Oh, Jadi Begini Ya Rasanya Didiskriminasi?

22:18:00



“I know there is strength in the differences between us. I know there is comfort, where we overlap.” 
― Ani DiFranco


"Rasisme"
Gua inget, pertama kali gua mendengar kata yg satu ini adalah sewaktu pelajaran sejarah di kelas 1 SMA. Reaksi pertama gua adalah..."Baleg lah (yg bener aja), masa ada orang yg mikirnya setolol itu? Mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan ras, agama, dan warna kulit?"

Kenapa gua bisa berpikir sepolos itu? Biar gua jelasin...
Dari TK sampai lulus SMA, gua sekolah di sekolah swasta Katolik. Tapi meskipun sekolah gua adalah sekolah Katolik, isi muridnya beraneka ragam. Kulit putih, kulit hitam, orang Sunda, Jawa, Ambon, Batak, Tionghoa, Manado, Medan, semua ada. Agamanya pun bermacam-macam, mayoritas memang Katolik, tapi ga sedikit juga yg beragama Islam, Kristen, Buddha, cuma memang yg beragama Hindu jumlahnya paling sedikit.

Hidup di lingkungan yg begitu plural dan beragam, dari kecil gua udah terbiasa sama yg namanya PERBEDAAN, tapi kita tidak memandang PERBEDAAN tersebut sebagai hal yg mengganggu, melainkan sebagai suatu hal yg indah. Misalnya, pada saat teman Muslim sedang berpuasa, kita-kita selalu menghormati dia dengan cara ga makan di depan dia. Kalopun pada saat sedang makan/minum dan ada teman yg lagi puasa lewat di dekat kita, kita otomatis bakal bilang "Punten (permisi) ya..." Semua itu sih udah insting, sejak SD pun udah jadi suatu kebiasaan, ga perlu diajarin lagi. TOLERANSI itu udah jadi gaya hidup, bukan hanya sekedar teori di pelajaran PPKN.

Kalo ada teman yg sedang merayakan hari raya agamanya, kita akan langsung nyelamatin dia. Hey, selamat Natal ya! Gongxi Facai! Minal Aidin ya! Selamat Hari Raya Waisak! Malah gua inget, waktu kelas 5 SD, waktu Lebaran kita rame-rame maen ke rumah temen kita yg beragama Muslim. Karena waktu itu belum jaman parcel-parcelan, kita bawa buah-buahan, biskuit, sirup, dll...dan sampe di rumah temen kita itu, kita ditraktir makan ketupat dan opor ayam. Pertama kali seumur hidup makan ketupat tuh, jadi sampe sekarang gua masih inget dengan jelas.

Dan waktu Imlek, sobat non-Tionghoa gua yg keluarganya adalah campuran Katolik-Muslim, maen ke rumah gua dan waktu itu mama gua kasih dia Angpao. Saking senengnya, sampe pas mama papanya jemput dia, dia keluar rumah sambil jerit-jerit. "Ayah, Bunda, aku dikasih Angpao! Aku DAPET ANGPAO!" Hahahaha... Buat dia, amplop merah bergambar karikatur Barongsai itu adalah sebuah harta yg berharga, melebihi isinya.

Semuanya begitu natural, begitu indah, no hard feeling. Ga kayak yg terjadi di masyarakat kita jaman sekarang, masalah ngucapin selamat aja jadi perdebatan nasional. Setiap menjelang Natal, Imlek, atau Valentine, jalanan penuh sama orang yg demo. Ga boleh ngucapin selamat Natal, ga boleh ikut ngerayain Imlek, Valentine haram najis ijis cuih! Jaman gua sekolah dulu, gua ga pernah denger yg kayak gitu.

Dalam berteman pun kita ga pilih-pilih. Mau dia item atau putih, Tionghoa atau Pribumi, orang Jawa atau orang Ambon, Katolik ataupun Muslim, SEMUANYA adalah teman. Ga ada diskriminasi atau perbedaan perlakuan yg didasari oleh perbedaan SARA. Ya kalo antar teman saling berantem sih itu lumrah ya, namanya juga anak remaja, emosinya masih labil. In the end, kita semua adalah satu keluarga di bawah logo bunga Lily putih yg menjadi lambang sekolah gua itu...sampai hari ini.

Karya gua waktu jaman kuliah dulu hehehe

Karena itulah bisa dibilang, menjelang masa kuliah dulu, gua tuh termasuk masih termasuk seseorang yg sangat polos, sangat naif, dan bener-bener clueless terhadap realita yg ada di masyarakat. Pada tahun 2006, gua masuk ke sebuah PTN ternama di kota gua. Gua bangga banget bisa kuliah di situ, dan semenjak hari pertama gua menginjakkan kaki di situ, gua udah bercita-cita bahwa gua akan bikin masa kuliah ini jadi jadi masa yg paling menyenangkan di dalam hidup gua.

Temen-temen sejurusan gua di sana isinya dari beragam suku bangsa, semuanya baik dan juga menyenangkan. Temen pertama gua di kampus adalah seorang Muslim luar pulau dan gua seneng banget ngobrol sama dia. Gua seneng kenal sama orang baru dan gua seneng bisa mendengar cerita tentang kehidupan dari sudut pandang yg berbeda. Gua excited, gua yg dari TK sampai SMA sekolah di sekolah yg sama, untuk pertama kalinya gua keluar dari zona aman gua. Pertama kali ngerasain yg namanya "terjun ke masyarakat" dan ternyata tidak semenakutkan seperti yg orang-orang sering bilang.

Tapi sayangnya, ternyata gua salah.

"YANG CINA SEMUA BERDIRI!" itu teriakan salah seorang senior yg memimpin ospek jurusan kita waktu itu. Sebenernya yg namanya osjur itu udah dilarang oleh kampus, tapi waktu itu atas nama solidaritas terhadap jurusan, gua memilih untuk tetap ikut. Teriakan tadi menggema di hati gua lebih keras daripada di kuping gua. Beberapa orang yg kulitnya putih dan matanya sipit, dengan enggan dan canggung, pun berdiri.

Sekilas gua teringat akan kata yg sempat gua pelajari di pelajaran sejarah waktu SMA dulu... "Rasisme" Gua ga nyangka bahwa malam itu gua akan mengalami sendiri. Sementara gua masih bingung antara harus berdiri atau tetap duduk, senior tadi menghampiri salah seorang "Cina" yg tadi berdiri paling pertama.
"Apa lo sipit? NANTANG? Lu ngerasa diri bos di sini?" kata senior tadi.
"Gue ga suka lo manggil-manggil gue Cina!" kata "Si Sipit" itu.
Si senior emosi dan langsung menarik kerah Si Sipit, Si Sipit berontak dan pergumulan pun hampir terjadi. Untung saja, senior-senior lain segera datang dan melerai mereka berdua. Kemudian segalanya blur. Gua ga inget apa yg terjadi setelah itu. Kepala gua terasa pusing, efek lapar karena ga sempat makan malam ditambah shock atas kejadian yg baru saja terjadi membuat gua mual. Mual. Muak. Jijik.

Oh jadi begini ya rasanya didiskriminasi? Untuk pertama kalinya seumur hidup, gua ngerasa jijik sama diri gua. Gua ngerasa kayak seekor domba di tengah kerumunan burung gagak yg pantatnya baru dikasih cap pake besi panas. Sakit...malu...dan gua bener-bener pengen secepetnya pergi dari situ. Malam itu, untuk pertama kalinya gua menyadari bahwa gua ini adalah "kaum minoritas" di Indonesia. Malam itu, untuk pertama kalinya gua mengerti kekhawatiran nyokap gua setiap kali gua minta izin untuk jalan-jalan keluar rumah sendirian.

Malam itu, kepolosan gua hilang, dicabik oleh kejamnya realita.



Dan semenjak itu segalanya berubah, seolah-olah gua mendadak melihat dunia dari kacamata yg berbeda. Oh, gua Tionghoa, dia Jawa, dia Manado. Gua Katolik, dia Muslim, dia Buddha. Mendadak orang-orang di sekeliling gua mempunyai "label" di kepalanya.

Hari itu gua baru menyadari bahwa kita di Indonesia hidup terkotak-kotak sesuai label, seperti barang di supermarket, ada label nama, deskripsi, dan juga harga. Jeruk Bali ditaruhnya di kotak A bersama Jeruk Bali lainnya, sementara para Jeruk Limau tempatnya di kotak B. Jeruk purut sih harganya rendah, taruh saja di pojokan...oh ya jeruk Sunkist yg harganya mahal harus ditaruh di kotak paling atas, supaya paling eye catching.

Haruskah kita hidup seperti itu? Terkotak-kotak oleh ras, agama, gender, warna kulit, dan bahasa? Perbedaan itu tidak bisa dihindari, tidak bisa ditiadakan, tapi kenapa harus dibenci? Kalian lihat aja deh berita-berita yg bertebaran di social media kita...

Jeruk Lemon untuk bahan minuman, Jeruk Nipis meskipun asam dan kecut tapi aromanya cocok untuk masak dan juga mencuci, jeruk Mandarin gampang dikupas jadi cocok untuk makanan pencuci mulut. Bayangin kalo di supermarket hanya ada satu jenis jeruk...makan jeruk Sunkist, minum juga jeruk Sunkist, nyuci juga dengan jeruk Sunkist. Betapa membosankan! Tapi dengan ada aneka pilihan, bukankah hidup ini jadi lebih menarik?

Bukankah buket bunga yg indah adalah yg terdiri dari aneka ragam bunga dan warna?

Kisah di atas hanyalah satu dari sekian banyak contoh diskriminasi SARA yg masih terjadi di Indonesia sampai hari ini. Gua juga menulis cerita ini hanya sebagai bahan instrospeksi bagi kita semua, bukan untuk menjelek-jelekan pihak atau instansi tertentu.

Gua harap akan datang harinya di mana kita, ga cuma rakyat Indonesia, melainkan seluruh umat manusia di dunia, bisa saling menghargai perbedaan dan saling bertoleransi, seperti yg gua alami selama bersekolah di SMA bunga lily putih. Lebih mudah mencintai daripada membenci, lebih mudah bertoleransi daripada berkonfrontasi. 

Kita semua SAMA, sama-sama BERBEDA.


“In a world filled with hate, we must still dare to hope. In a world filled with anger, we must still dare to comfort. In a world filled with despair, we must still dare to dream. And in a world filled with distrust, we must still dare to believe.” ~ Michael Jackson ~



You Might Also Like

59 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Merindukan jaman dulu yang ga ada larangan ngucapin inilah itulah, menjadi minoritas memang agak sulit dan sering dianaktirikan, suka banget kalimat terakhir tuhh, lebih mudah mencintai dari pada membenci, tapi saat ini banyak orang lebih suka menebar kebencian dari pada cinta kasih.
    Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, menurut gua sih rakyat Indonesia sebenernya ga dicocok dikasih kebebasan berekspresi seperti jaman sekarang, harus sedikit dibatasi. Kemajuan teknologinya tidak dibarengi dengan kecerdasan moral sih, jadinya ya itu...liat aja berita-berita di socmed saat ini, banyak banget isu yg menyesatkan dan menimbulkan permusuhan antar agama dan antar ras...

      Delete
  2. Sekarang tuh ya, somehow lebih banyak yang suka nebar kebencian daripada kasih sayang, regardless latar belakang mereka kayak gimana. I feel you, Ven! Pernah waktu nunggu selesai shalat Jumat ada anak kecil keturunan Tionghoa bilang sama maminya: "Mami, aku ga mau deket orang itu..." dan tukeran tempat duduk. Ga dendam sih, cuma...mungkin si mami khilaf belum ngajarin si anak toleransi terhadap sesama manusia, bukan hanya yang 'serumpun'. Sedih, deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg mayoritas menjajah kebebasan yg minoritas, yg minoritas jadi benci dan apatis terhadap yg mayoritas...begitulah Indonesia ini

      Delete
  3. Isss aku gemes banget baca cerita ospeknya :( :( :(

    Ya semoga masalah ini bisa cepat hilang dan kita bisa hidup penuh kedamaian di Indonesia, atau bahkan di seluruh dunia. Never lose hope :)

    ReplyDelete
  4. Dear, Keven.. Klo masalah ngucapin dan ngucapin itu pilihan masing2 yah karena di agama kami ada dua pendapat, dan ya aku termasuk yg milih nggak ngucapin.. Nggak ngucapin bukan berarti nggak toleran lho :) Buktinya aku berteman akrab dg org2 yg berbeda keyakinan, sering hangout dan traveling bareng :)

    Toleran itu menurutku menghargai pilihan masing2 dan tidak saling mengganggu :)

    Ngomong2 soal dipanggil Cina.. Ak jg sering dipanggil gt waktu SD.. Mataku sipit dan kulit putih jadi dipanggil gt kali ya.. Jadi aku tau rasanya dipanggil2 cina, apalagi ada tambahan (maaf) 'cina loleng'.. Sedih sih sm org2 seperti itu (mengolok2 org yg berbeda) tp yah mungkin memang pikiran mereka blm terbuka..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah gua cuma sedih aja, di Indonesia hal sepele kayak ngucapin selamat aja bisa jadi perdebatan nasional. Kalo dalam hal sepele kayak gitu aja masih ga bisa saling toleransi, gimana bisa mau bersatu dan bekerja sama untuk hal yg lebih besar? Makanya Indonesia ga maju-maju jadinya...

      Delete
    2. Ya kalo sepele harusnya ga dipermasalahin jg dong klo gak ngucapin :D

      Toleransi itu menghargai pilihan orang lain juga kan? :)

      Delete
  5. Setauku pengkotak-kotakan di Indonesia sudah terjadi sejak zaman penjajahan dimana kaum penjajah bikin peraturan kalau kaum ini rumahnya disini, kaum itu rumahnya diistu dan mereka gak boleh saling bicara. Setauku lho ya, kalo salah mohon koreksi

    Rasis terhadap ke orang Tionghoa juga semakin parah karena anggapan mereka disini menguasai ekonomi bangsa, sedangkan orang pribumi cuma jadi pembantunya doang. Jadinya banyak yang protes deh, padahal mereka juga susah payah untuk membangun usaha ini. Yang dikagumi dari orang Tionghoa itu semangatnya untuk berdagang.

    Tapi kok boleh sih ospek ada rasisnya, habis itu ada tindakan gak dari pihak kampusnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg bilang bahwa Tionghoa dan pribumi itu miskin kayaknya ga pernah baca koran deh. Liat anggota-anggota DPR kita yg ngabisin duit negara sampe milyaran untuk foto bareng sama Donald Trump, itu orang Tionghoa atau pribumi?

      Jaman sekarang udah ga berlaku tuh stereotype bahwa Tionghoa kaya dan pribumi miskin. Kaya atau ngga nya seseorang tergantung sama nasib dan kegigihan dalam bekerja, ga ada hubungannya sama ras atau agama

      Delete
  6. Welcome to the real world bebeh.....

    Kalo kena korban SARA apalagi karena agama, saran saya gak usah ngajak berdebat. Gak akan pernah ketemu ujungnya. Mending diam aja. Intinya selama di kuliah, pilih teman yang gak SARA aja.

    Kalo mereka menebar kebencian, kita juga jangan terpancing dengan ikut menebar kebencian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, orang yg rasis biasanya tingkat kecerdasannya juga setingkat kera...ngapain pula ngajak ribut monyet? Wkwkwk...

      Delete
  7. Diskriminasi sudah ada sejak zaman kerajaan hindu-budha, dimana saat itu golongan sosial masyarakat dibagi menjadi 4 kasta. Aku lupa kasta apa saja itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi sekarang udah abad 21 gitu lho...masa masih mau rasis-rasisan? Negara laen udah sibuk cari sumber energi baru di luar angkasa, sementara Indonesia rakyatnya masih sibuk jotos-jotosan cuma gara-gara masalah SARA, hellloooo???

      Delete
  8. Masalah diskriminasi kayak gini emang dari dulu sampai sekarang masih jadi masalah yang susah banget buat diilangin. Gue juga baru ngerasain waktu di bangku kuliah, bener-bener yang namanya pelabelan itu, duh. Tapi nggak separah kasus yang diceritain diatas sih, itusih udah parah banget, osjur macam apa itu?

    Semoga kedepannya masalah kayak gini bakalan luntur sama yang namanya persaudaraan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, gua liat generasi muda kita banyak yg pikiran lebih maju dan udah mementingkan persatuan dan persaudaraan di atas segalanya. Semoga aja setelah yg tua-tua dan rasis pada lewat masanya, kita-kita generasi muda bisa membangun negara yg lebih baik wkwkwk

      Delete
  9. well makin kesini makin melek makin sadis, garis keras agama dan penanaman atas agama yang justru mengkotak-kotakkan.
    semenjak smp gue udah ngerasain yang namanya pembeda2 macem gitu, dan makin gila di tiap tahunnya.
    Yang harus disadari itu adalah manusia yang lepas dari SARA, diluar itu manusia sama. Ciptaan dan tercipta dari sang Ilahi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, orang yg suka rasis sambil mengatasnamakan agama itu patut dipertanyakan kedalam akhlaknya sebenarnya. Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi karena kita manusia semua sama rata di hadapan-Nya, agama mana sih yg ngajarin kita untuk saling membenci?

      Delete
  10. ah, jdi inget dulu pas sd. temenku ada yang agama budha. jadi tiap hari rayanya kami semua datang ramai-ramai dan dikasih angpao satu-satu. dulu juga biasanya masih ada tuh barong sai dan pertunjukan gitu. entah kenapa sekarang udah gk ada lagi.

    saya dulu di ajari toleransi sama guru pkn. menghargai orang dang tenggang rasa. jadi aku nggak masalah kalau punya temen beda agama atau beda suku dan ras. justru seneng, kan makin banyak tu yang bisa diomongin dan dibahs. nggak akan bosen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman sekarang cuma masalah ngucapin selamat aja bisa jadi masalah besar. Gua jadi mikir...serentan itu kah yg namanya iman? Sedangkal itu kah akhlak bangsa kita?

      Delete
    2. entah lah. mungkin saja mereka yang gitu hanya terpengaruhi sama orang-orang fanatik yang berlebihan.

      malah dulu aku pernah berita, kalau ngucapin selamat ke acara keagaman lain itu hukumnya haram gitu. kalau aku sih mikir aja, mengucapkan selamat gitu seperti silahturahmi atau saling mendekatkan diri supaya akrab.

      Delete
  11. ah... gue juga beberapa kali di rasisin. masalahnya.. ya masalah ras. dari becanda ringan, sampe becanda berat. setuju men... perbedaan itu seharusnya nggak dilihat sebagai sesuatu yang menganggu. karena perbedaan itu sesuatu yang indah kan... pelangi bahkan nggak ada indahnya kalau warnanya sama semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo pelangi warnanya grayscale, bayangin berapa banyak peningkatan jumlah jomblo galau di negara ini wkwkwk...

      Delete
  12. ada yang lebih aneh koh...

    aku kuliah di untar, yang 90% isinya anak2 keturunan cina. tapi mereka tuh suka ngata2in "dasar cina lo!" kepada temen yang juga kayak yang ngatain dia -_- terus suka ada yang mengganti kata "pelit" jadi "cina" padahal itu yang suka neriakin temenku yang keturunan cina.

    aku melongo aja kalo di kampus anak-anaknya pada gitu. mau ngatain mereka rasis tapi ngerasa ada yang aneh (biasanya "rasis" ditujukan buat org yg suka melabeli namun berbeda kondisi dengan yg dikatain) :P

    btw aku juga keturunan cina, hidup cina!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, itu sih konteksnya dalam konteks bercanda, jadi gak apa apa kali selama ga ada yg tersinggung. Kalo dalem kisah gua di atas kan konteksnya beda...

      Delete
  13. Berbeda agama... di smaku juga ada yg beda agama, banyak lagi... ada kristen, katolik, hindu... ya malah enak juga kalo punya teman yg beda agama... kita saling toleransi... saling berbagi pendapat... bahkan kita saling akrab... tanpa adanya rasisme... ah, jadi kangen masa2 sma dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keragaman itu indah lho, makanya gua ga ngerti isi otak orang-orang rasis yg mengatasnamakan agama itu...

      Delete
    2. Bener bro... setuju! berbeda2 kita semua saling melengkapi... dan itu emang bener2 indah....
      kalo yg rasis mending kita bakar aja bro, gmn... hehe :)

      Delete
  14. dari jaman SD sampai kerja aku selalu punya teman dekat orang Chinese loh, mereka walau beda agama juga baik dan menghargai kita

    ReplyDelete
  15. kalau urusan agama gue rasa kita punya aturan masing2 koh, masalahnya itu udah jadi believe dalam diri kita masing2. bedanya kalau urusan suku dan ras, itu emang pemberian yang nggk bisa diubah. nggak ada yang bisa ngatur kecuali Tuhan. tuh kan, kembali lagi sama kepercayaan kita masing-masing.

    mungkin sekarang zamannya lagi sensitif sama isu tersebut. dan dari masing-masing ras suku dan agama punya keegoisan masing-masing, gue rasa bisa panjang kalau dijelasin disini hehe
    soalnya gue mewakili mulim bang, kami punya penjelasan tentang toleransi,

    terimakasih bang udah ngingetin isu ini lagi. hehe

    ReplyDelete
  16. Kalo agama sih menurut aku ada aturan masing-masing tiap agama koh. Soalnya kan setiap agama ada pengaturan tentang bergaul dengan lain agama koh.

    ReplyDelete
  17. Seharusnya pengkotak-kotakan seperti itu sudah tidak ada, apalagi dengan melihat moment ospek dan senior yang nyatanya "harusnya lebih berilmu" karena sudah kuliah terlebih dahulu, namun nyatanya masih saja suka rasis terhadap orang yang berbeda suku.

    Mungkin dengan ini, idiom orang yang kuliah adalah orang berilmu bisa dipastikan idiom ini salah, karena kadang orang yang kuliah pun belum tentu punya ilmu yang mampu melihat dengan jelas, bahwa keindahan itu ada karena perbedaaan dan bukan memisah-misahkan...

    Semoga hal ini tak terjadi lagi

    ReplyDelete
  18. Iya kita semua sama, kenapa harus ada perbedaan dan diskriminasi ya. Sama-sama mahluk Tuhan... seharusnya dengan itu cukup untuk membuat kita saling menghargai tanpa mengkotak2n berdasarkan warna kulit atau agama. :(

    ReplyDelete
  19. Perbedaan. Ya, ko kev. Akhir2 ini emang sering banget urusan Agama jadi sensitif banget. Apalagi dibeberapa keadaan emang sering banget gue sendiri ngeliat.

    Sama halnya dalam keadaan ospek, seringnya pembeda Agama malah jadi ajang olok2 buat seniornya. Harusnya, merekakan yg lebih dahulu kuliah dan dapet ilmu, bisa lebih beradap ketimbang yang baru masuk. Harus mencontohkan hal positif, lah ini malah rasis.

    Ya, semoga aja akan ada banyak perubahan kedepannya. Kata toleransi yang tak menyiksa kedua pihak bisa segera diatasi.

    ReplyDelete
  20. gue dari kecil sampe SMP sekolah di sekolah kristen pas SMA masuk negeri gue super shock dengan keadaan di sana. di papan tulis ada tulisan arab,doanya juga beda,pelajaran agama kristen gaada,gue kudu belajar bahasa Arab karna ada pelajaran bhs. Arab (yang lin jepang,jerman,prancis lha skolah gue arab), ngeliat orang pake hijab (sekolah yang dulu mah kagak adee, hehee), saking shocknya gue sampe maksa ortu buat mindahin ke sekolah kristen lagi. tapi yah ortu gue tetep nyuruh gue sekolah di negeri biar liat dunia di luar sekolah kristen... beraat euuyy


    hikmahnya gue di SMA berkenalan dengan dunia punk dan justru temen2 SMA gue masih jadi sahabat gue sampe sekarang.

    ReplyDelete
  21. Gua setuju banget dengan postingan ini, bahwa ras, warna kulit, dan agama bukanlah perbedaan karena pada dasarnya kita semua adalah sama-sama manusia dan hidup di tempat yang sama jadi kalau menurut gua perbedaan itu adalah yang membuat hidup kita semua berwarna , tapi soal mengucapkab selamat hari raya dalam agama islam ada sebuah hadis yang bunyinya itu kaya gini"Barang siapa mengikuti sebuah kaum maka ia termasuk tersebut" jdi begini contohnya gua ngucapin selamat natal ke lo maka gua ini termasuk golongan agama lo dlm hal yang gua ucapin bkan berarti islam itu adalah agama yang gk toleran tpi untuj menunjujan eksitensi islan itu sendiri karena lambang agama islam itu adalah penganutnya itu sendiri terus toleransi dlm islam itu adalah membiarkan jdi begini disaat orang non islam merayakan perayaan mka bila dia orng yang paham dengan islam pasti dia akan membiarkan orang non islam tersebut tanpa menggangunya sedikpun baik dgn lisan atau ucapannya.

    ReplyDelete
  22. Gue punya temen, panggilan dia cina karena mata dia sipit. tapi bagi kita kita yang temen dia, nganggepnya bukan rasis. dan dia juga gak nganggep itu rasis tp merupakan sebuah panggilan untuk saling mengakrabkan. Sama halnya ada temen gue yang dari Aceh, gue ama temen2 manggil dia aceh. dan dia engga nganggep itu rasis hehe

    Tapi kalo liat contoh dari lu sih, ya emang terlalu banget sih bilang cina cina gitu. Ospeknya terlalu berlebihan. Kalo masalah diskriminasi ras, lu harus liat deh stand up stand up nya Ernest Prakasa yang ngebahas "kaum cina" dari sudut pandang yang berbeda. atau bisa juga baca bukunya yang judul "NGENEST"

    ReplyDelete
  23. Iya sih kev, gue juga ngerasa kayak gitu. Sekarang mau ngucapin hari besar yang beda agama aja dipermasalahkan, gue juga bingung tiba-tiba banyak dalil gak jelas yang bermunculan.

    Tapi Alhamdulillah, di tempat gue tepatnya di gang tempat gue tinggal sekarang orang beda agama tetap saling menghargai. Kalau hari raya haji, tetangga yang beragama non muslim diajak mampir menikmati hidangan, begitu juga sebaliknya. Agama gak jadi penghalang,jujur itu manis banget.

    Tapi sayang, cinta beda agam itu susah...

    ReplyDelete
  24. Aku juga sering nggak habis pikir dengan orang2 yang rasis. Tapi aku meyakini satu hal, sikap setiap orang pasti dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya, bisa jadi mereka (yang rasis) belum pernah mendapat pendidikan bahwa keragaman adalah anugerah. Maka untuk menghadapi orang seperti itu, aku rasa kita harus tetap bersikap baik dan memaafkannya, meskipun tidak mudah :)

    Btw, aku muslim, dan aku termasuk yang tidak mengucapkan selamat hari raya untuk kaum non muslim. Tapi aku rasa Kak Kev perlu tahu, itu hanya masalah prinsip, bukan berarti tak toleran. Mungkin memang ada sebagian pihak yang berdakwah 'amat gigih' untuk menerapkan syariah (hukum), sehingga berbagai tanggapan negatif muncul dan banyak yang berdebat masalah ucapan tadi.

    Oh iya, aku juga tumbuh dalam lingkungan yang beragam. Ibuku, pernah merawat seorang bayi dari keluarga katolik. Hari ini, bayi itu sudah jadi mahasiswi. Itu artinya sudah belasan tahun. Dan kita masih berkomunikasi sangat baik dengan keluarga tersebut, saling membantu, dan menyanyangi, layaknya saudara sendiri. Mereka juga keturunan Tionghoa, putih, dan bermata sipit. Dan kami baik-baik saja meski aku (dan keluargaku) tidak pernah mengucapkan 'selamat' saat mereka merayakan natal atau lainnya. Bagiku itu masalah prinsip dan tidak perlu diperdebatkan. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku, gitu, hehe, wallahu'alam.

    Sekedar info saja, dalam Islam, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat baik meskipun kepada orang yang menyakiti kita. Dulu, Rasul pernah dicaci maki (bahkan ada yang melemparinya kotoran manusia) oleh salah seorang non muslim, tapi yang dilakukannya justru memaafkannya. Kondisi orang yang menghina itu buta, dia tidak tahu, bahwa orang yang menyuapinya dan memijitnya selama ini adalah Rasul sendiri. :')

    Oh iya, pernah baca memoar Audrey Yu Jia Hui? Judulnya Mellow Yellow Drama. Jika belum, aku rasa kak Kev perlu membacanya. Yang dialaminya lebih menyakitkan daripada yang kak Keven alami. Di buku itu juga banyak petuah Kong Zi. Semoga kak Keven lebih sabar menghadapi orang2 yang rasis itu.

    **maaf commentnya super panjang, ehehe

    ReplyDelete
  25. ceritanya lagi nostalgia masa ospek nih kev?
    ditempat gw malah org cina di hargai bgt kev. klo ada cewek cina lewat. yg cowok mana berani gangguin, soalnya klo di sini (PEKANBARU) koko cina adalah para bos.
    apalagi smpe di ospekin gitu, mana berani....

    gw dlu termasuk org yg males bergaul dgn org2 yg beda golongannya ama gue. gw ga punya temen kristen apalagi budha (yg emg minoritas bgt). tp semenjak kuliah dan abis kuliah gw brgkt ke papua. disana gue tau rasanya jadi minoritas. jd satu2 ny muslim di kampung itu. jd satu2 nya org yg kulitnya putih (klo do bandingin org papua gw putih. haha). ternyata rasanya minoritas gitu toh. agak aneh. gw sadar. itulah yg dirasakan tmn2 gw yg kristen ketika d skolah dulu.. sejak itu gw respect bgt sm mereka.. dan gw malah jd banyak tau ttg agama lain

    ReplyDelete
  26. Bacanya bikin nahan napas. Cukup ngeri ya. Aku jawa, temen yang cina jarang. Bukan berarti aku pilih-pilih... tapi memang jarang sekali mereka ada di sekitarku, kami si jawa.

    Kampusku sejak awal dominan jawa, keturunan cina nyaris nggak ada. Beberapa tahun kemudian, mulai banyak orang cina. Dan... kampusku damai tuh. Mereka bersatu solid di organiasi. Keren loh, jumlah mereka memang sedikit, tapi mereka bisa tuh berbaur. ^^ Aku senang kalau beratu begitu...

    ReplyDelete
  27. abis baca ini pengin nonjok senior lu deh... go to hell racism!

    ReplyDelete
  28. Gue bingung mau komentar apa, ini tulisan yang bikin gue mikir. tentang pengkotak-kotakan kayaknya emang udah mendarah daging deh, padahal dunia penuh warna karena adanya perbedaan. coba deh kalo semua sama, berasa datar banget gak sih lo. meskipun nggak semua orang punya sikap begitu, toh hanya orang-orang tertentu yang diskriminasi, mungkin emang sentimen kali.

    toh untungnya gue juga bukan type orang yang milih-milih temen, lebih baik juga kalo sama sama... tapi itu tentang ospek lu itu berlebihan banget... geram sendiri gue..

    ReplyDelete
  29. Gue juga ngerasain. Cuma gue waktu masih SMA. Gue dulu SMP di sekolah yang mayoritas batak. Mendadak pindah ke SMA yang batak jadi minoritas. Sempat sih dapet perlakuan rasis. Apalagi disangkutpautkan sama sifat pemalu gue. Emang ga enak didiskriminasikan ya. •_•

    Btw, harus gue akui, saat kita baru alami sesuatu yang belum pernah kita alami, reaksinya kadang suka lebay. Namun seiring berjalannya waktu, ya gitu deh, hanya bisa facepalm aja. Sama kayak masalah rasis ini. Kita tereak2 kenapa gini, kenapa gitu. Tapi nanti kita bakal facepalm aja. Udah ga tereak2 ato reaksi2 yang lainnya.

    Lu tau, tulisan lu yang lebih smooth ketimbang yang sebelumnya, yang bahas hal yang sama. Haha. Mungkin klo gue nulis hal yang sama, bakal sehalus ini juga. Karena, yah kita berdua, juga yang lain, udah lumayan sering liat hal2 diskriminasi kayak gitu.

    ReplyDelete
  30. saya baca tulisan ini jadi tahu ternyata pikiran saya tentang diskriminasi yang akhir-akhir ini saya pikir mulai hilang, ternyata masih berkembang di negeri yang heterogen ini...selama ini saya selalu ada di lingkungan yang sangat menghargai perbedaan, dan ospek2 yang sudah saya jalani juga tidak ada campur tangan diskriminasi, mungkin setiap ospek beratnya berbeda-beda, tapi saya rasa diskriminasi itu bukan lagi sesuatu yang pantas dilakukan, itu beneran senior kamu keterlaluan, entah dia belum tahu kalau menyakiti hati orang itu perbuatan yang sia-sia.

    ReplyDelete
  31. Hehehehe gue senyum-senyum aja baca ini postingan lo Om Kep. Gue sebagai Muslim dan Indonesia asli, malah bangga punya temen-temen deket etnis Tionghoa, termasuk elo. Bahkan, sangkin deketnya di sini, gue belajar bahasa Hokkien (di Medan rata2 pake bahasa itu). Budaya2 mereka dalam belajar dan berusaha gue suka banget. Gue pun terlahir dari keluarga yang plural. Keluarga dari kakek-nenek agama dan kepercayaannya berbeda-beda. Kadang, sebagai bagian mayoritas di Indonesia, gue juga sering merasa miris ketika minoritas menganggap gue "sama dengan mayoritas" yang lain. Udah pada apatis dan takut juga sih, ya. Gue juga nggak suka dengan label "Cina" karena itu rasis banget buat gue. Apalagi sampe case kayak ospek itu. Hmmm... Cuma bisa sabar aja kayaknya :)

    ReplyDelete
  32. kev saya ga inget lo pas ospek ada momen kayak gitu *tapi kayaknya emang terjadi. dan masih terjadi? :'))*
    meureun karena bukan kenangan bagus juga, jadi ngga saya inget2 0<<

    ReplyDelete
  33. Rasisme akan terus terjadi di dunia ini. Lihat saja di sosmed, aku juga kadang menyimpulkan bahwa salah satu hal negative adanya sosmed adalah untuk memecah belah bangsa. Selalu ada provokasi dan hal itu menyebar, terus jadi sebuah masalah.

    Aku sendiri sangat menghargai perbedaan. Nggak milih-milih teman berdasarkan ras, suku, agama, dan perbedaan lainnya. Aku hanya milih berdasarkan dia itu merugikan atau tidak. Misalnya dia anak nakal, aku tetep temenan tapi nggak deket banget. Labelku hanya itu. Masih membeda-bedakan berdasarkan sifat sih. Tapi ya, itu pilihanku untuk memprotect diriku.

    Aku juga pernah kok ngerasain di rasisi. Bahkan yang katanya aku ini pribumu, mayoritas juga pernah dirasisi oleh orang yang sama-sama tinggal di Indo tapi hanya memiliki label lain. Bohong kalau nggak dimasukan ke hati, tapi ya nggak aku seriusin, nggak aku jadiin masalah. Cuma ngerasa, "inilah hidup, kalau nggak ada perselisihan mana seru"

    Kalau masalah ngucapin atau enggak, itu pilihan. Aku salah satu orang yang suka ngucapin selamat natal, tahun baru ini, tahun baru itu, hari raya ini, dll. Tapi aku biasanya ngucapinnya langsung ke orangnya, pernah juga sih di sosmed. Tapi untuk menghindari cekcok ya aku cari aman, kirim pesan langsung atau ucapin langsung ke orangnya.

    Yah, itulah pengalamanku soal rasisme. Kalo ngarep bakal bersatu sih mungkin belum bisa (maaf, opini pribadi). Kalo umat manusia diserang alien itu baru mereka akan bersatu atas nama umat manusia. Seperti yang pernah aku baca, kita akan bersatu kalau ada ancaman dari yang lainnya.

    ReplyDelete
  34. Kev, masalah rasialisme kayaknya udah mengakar di Indonesia. Miris memang, tapi ini realita. Bukan cuma non tionghua yang rasis, tionghuanya juga rasis (mungkin karena pengalaman pahit. Mau bagaimanapun ga dibenarkan) coba lihat di beberapa daerah orang tionghua tak mau berbaur dgn orang pribumi. Kita segelintir tionghua yang mengecap toleransi. Gue pun yang tionghua tapi mukanya Indonesia asli kadang mengalami kesulitan diterima di tionghua sendiri. Miris memang. Ga tau sampai kapan pikiran orang terus sempit dan kotak-kotakin segalanya.

    ReplyDelete
  35. Pada dasarnya semua orang sadar kalau mereka berbeda, tapi perbedaan itu baru akan benar-benar terasa ketika orang lain atau bahkan diri kita sendiri say it loud. DIsitulah labelling dimulai.

    Thanks (again) for dedicate your precious time to share this kind of experience with us ^^

    Best regards, your (not) new visitor

    ReplyDelete
  36. Kemaren gua nemu om sipit, karena jarang ketemu gituan gua sok akrab bilang om orang china y? Sekarang gua kepikiran pasti si om merasa didiskriminasi kemaren ama gua.. Padahal gua gak maksud.. 🙇

    ReplyDelete
  37. Teman saya banyak yang keturunan China... tapi alhamdulillah belum pernah terjadi konflik

    ReplyDelete
  38. Yang lebih mneyedihkan adalah minoritas orientasi seksual (LGBT). Bukan hanya didiskrimasi, di caci, dimaki, didosa dosain oleh masyarakat, bahkan oleh keluarganya sendiri.

    Ada orang yg bisa empati setelah mengalaminya sendiri, tapi yg hebat adalah org yg bisa empati tanpa harus mengalaminya sendiri. Berdasarkan akal dan hati nuraninya, sudah bisa menilai untuk menghargai orang lain.

    Tapi sering karena alasan agama yang sok fanatik, orang bisa kehilangan rasa kemanusiaan. Lihatlah komentar komentar diberbagai forum, cacian, makian, umpatan bertebaran dimana mana dilakukan atas nama agama. Yang lebih parah lagi, dilakukan dalam tindakan nyata berupa tindak kekerasan atas nama agama.

    Pemahaman agama apabila dilakukan tanpa mengenal kemanusian tentu saja akan mengusik kedamaian. Please, beragamalah dengan penuh kasih, toleransi dan menjung tinggi kemanusiaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah Indonesia. Orang gampang termakan hasutan, sukanya ikut-ikutan, ikut-ikutan membenci, ikut-ikutan menolak, padahal sebenarnya mereka sendiri juga ga ngerti akan hal tersebut. Agama yg seharusnya mengajarkan cinta kasih, malah jadi alasan yg digunakan orang-orang tidak bertanggung jawab untuk bertindak anarkis.

      Jadi ya, gua rasa masalahnya balik lagi ke sistem pendidikan di negara kita. Di negara kita ada ada pelajaran agama di sekolah-sekolah, tapi mungkin kesalahannya adalah kebanyakan guru agama masih menjadikan pelajaran tersebut sebagai ajang doktrinasi. Murid-murid dicekoki oleh pemahaman sang guru terhadap agama.

      Kalo keadaannya seperti itu, harusnya diubah. Yg diajarkan di sekolah-sekolah bukan pelajaran agama, tapi pelajaran fenomenologi agama. Gua dulu pernah belajar waktu kuliah. Murid-murid diajak untuk melihat agama dari sudut pandang orang ketiga dan memahami agama bukan hanya dari segi doktrinasinya, tapi secara obyektif memahami eksistensi agama itu di dalam masyarakat kita sendiri.

      Dengan begitu mereka bisa jadi lebih kritis dan juga menggunakan logika dalam beragama, ga akan mudah termakan oleh isu-isu SARA ngawur yg beredar di masyarakat. Tapi ya, gua yakin bakal banyak orang yg ga setuju sama pemikiran gua ini. Masih terlalu banyak orang di Indonesia yg sakaw karena agama. Agama itu bagaikan opium, membuat orang euphoria dan kehilangan akal sehatnya.

      Udah ah, ga mau ngomong panjang-panjang, nanti gua dikata-katain atheist atau kafir wkwkwk...

      Delete
  39. Iya saya setuju sekali dengan pernyataan beragamalah dengan penuh kasih, toleransi, dan menjunjung tinggi kemanusiaan ^^

    ReplyDelete
  40. Pada dasarnya Diskriminasi diajarkan dan diwariskan di dalam keluarga sendiri. Ada 1 contoh simple saja, coba cek di keluarga masing2.. ketika memilih pacar / jodoh ada ga tuh larangan or keharusan yg jawa hrs dpt jawa, yg padang hrs dpt padang, yg china hrs dpt china. Dan kalo pribadi 'menyetujui' hal itu, bisa jadi pribadi jadi bagian 1 diantara jutaan org yg diskriminatif tsb.

    Org lebih 'sadar' ketika menjadi korban, tp kalo menjadi pelaku biasa nya lebih 'memberi' kelonggaran pada diri sendiri, kalo yang dilakukan or dipikiran bkn lah suatu hal diskriminatif.

    ReplyDelete
  41. gue ga ngerti sama sekolah gue. jujur aja gue ga suka ketika ada yang manggil gue cina atau cici atau nci, menurut gue itu cringe banget. Mereka seolah olah makin demen manggil gue kayak gitu, mereka juga sering banget nanya nanya harga barang ke gue dengan tujuan ngeledekin. as you know orang chinese rata rata punya toko but not with me. dan sumpah terkadang mulut gue udah gatel pengen gue semprot, banyak yg bilang omongan gue tajem banget but itu sama sekali ga berlaku buat mereka. bahkan beberapa guru juga gangerti kenapa gue selalu jadi inceran mereka. suka mikir, kalo gue yang manggil mereka berdasarkan etnis pasti pada ga terima, tapi mereka ngelakuin itu ke gue. dan ini baru pertama kalinya ada sekelas pada rasis sama gue dan itu nguras kesabaran banget sampe kadang gue keluar kata kata kasar tapi ga di bahasa indonesia jadi gue leluasa ngatain mereka pake b.inggris.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Stereotype ya? Mereka pikir kita orang Tionghoa semuanya mata duitan, otaknya bisnis melulu, padahal tidak begitu sebenarnya...

      Delete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe