Murid Bertanya, Gue Menjawab

21:37:00



Sewaktu gua baru mulai kuliah di China dulu, gua sering digempur oleh pertanyaan seputar China oleh temen-temen gua. Misalnya...

 "Ven, cewe di sana cantik-cantik ga? Cantikan mana sama cici-cici cantik yang biasa nongkrong di mall Bandung?" 
Jawab : Sama cantiknya, tapi di sini jumlah cici-cici cantiknya lebih banyak hohoho...

"Gimana rasanya hidup di negara komunis? Serem ga?"
Jawab : Biasa aja, yang serem cuma toiletnya doank wkwk...

"Salju rasanya apa Ven? Manis? Asem? Asin?"
Jawab : Manis, kalo ditambahin susu kental manis. Asem, kalo lu djilat salju yang ada di ketiak orang. Asin, kalo udah kecampur sama ingus...

Sekarang setelah menjadi dosen di China pun, gak jauh beda. Bedanya, sekarang gua digempur oleh pertanyaan-pertanyaan seputar Indonesia oleh murid-murid gua. Oh FYI, buat yang gak tahu, sekarang gua jadi dosen Bahasa Indonesia di Fakultas Bahasa Asia Tenggara di Nanning, China. Murid-murid gua semuanya orang China yang belajar Bahasa Indonesia.

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan menarik yang pernah murid-murid tanyakan ke gua.

1. Orang Indonesia beneran cebok pake tangan? Gak jijik?
Jadi, murid-murid gua pernah baca di salah satu buku pelajaran mereka bahwa orang Indonesia kalau bersalaman dll harus menggunakan tangan kanan. Menggunakan tangan kiri dianggap tidak sopan karena tangan kiri sering dipake untuk cebok. Begitu dikasih dosen orang Indonesia lokal, mereka langsung nanyain hal ini ke gua.

Buat yang gak tau, orang China tuh mirip sama orang bule, mereka kalo cebok tuh pake tissue. Sementara kalo orang Asia Tenggara kebanyakan ceboknya tuh pakai tangan dan air. Jadi kalian jangan aneh kalo suatu hari ke China atau ke negara-negara Barat, terus kalian menemukan bahwa toiletnya tidak menyediakan keran, ember, dan gayung. Toilet mereka tuh "toilet kering" disebutnya, cuma disediakan tisu dan tempat sampah saja, jadi jangan harap kalian bisa numpang mandi atau cuci kaki di toilet umum kayak di Indonesia ya wkwkwk.

Sewaktu gua bercerita soal kebiasaan cebok di Indonesia, murid-murid gua langsung meringis jijik gitu. Menurut mereka, megang tai sendiri pake tangan itu rasanya gimanaaa gitu. Padahal asal kalian tahu, toilet-toilet di China tuh joroknya berkali-kali lipat daripada toilet di Indonesia. Tidak hanya baunya bisa tercium dari jarak 2-3 meter, kadang-kadang kalian masih bisa menemukan "lele kuning" yang mengambang atau menumpuk di toiletnya, hiii~

Pernah suatu kali, waktu gua membagikan fotokopian, gua pernah kelupaan dan ngasih kertasnya pake tangan kiri. Murid-murid gua, setengah bercanda, langsung meringis jijik gitu waktu mau nerima kertas dari gua. Maksudnya mereka, iihhhh, itu kan tangan yang sering dipake Pak Keven untuk cebok. Mereka gak tau aja, bahwa gua tuh sebenernya kidal. Walaupun gua bisa nulis pake tangan kanan, tapi untuk beberapa hal, fungsi tangan gua tuh terbalik dengan orang pada umumnya. Dan kalo cebok? Biasa gua cebok pake tangan kanan wkwkwk...




2. Orang Indonesia suka makan pake tangan?
Yang dimaksud "pake tangan" di sini adalah makan pake tangan kosong, tanpa alat apapun. Meskipun kesannya barbar, tapi sebagai orang Indonesia tulen (ciehhh), untuk beberapa jenis masakan, misalnya masakan Sunda dan KFC, rasanya kurang afdol gitu kalo makan ga pake tangan. Tidak ada yang menandingi sensasi mengobok-obok ayam, nasi, dan sambel menjadi satu sebelum ditelan bulat-bulat. Tidak lupa, setelah makan, jarinya dikenyot satu persatu hingga bersih. Hmmmm, nikmat. Jangan ngaku orang Indonesia kalau kalian tidak setuju sama gua wkwkwk.


Dan hal ini membuat murid-murid gua kembali meringis jijik. Ihhh, tangannya udah dipake cebok, dipake makan pula, kata mereka. Dalam hal ini, gua langsung membantah bahwa at least di Indonesia kita punya kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Di China, karena mereka makannya pake sumpit, jadi kebanyakan restoran tidak menyediakan tempat cuci tangan bagi tamu-tamunya. Jadi mereka sebelum dan sesudah makan tuh tidak cuci tangan. Sedangkan orang Indonesia, mau makannya pake tangan atau pake sendok garpu, tetap suka cuci tangan. Jadi ya, dalam hal ini, gua tetap bersikukuh bilang bahwa kebiasaan makan kita Indonesia tuh lebih higienis hehehe.

Di China sini pun sebenarnya ada beberapa masakan yang harus dimakan pakai tangan, misalnya Pizza dan Ribs. Tapi biasanya, restorannya akan menyediakan sarung tangan plastik untuk kita. Jadi meskipun makan pake tangan, kita ga perlu mengotori tangan sendiri. Tapi menurut gua, rasanya gak seenak dibandingkan kalo kita skin to skin, tanpa sarung tangan wkwkwk. Suatu hari, gua pengen banget ajak murid-murid gua makan masakan Sunda dan suruh mereka merasakan sendiri bagaimana nikmatnya sensasi makan pakai tangan. Dan gua juga penasaran, ada berapa orang dari mereka yang meminum air kobokan karena menyangka bahwa itu adalah infused water wakakakaka.




3. Agama itu apa?
Oke, mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sulit dijawab bagi gua. Murid-murid gua kan pada rajin ngikutin berita soal Indonesia, dan setelah membaca berita-berita soal Indonesia beberapa bulan terakhir, mereka jadi bertanya sama gua
"Pak, agama itu apaan sih? Kenapa orang sampai bisa berantem, saling membunuh dan menyakiti gara-gara agama?"

Oke, mungkin ada satu hal yang perlu gua tegaskan di sini. Sebagian besar orang China itu TIDAK PUNYA AGAMA. Mereka mengenal konsep Ketuhanan. Mereka mengenal yang namanya Karma. Mereka mengenal yang namanya adat istiadat dan kepercayaan. Mereka percaya akan dewa-dewi, roh baik dan roh jahat. Mereka menyembah langit dan leluhur. Mereka percaya karma. Mereka sering berdoa dan sembahyang. Tapi mereka tidak mengenal konsep "agama"

Jadi maksud lu apa, Ven? Gua jadi bingung.
Jadi gini, kalo di Indonesia tuh kita diharuskan memilih untuk memeluk salah satu agama. Misalnya, kalo gua Katolik, gua harus menyembah Tuhan Yesus, pergi ke gereja, dan berdoa dengan tata cara Kristiani. Kalo gua Muslim, gua menyembah Allah SWT, pergi ke masjid, dan berdoa mengikuti tata cara sholat lima waktu.

Orang China tidak seperti itu. Mereka suka baca filosofi-filosofi Buddha, Taoisme, dan Konghucu, tapi mereka tidak menganggap yang mereka yang mereka pelajari itu sebagai ajaran agama, melainkan sebagai pedoman hidup, bagaimana caranya menjadi orang yang baik. Terus kalo hari ini gua mau berdoa ke Kelenteng, terus besoknya gua mau ke Vihara, terus besoknya gua mau ke Kuil Tao, ya bebas-bebas aja, gak ada larangan atau keharusan untuk mengikuti salah satu saja. Bisa aja misalnya, hari Senin gua mau bakar dupa di Vihara supaya papa mama gua sehat, terus hari Selasanya gua pergi berdoa ke Kelenteng supaya anak gua ujiannya sukses. Dan di China, sebenarnya kebebasan memeluk agama dan beribadah kita dijamin oleh pemerintah, selama ibadah dan kegiatan keagamaan kita tidak menganggu kepentingan umum.

Jadi, kalian ngerti kan apa bedanya? Jadi stereotype bahwa orang-orang di negara yang menganut paham komunis/sosialis tidak mengenal Tuhan itu SALAH. Mereka sebenarnya menyembah Tuhan, mempercayai ajaran-ajaran dari agama atau aliran kepercayaan tertentu, hanya saja manusianya tidak dilabeli dan dikotak-kotakkan seperti yang terjadi di Indonesia. Buat mereka, ajaran-ajaran agama itu sifatnya universal, boleh dipelajari, ditafsirkan, dan diterapkan oleh semua orang, tidak eksklusif. Jadi logikanya, ajaran agama tuh sama aja sifatnya kayak kalimat-kalimat motivasi yang sering kalian temukan di Internet. Kalian percaya dan mau melakukan, syukur. Gak percaya juga gak apa-apa, gak usah diberatin.



Kembali ke soal pertanyaan murid-murid gua. Kenapa orang bisa sampai berantem, saling membunuh dan menyakiti gara-gara agama? Gua bilang ke mereka dengan diplomatis, bahwa di Indonesia, seperti di negara-negara beragama lainnya, ada sekelompok orang yang menganggap bahwa kepercayaan mereka adalah yang paling benar. 

Misalnya, ada sekelompok orang yang menganggap bahwa sarapan pagi itu seharusnya makan bubur. Sampai sini sebenernya sah-sah aja, gak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika mereka mulai berpikir bahwa orang yang sarapannya tidak makan bubur itu SALAH, bahkan sampai memusuhi dan menyakiti orang-orang yang sarapan paginya tidak makan bubur. Padahal seharusnya menentukan pagi-pagi mau makan apa itu adalah hak setiap orang. Mau makan nasi kuning kek, mau makan roti kek, bebas donk? Kenapa harus dipaksa makan bubur? Kenapa harus dimusuhi hanya karena gak makan bubur?

Dan sialnya kini di Indonesia, ada segelintir orang-orang yang menganut paham "BUBUR-ISME" ini yang membawa sentimen pribadi mereka ke ranah kenegaraan. Mereka gak terima kalau pemimpin mereka adalah orang yang sarapan paginya bukan makan bubur. Mereka takut bahwa nanti kebebasan mereka untuk makan bubur setiap pagi ini diganggu dan dihalang-halangi. 

Murid-murid gua bengong mendengar penjelasan gua. Bukannya karena gak ngerti, tapi karena bingung, hanya urusan kepercayaan pribadi saja kok bisa sampe segini rumitnya? Ada seorang murid, salah satu yang paling cerdas dan lancar Bahasa Indonesianya, yang akhirnya angkat bicara.
"Kok mereka bisa semena-mena itu, Pak? Memangnya, mereka pikir negara ini adalah milik mereka sendiri?"

Itulah masalahnya. Gua rasa akhir-akhir ini banyak di antara kita, rakyat Indonesia, yang lupa bahwa negara Indonesia ini bukan milik mereka pribadi. Bangsa kita adalah bangsa yang plural dan majemuk, bangsa yang terdiri dari aneka ragam ras dan budaya. Indonesia gak akan bisa maju kalo rakyatnya tidak kompak dan bersatu. Dan rakyat Indonesia gak akan pernah bisa bersatu, selama masih ada orang atau golongan yang merasa diri sendiri paling benar atau ingin main hakim sendiri. 

Negara ini bisa terbentuk atas perjuangan dan tumpah darah rakyat dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya karena usaha dari satu golongan semata. Kita punya kesepakatan bersama dalam hal bernegara. Kita punya undang-undang, kita punya konstitusi. Jangan campur adukkan ajaran agama dan sentimen pribadimu ke dalam urusan kenegaraan, jangan kau jadikan iman dan kepercayaanmu sebagai alat politik.

Bayangkan kalo kalian setiap hari cuma bisa makan satu jenis masakan. Nasi uduk misalnya. Tidak peduli seberapa enaknya nasi uduk, tapi kalo setiap hari kita makan nasi uduk sehari tiga kali, sebentar juga pasti bosen. Betapa enaknya kalo setiap hari kita makan masakan yang berbeda-beda. Pagi makan nasi kuning, siang makan gurame pesmol, sore ngemil es kelapa muda, malem makan kupat tahu. Enak kan? Apalagi kalo setiap hari bisa makan dengan set menu yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan Indonesia. 
Perbedaan bukanlah suatu penghalang untuk maju, keanekaragaman justru adalah aset nasional kita yang harus kita manfaatkan supaya Indonesia bisa maju dan seluruh rakyatnya hidup dengan aman dan sejahtera.



Sekian postingan singkat kali ini. Laen kali, gua akan lebih banyak cerita mengenai bagaimana rasanya menjadi guru Bahasa Indonesia di China. Tongkrongin terus Emotional Flutter ya =)



Sekedar Info
Di Nanning (provinsi Guangxi, Tiongkok) lagi ada universitas yang ngasih promo harga khusus untuk orang Indonesia lho. Universitasnya juga lumayan terkenal, ranking 70 dari 2500 universitas di seluruh China. Kalo ada yang tertarik untuk kuliah S1/S2/S3 atau belajar Bahasa Mandarin ke China, bisa kontak gua di keppi_kun@yahoo.com atau +8618269000643 (Whatsapp)

Pendaftaran ditutup tanggal 1 July 2017. Kuota terbatas.

You Might Also Like

40 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Akhir-akhir ini, setiap tulisan yang aku baca pasti ada yang bawa-bawa keberagaman Indonesia, kayak di akhir blog ini. Seneng bacanya, at least temen-temen dan orang-orang yang tulisannya aku baca masih megang Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun yang paling berisik orang-orang yang maksa makan bubur, kalo kita tetep teguh sama hak kita untuk makan nasi kuning dan roti, semoga negara ini bisa kembali damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, itu usaha dari kita, para blogger, untuk mengetuk hati bangsa kita. Semoga mereka cepet sadar, bahwa yang mereka lakukan itu hanya akan merugikan bangsa sendiri. Semoga negara ini kembali damai ya...

      Delete
  2. Sehati dan setuju. Indonesia sejati. Saya suke saya suke

    ReplyDelete
  3. Tega bener ngebiarin anak didik minum "infused water" bukannya dicegah... terlalu! pendidik macam apa kamu!
    LANJUTKAN!!!

    ReplyDelete
  4. Merasa tercerahkan setelah baca ini. Aku baru tahu tentang orang cina yang ceboknya juga pake tissue (toilet kering) itu, hueheue. Ini bener-bener nambah pengetahuan baru, heheh. Aku tercengang dengan pertanyaan terakhir itu, dan salut juga dengan jawabannya. Hwaaa :o

    ReplyDelete
  5. Hahahaha....
    Aku kok tiba-tiba bayangin ekspresi jijik murid-muridnya Kak Keven waktu diceritain kebiasaan orang Indonesia yang cebok pake tangan itu.
    Tapi seperti kata Kak Keven, meskipun orang Indonesia itu kalau cebok pakai tangan... kita selalu cuci tangan dulu sebelum makan. Jadi tangan selalu bersih saat menyentuh makanan... :)

    Dan itu pertanyaan yang terakhir.... berat amat.
    Harus mendefinisikan sekaligus memahamkan apa itu agama.
    Tapi jawaban kak Keven wise dan keren banget. Semoga murid-muridnya kak Keven bisa paham dengan baik dan gak justru memandang negatif tentang konsep agama.

    ReplyDelete
  6. Kok kayaknya seru gitu yah jadi guru B.Indo di China sana..
    Gua jadi kepikiran guru Mandarin gua dr China dulu.
    Kami juga tanyak2 yang aneh2 ke mreka..
    Sampe temen-temen gua ada yg mintak diajarin makan nasi pake sumpit.
    Hehehhe
    Bener gak sih di Cina, cwe2 menikahnya harus lewat usia 30 dulu?
    Klo di Indonesia kan umur 25an udah di suru cepet nikah..

    Btw, Memang yang namanya kemajemukan n tolerasi terasa ud berkurang banget yah d negara kita.
    Jujur, terkadang gua jadi merasa kalau negara ini bukan milik kita bersama lagi, tapi milik mayoritas doang.
    #jadisedih

    Gua bersyukur banget looh di tengah2 keadaan yg makin g karuan gini, banyak juga orang-orang yg terus meneriakkan kebhinekaan.
    Salut deh
    Mari kita berjuang bersama
    :D

    ReplyDelete
  7. Ah gilaaa ga pengen ke China gue. Jijik banget baca postingan ini, lah gimana mau pipis secara disana. Ga ada air, secara gue orang yg ga bsa hidup tanpa air Klo pipis. Klo dipikir2 mereka jauh lbh jorok ya drpd kita wkwkk

    ReplyDelete
  8. Btw, Tante-tanteku yang tinggal di sana tp lahir dan besar di Indo selalu nitip oleh-oleh shower jet selusin, lho. Rupanya di sana nggak ada ya budaya cebok. makanya ga ada yang jual shower jet. berasa aneh gak sih, oleh-oleh kok shower jet. Selusin lagi. Hahahahahahahaha....

    ReplyDelete
  9. seru pertanyaan dari murid2nya. semoga tercerahkan setelah mendengar jawaban dari pak guru

    ReplyDelete
  10. suka sama tulisan ini...
    Pernah juga ngalamin beberapa pertanyaan yg dr mahasiswa di China. Cukup berat tanggungjawabnya jadi pengajar disini, karena kita harus bener2 jelasin dengan objektif apalagi masalah kasus2 akhir ini, yang bikin mahasiswa/dosen disini berpikiran negatif tentang Indonesia... yang masalahnya gara2 media, oknum, pengadu domba.... dan inti permasalahan : politik yang menunggangi "Agama".

    Semoga Negara kita damai selalu...

    ReplyDelete
  11. Yuhuuuu. Seru sekali ceritanya, jadi tahu juga gimana kebiasaan dan cara pandang masyarakat china.

    ReplyDelete
  12. Kenapa orang Indonesia kalo cebok pake tangan?? Juara bgt pertanyaan ini. Kalo gw sejak merantau ke Jerman, bersihin pake tissue dulu, lalu cuci pake air -_- tapi jadinya berusaha kalo pup harus pas masih di rumah, biar bisa di cuci pake air..haha *bahasan apa ini. :p

    Lalu tentang orang-orang yang suka maksain orang lain buat makan bubur..cape banget liatnya. Cape hate lamun ceuk orang Sunda mah. -_-. Orang-orang yang tidak sepaham dengan buburisme harus mengcounter dengan cara cerdas dan ga bales nyinyir, karena kenyinyiran ga akan bisa mengubah orang. Thanks for writing a smart one. Semoga kebhinekaan Indonesia tetap bertahan! :)

    ReplyDelete
  13. WAHHHH... murid-murid kakak pada banyak tanya, ya?! Masa cebok pakai tangan aja ditanyain?

    Dengar cerita kakak, Indonesia dan China beda jauh dalam banyak hal ya..

    Oh ya, selamat buat kakak udah dapat kerja, jadi guru lagi, dan WOW-nya itu, ngajar di China.. kerennn...

    Untung kemaren2 kakak ng terima tawaran dg bayaran Rp. 2.500 untuk gelar S2.. HIHIHIII... :D

    Sukses terus kak.. :)

    ReplyDelete
  14. Wah aku jadi ngebayangin tampang murid muridnya. Hihii

    ReplyDelete
  15. hmm kayaknya aku jadi pengen tinggal di China deh *ups
    Tapi ini aku setuju (lagi) sama pemerintahan China yanggk campur-adukkan maslah personal dengan negara, agama itu kan personal, hak setiap warga negara kan mau bergama kek atau tidak. Dan bubur itu, iya, lebih enak kayaknya sarapan di gonta-ganti bukan cuma bubur saja (if u know what i mean). keren artikelnya, dan selalu suka ngebahas tentang Tiognkok.

    ReplyDelete
  16. Aku suka sekali tulisan ini. :) Terima kasih sudah membantu meluruskan seperti apa Indonesia. Jujur saja aku ngeri melihat negaraku bisa begini. Rasanya ada di negeri penjajah kali ya. Sampai merasa tidak aman di negeri sendiri.

    Daaan.. cebok lalu makan. Hehehe.. susah juga ya kalau nggak ada gayung. berarti kalau jalan2 ke sana kudu bawa hand sanitizer. Soalnya kan rasanya kurang afdol kalau nggak cuci tanga. hehehehe

    ReplyDelete
  17. gak bisa bayangin kalo masyarakat cina yg mayoritas makan pke sumpit jadi makan pke tangan secara skin to skin. trus minum air kobokannya itu rasanya bagaimana menurut mereka? enak gak?

    dan ajak mereka makan sambal :'v

    ReplyDelete
  18. Hih.....gua langsung ilfeel, ngebayangin betapa susahnya survive di cina.

    Tapi gua juga setuju ama kata lo yang "negara ini terbentuk dari tumpah darah dari sabang sampe merauke" itu sangat memberikan pencerahan kepada gue, indonesia ini negara hukum, gua yang dulu kemana mana bawa senjata sekarang udah kalem ajalah.........

    ReplyDelete
  19. Okesip, berarti kalo ketemu koko yg satu ini salaman jangan di tangan kanan hahaha #becanda. Saya sendiri ngerasa malu lho, urusan agama saja dipermasalahkan, namun saya salut sama murid-murid disana, pikirannya JAUH lebih maju daripada masyarakat disini. Saya sebut masyarakat, karena mencakup remaja dan dewasa, dan orang dewasa disinipun menurut saya pikirannya masih tidak dewasa. Mungkin pemahaman mereka soal hidup masih kurang, dan terlalu dibutakan oleh fanatisme agama, makanya terjadi hal-hal seperti ini

    ReplyDelete
  20. Wahhh sumpah ini yang paling gw suka hahaha.

    Jadi pengen ke cina hhehehe mau tau ajh :D

    ReplyDelete
  21. wah..
    keren banget koh tulisannya..
    kalo saya jadi kokoh terus ditanya begitu sama murid-muridnya, ngak tau deh ngejawab gemana..
    cebok pake tangan, makan pake tangan.. hahaha
    oh, jadi di china gitu ya..
    saya pikir mereka bener-bener ngak belajar tentang agama..

    ReplyDelete
  22. nomor 1 dan 2 kocak,, kesananya langsung deg-degan gw bacanya kak hehe :D
    btw, aku suka blog kakak, menceritakan pandangan orang luar untuk Indonesia

    ReplyDelete
  23. klo di sana mereka nganggap indonesia jorok, berak cuci pake tangan
    tapi kalo gue sebagai warga indonesia, merasa kalo disana lah yang jorok, masa habis boker cuma dilap pake tisu, mending indonesia lah, cebok disiram pake air, dicuci, lah disana cuman pake tisu :v ngelapnya gimana ? harus ngeliat kepantat biar tau bagian yang mana yang kotor ? hihihi

    btw, lu disana apa kabar ? kuat dengan toiletnya ? hihi

    ReplyDelete
  24. Ya aku pernah boker di kamar mandi yang ada di supermarket, gak ada gayung juga, tapi ceboknya pakai air yang keluar dari tengah closed, awalnya sih aku bingung tapi masih bisa cebok pakai air kok, juga ada tisunya juga.

    Pasti pak Keven bangga bisa meluruskan apa yang belum diketahui murid-murid tentang kebiasaan warga Indonesia, soal makan emang aku juga lebih suka pakai tangan kosong, pakai sumpit gak bisa.

    Tentang Agama itu kepercayaan masing-masing, ya kita harus saling menghormati ya pak. Jangan hanya karena beda pendapat terus menimbulkan perselisihan.
    Semangat terus pak, sebarkan hal-hal baik di Negeri orang.

    ReplyDelete
  25. Memang kalau misal kenal kepudaayan atau karakteristik bangsa lain, atau sering bertualang ke berbagai tempat wawasan jadi makin banyak dan kemampuan memandang sesuatu jadi makin luas. Lebih banyak juga sudut pandang yang diambil, otomatis jadi lebih bijaksana. Munkin kebanyakan orang indonesia tidak seperti itu huhu

    Maksih mas tulisanya menambah ilmu saya soal negara luar. Semoga masnya sukses di negri Cina sana. haha

    ReplyDelete
  26. tegakkan kebine tunggal ika-an...

    ReplyDelete
  27. betapa enaknya nasi uduk,,,
    apalagi campur gorengan
    maknyusss

    ReplyDelete
  28. ahaha ga kepikiran kalau ternyata bakal ditanyaain seperti itu... kalau saya si memang bingung kok kalau di film2 pas di WC trus kehabisan tissue mereka pd panik... nah, trnyata begitu mereka ceboknya pakai tissue xD

    kalau di sini mah pake tissue ga afdol, kudu ada air + sabun, baru dh itu bs dirasa bersih, hehe

    oh skrng jd dosen di luar, waah saya kira msh berjuang buat cari kerja di sini...
    wah keren, ini malah lebih baik dapetnya... semangat bang keven :D

    ReplyDelete
  29. Lucu ceritanya. toleransi Kebhinekaan sih aku iyes, tapi soal keimanan absolutly NO

    ReplyDelete
  30. Saya lebih setuju dengan ajaran universal seperti itu sehingga tidak ada yang merasa paling benar. Mari kita jaga keberagaman, semoga semakin banyak yang menulis hal-hal baik seperti ini agar berita di dunia maya tetap seimbang. Salam.

    ReplyDelete
  31. gue tahu dari bang panji yang selelu cerita kalau WC di china itu jorok-jorok bang hahahaha dan ini lo cerita lagi makin yakin gue misal ke china harus bawa ember air haha

    menarik yah ketika tanya jawab tentang agama, memang sebagian dari masyarakat kita agama menjadi barang yang 'disayang' banget, tapi tidak diimbangi dengan pandangan yang luas tentang manusia. bahwa manusia itu dari sononye udah beda-beda jadi kalau ada yang beda ya udah jangan ribut jangan sensi. makanya untuk gue GUS DUR adalah panutan gue dalam hal seperti ini..

    ReplyDelete
  32. Wow! Sekarang Ko Keven jadi laoshi! Pasti seru banget! Ditunggu banyak cerita soal mengajarnya ya :D

    Poin #3 is very interesting. Aku sendiri ga suka bahas my insight soal agama/politik ke publik tapi aku bisa bilang kalo aku sekarang kurang lebih sama kayak siswa2 ko Keven. :) Aku fleksibel gitu, hehe. Really good and unbiased post!

    ReplyDelete
  33. Ternyata "se-penasaran" itu murid-murid disana dengan kebiasaan cebok kita, ya. Heuheuheu. Padahal kalau dipikir-pikir, saya juga sempat ngebayangin kalau cebok dengan menggunakan tissue adalah sesuatu yang menjijikan. Bayangan saya sih, cebok dengan tissue ngga bakal bisa sebersih pakai air. Ternyata mereka yang ceboknya pakai tissue juga berpikiran yang sama.

    ReplyDelete
  34. Super sekali tulisan kokoh kali inih....

    Iya noh, sekarang banyak orang jadi DUNGU hanya karna mempermasalahkan perbedaan. Kenapa harus dilihat perbedaannya? Kenapa gak dicari persamaannya?

    Heran banget deh gue, hidup rukun kok susah banget yah. Kapan ini orang pada tobat biar gak bikin rusuh terus. Pengen rasanya mereka gw ekspor ke lautan pasifik. Biar jadi makanan ikan aja deh.

    ReplyDelete
  35. Eh, barusan di sebelah baca cerita traveler yang sekamar sama orang China dan misuh-misuh saking joroknya mereka, tiba2 di sini ada bukti lainnya hahaha sounds good.

    Hm, aku jadi keingetan. Dulu kayaknya Ko Keven pernah cerita soal hal2 unik di China, yang perawan gak boleh cukur bulu ketek, sama yang anak2 kecil pake celana yang pantatnya kebuka hahaha.

    Iya. Indonesiaku sedang sakit. We need more people to heal it soon. Tapi soal agama, kalo di Indonesia sensitif sekali ya, kind of way of life.

    ReplyDelete
  36. Aku pernah ke Beijing dan memang toilet umum di sana... Ampun deh. Jadi gak berani kalau mau ke toilet umum.

    Btw, sebenarnya ini menarik untuk diteliti. Eh atau jangan-jangan sudah ada penelitiannya ya? Kenapa bangsa kita semakin ke sini semakin sensitif soal agama?

    ReplyDelete
  37. Asik nih baca tulisannya pak dosen. Sebagai mantan mahasiswi bahasa asking (Prancis), Saya sangat menikmati penjelasan tentang kebudayaan dipostingannya.


    Saya menunggu postingan selanjutnya loh!


    Regards,
    Tina.

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe