, jadi, orang2 tidak lagi berkumpul di pusat pemerintahan maupun pusat negara. Semua tetep stay di provinsinya masing-masing, mengembangkan potensi daerahnya masing2.

    Jadi, persebaran penduduknya merata, karena di tiap pulau, bahkan propinsi sudah ada Kota Besar yang bisa diandalkan. So, penduduk Indonesia tidak berkumpul di satu tempat saja, apalagi tempat berkumpulnya adalah di Ibu Kota (yang juga menjadi pusat bisnis-_-) :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah deng, IbuKota dan pusat pemerintahan tetep di Jakarta.
      cuma pusat negara, kawasan bisnis, dll itu yang 'dibangun lagi' di Batam.

      Delete
  12. Ane ga kuat liat poto presiden dan cawapresnya..
    keren abis..!!

    ReplyDelete
  13. ngakak liat fotomu, Ven. hahaha...gokillll...

    ReplyDelete
  14. asal nggak kayak farhat abas aja yang ngikut saran eyang subur biar jadi presiden wkwk :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang eyang subur kasih saran apa?

      Delete
  15. om tema postingan kita hari ini sama x)) tapi saya gak niru kok om. sama sama terinspirasi dari #DiskusiKK yang kemarin x)) tapi keren sih. setuju sama om shakti :v

    ReplyDelete
  16. yes I agree, demokrasi kurang cocok dengan Indonesia, karena kembali menilik sejarah, demokrasi di Yunani dulu dilakukan dalam lingkup kekuasaan yang kecil, ditambah demokrasi hanya akan berhasil diterapkan bagi warganya yang sudah berpikir dan dewasa

    #dukung kak Keven jadi Presiden :D

    ReplyDelete
  17. yaaa begini lah Indonesia, kak. tugasnya kita ke depan nih, mau bawa Indonesia ke jalan yang lebih curam atau ke jalan yang mulus.
    aku yang kuliah di fak sospol, sedikitnya tau tentang pemerintahan dan Indonesia. ternyata memang gag mudah jadi manusia di negeri ini. semuanya serba salah. yang benar pun kadang jadi ikut salah. maka dari itu, ini tugas kita untuk memperbaiki Indonesia.
    buat mindahin ibukota ke luar Jakarta, aku kurang setuju kak. jangan2 nanti malah muncul Jakarta2 lainnya. menurutku lebih baik Jakartanya dirapikan aja, bukan dipindah. toh kalo dipindah pun, butuh biaya yang besar juga kan. ngadepin Indonesia itu perlu realistis juga soalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ibukota ga dipindah, pembangunan akan terus menerus terpusat di Pulau Jawa karena perekonomiannya juga hanya terpusat di situ...

      Delete
  18. "Rakyat ga boleh sekedar punya IQ, tapi juga harus punya EQ."
    SETUJU BANGET!!!!!

    ReplyDelete
  19. foto kiri, kok jadi mirip aceng fikri ya???
    hihihihi....

    ReplyDelete
  20. kayaknya indonesia raya harus belajar ke jogja agar rakyatnya mencintai pemimpin dan pemimpinnya pun bisa beneran ngayomi rakyatnya. tapi entah dengan faktor kultural yang beraneka ragam mungkin tak cocok dengan falsafah jawa. aku bilang begitu karena yang suka bikin rusuh jogja kebanyakan pendatang dari suku lain yang tak perlu aku sebutin biar ga terkesan sara. ada sih orang jawa yang rese tapi cenderung lebih mudah untuk dikendalikan

    ReplyDelete
  21. Hmmm.... sayang cuma seandainya yah kk vin, dari beberapa kasus yang ada nich...

    1. Sri Mulyani itu orang pinter serta bersih di bidang ekonomi dan bahkan sekarang dijadikan orang no 1 di bank dunia, tapi ketika dia menjabat di kabinet sby, dia malah dituduh korupsi sehingga stress berat... Jadi orang jujur di dunia politik itu adalah mustahil..

    2. Si Foke itu gubernur bagus di Jerman, dia dikasih wewenang ngatur satu kota di Jerman dan berhasil sangat bagus, pihak Jerman aja angkat tangan, Tapi pas balik ke Jakarta, dia cuma mengisi baliho2 aja.

    3. Si Habibie itu orang pinter juga di Jerman bahkan sampai sekarang dia masih mendapatkan hak paten atas kereta apinya tapi lagi-lagi di Indonesia, dia juga disisihkan..

    jadi kayanya untuk mencapai no 1 di Indonesia tidak akan pernah bisa jadi orang yang idealis atau bersih karena banyak pihak yang bakal mengencetmu... Apa masih ada orang baik yang bisa bertahan di top 10 pemerintahan ? jawabannya mustahil

    cuma satu hal yang bisa menyelamatkan indonesia, lakukan sperti apa yang dilakukan di Hongkong, dimana bagian hukum, polisi dan pemerintahan sama2 melakukan revolusi (google aja yah buat tau lebih lengkapnya)

    ReplyDelete
  22. Setuju om '-')9

    Lagian meskipun di KTP ada agamanya tertera, tetap aja perilakunya tidak mencerminkan ajaran agamanya, bahkan beribadah pun tidak/nggak pernah. Ada orang kayak gtu.

    Selain itu masyarakat yang terlampau "berani" dan "mau enaknya aja" plus "pengennya instan" bikin pemerintah stress mau netapin peraturan yang kek apa.

    Tapi seperti masyarakat Indonesia kebanyakan, gua sendiri cuma bisa protes, berusaha secara fisik/nyata buat perubahan aja sepertinya belum pernah, jadi.... saya juga bersalah. Toh ane juga cuman bisa 'ngeluh'. ~~

    ReplyDelete
  23. setubuh eh setuju om.
    saya akan mencoblos om jika iya mencalonkan jadi presiden asalkan amplopnya yg tebel ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo amplopnya kurang tebel, nanti gua dicoblos belah mananya? Hehehe...

      Delete
  24. Setuju banget nget nget.
    Tapi pemimpin aja gak cukup buat mengubah suatu negara. Yang paling penting adalah rakyatnya.
    kalo amerika dipimpin SBY, masih tetep bisa maju. bayangin aja kalo Indonesia dipimpin sama presiden sekelas Obama, kayanya gitu2 aja deh.
    Karena kekuatan negara--terlepas dari bentuk negaranya--selalu berada pada rakyatnya. penduduknya. bangsanya. masyarakatnya. bukan pemimpinnya.
    mau setegas apapun, segalak apapun, sebesi apapun tangannya, kalo rakyatnya gitu2 aja ya sama saja bohong dia memimpin. malah ujung2nya, bisa2 si pemimpin itu sendiri yang malah jatuh ataupun menjatuhkan negaranya (ingat pengalaman negeri ini beberapa tahun silam?)

    Yang jelas, menghadapi negara seperti Indonesia ini jangan idealis, haruslah realistis dulu (kalo perlu sih perpaduan keduanya). soalnya indo masyarakatnya belum maju sih. belum mau diatur. belum bermental menang. kata dahlan iskan aja (yang sering ke China), pegawai disini kalo dikasih susu sama bosnya biar keluarganya sehat, eh, malah dijual susunya. kalo dikasih baju bagus biar makin enak diliat, malah dijual bajunya. beda sama di china yang cleaning servicenya aja bajunya enak diliat :p karena mereka sudah 'bermental menang'.
    disini, masih banyak yang belum bermental menang. dikasih kesempatan menang, eh malah mundur kalah. masih kebawa2 zaman penjajahan kalo 'Bangsa kalian tuh kalah'. masih banyak yang nganggep kalo bangsa kita 'jelek, rendah, kalah, ngga bisa menang' dan luar negeri itu 'bagus, keren, udah menang, selalu juara, menguasai kita'.
    memang betul, Indonesia butuh pemimpin yang baik: amanah/dapat dipercaya, mau mendengarkan rakyatnya, ngemong, bijaksana, open minded, berkepala dingin, cerdas, mempunyai visi ke depan. juga yang berkharisma biar bisa menarik simpati rakyatnya. Biar suri teladan beliau diikuti oleh rakyatnya. Contohnya adalah soekarno, singa podium itu. yang semangatnya membara bagaikan kobaran api yang lantas piawai memengaruhi pikiran seluruh rakyatnya. kharismanya meluap-luap sehingga rakyatnya pun segan dan hormat pada beliau. =p
    Juga Presiden Habibie, presiden yang paling tenang karena beliau merupakan seorang ilmuwan, profesor jebolan Jerman yang cerdas dengan segudang prestasi. Wawasannya luas, pola pikirnya ngga sempit dan super open minded. Orangnya juga super tenang, tidak suka perkelahian. Jangan salah, walaupun beliau tenang dan ngga galak, orang-orang malah sangat simpati dan percaya terhadap Habibie.

    Jadi koko keven harus selesaiin kuliahnya di china dulu, kalo perlu malah ngelanjutin di negara lain (eh..?). Biar prestasinya makin banyak dan rakyat indonesia pun percaya dan simpati. Sukur2, habis itu rakyatnya malah jadi sangat percaya dan mau ngedengerin dan ngikutin segala petuah-petuahnya Presiden Keven.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap ^^ Thank you untuk dukungannya. Gua bakal belajar yg rajin, siapa tau suatu hari beneran bisa jadi Presiden Indonesia, hahaha

      Delete
  25. Kep!
    Jawaban lo bisa dapet A deh di kelas IlPol gue jaman kuliah dulu hahaha. (percaya nggak sih lo, gue gini2 majored in Political Science) hahahaha
    Anyway, gue setuju kalo:
    1. mesti apus agama dari KTP. NGGAK PENTING BANGET.
    2. Nggak boleh lagi pake agama sebagai alat politik. So no more partai2 pake embel2 agama atau ras.
    3. Ubah democracy jadi united states kayak USA. Tiap provinsi kita aga Governor sendiri dan law nya sendiri2. No more centralized gorvernment!!!
    4. Pindah Ibukota! YOI banget! Bedain distrik ekonomi (Jakarta yang obviously gak bisa diubah) dan distrik pemerintahan.
    5. disurbanisasi boookkk!!!! Tanah luas gini kok numplek nya di Jakarta semua. Huah.
    6. EDUCATION!!! Sangat2 penting.

    Yang nggak setuju:
    1. Hukum mati. Nope. Never agree with this one. Sorry =)

    So bottom line, KEPPI FOR PRESIDENT!!! hahaha. You got my vote Kep!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Majored in Political Science??? OMG...I never expected that one, hahaha...

      Thanks for the input though..I'll think about the death sentence, but the other suggestion is APPROVED =)

      Delete
  26. OMG, LOL. Foto presiden ama wapresnya lucu bangeeeet. Bawaannya jadi kepengen cium-cium mulu hahaha...tapi ke foto wapresnya doang fufufu~

    Freya setuju banget sama kata si koko claude. Dari dulu sering kepikiran sistem untuk memperbaiki negeri ini. Yang bikin heran adalah bangsa kita punya buanyaaak banget orang cerdas yang bisa bikin segala sesuatunya jadi lebih baik, entah itu bidang teknologi, lingkungan, hukum, dll. Tapi banyak dari orang cerdas itu malah lari ke luar negeri. Selain karena duitnya lebih gede (ini udah jelas banget), tapi juga ada penghargaan yang tinggi buat hasil karya mereka.

    Ane punya kenalan orang dari err...(duh bilang ngga ya di sini) pokoknya dari univ teknik paling wahid di indo (pasti deh semua pada tahu). Mereka bilang mereka ngga mau produksi hasil karya mereka di indonesia, karena bukannya untung malah buntung. Udah puter otak susah-susah, mo coba patenkan hasil karya, tapi nantinya bisa loh patennya itu dinyatakan tidak berlaku lantaran ada orang yang duitnya lebih gede nyogok sana-sini biar petennya jatuh ke tangan dia. Gila ngga tuh? Kalo udah gitu yah terpaksa mereka tidak bisa mengecap keberhasilannya sendiri.

    Dan soal lingkungan, elo percaya kaga sebenarnya indo ngga pernah kekurangan duit untuk memperbaiki lingkungan. Aku ada kenalan yg kerja di bagian lingkungan gituh. Jadi sebenarnya ada banyak negara maju yang sadar betapa pentingnya negara indo untuk lingkungan dunia. Kalo ngga salah sih hutan tropis indo itu punya banyak fungsi global kayak bisa mengubah iklim global, menyimpan kadar oksigen dunia yang cukup besar, dan banyak lainnya. Karena alasan yang banyak itu, ada beberapa negara maju yang selalu kasih sumbangan secara konsisten TIAP TAHUN untuk perbaikan lingkungan dan perlindungan satwa2(aku kaget hal ini ngga disorot). Ajaibnya, semuanya jadi NOL BESAR pas kita lihat indo-nya sendiri. Masih ada banyak penjualan satwa langka, hutan-hutan udah mulai gundul,dll. Parahnya lagi, denger2 ada banyak orang yang membentuk organisasi lingkungan untuk nipu negara2 maju tadi pake nama indonesia.

    Ane juga setuju soal SDA kita yang dieksploitasi orang asing. Udah waktunya kita sendiri yang mengelola SDA kita sendiri dan ngusir semua orang asing yang udah memperbudak kita pake acara menyembunyikan fakta kalo kita sebenarnya adalah penghasil emas terbesar di dunia, bukannya afrika oiy penghasil emas terbesar, tapi indonesia. Pokoknya perusahaan itu harus diusir selama-lamanya secara diktator walau resikonya mungkin kita dibom nuklir habis sama negara yang punya tuh perusahaan hahaha. Tapi emang kalo dipikir-pikir dari zaman soeharto juga mereka udah ngga manusiawi banget. Pake acara nembakin orang2 segalalah. Trus denger2 sekarang perusahaan itu juga dijaga sama pasukan militer dari negara perusahaan itu. Wuih...kalo udah sampe segitunya berarti jangan2 pertambangan emas kita sebenarnya jauh jauuuh lebih besar dari afrika? Bah, ini semua gara2 si soeharto. Kalo bukan karena dia, kita mungkin udah jadi negara super kaya yang jauh lebih kaya dari negara yang jagain tuh perusahaan.

    Ebuset gw komennya panjang bener. Moga2 nyawa gw selamat yah nulis soal perusahaan itu. Yang penting ane kaga cantumin namanya :P

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe