Mengajar Dengan Hati

13:35:00



Jaman semakin maju, anak-anak muda juga semakin kreatif. Tapi sayangnya, ada yang memanfaatkan kreativitas mereka itu untuk melakukan hal yang tidak baik. Mencontek, misalnya.

Salah satu bagian yang menyebalkan dari profesi menjadi guru adalah saat menghadapi ujian. Seriusan. Percaya ga percaya, ga cuma murid yang sebel sama ujian, guru pun sebenernya begitu. Kenapa? 

Pertama, bikin soal ujian itu ga gampang, banyak aturan yang cukup ribet dari sekolah/kampus yang harus dipenuhi. Jadi buat kalian murid-murid yang mikir bahwa guru itu kalo bikin soal ujian seenak perut, kalian SALAH BESAR. 

Kedua, meriksa ujian itu...melelahkan. Apalagi kalo meriksa lembar-lembar ujian yang banyak salahnya, wah tangan bisa pegel setengah mati itu corat-coretnya.

Terakhir, mengawas ujian itu bukan pekerjaan yang menyenangkan. Sekali kita ga liat, pasti langsung ada murid yang nyontek.Ga di Indonesia, ga di Tiongkok, sama aja. 

Kenapa SIH harus nyontek? Jaman sekolah dulu, gua akui gua juga PERNAH nyontek, tapi ga sering-sering amat kok, hanya di pelajaran-pelajaran tertentu. Paling sering tuh nyontek rumus matematika/fisika doank, dan biasanya di pelajaran-pelajaran tersebut, hasil nilainya pun tetep ga bagus-bagus amat. 

Menurut pengalaman dan pengamatan gua, motf nyontek itu secara kasar bisa dibagi menjadi dua :
1) Di saat kita telah berusaha tapi kita tetep tidak pede dan tidak menguasai materi yang diujikan
2) Di saat kita ga mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, karena malas
Dan sedihnya, dari pengalaman gua mengajar di Indo dan di Tiongkok, murid-murid yang nyontek tuh biasanya didasari oleh motif no 2

Cara nyonteknya pun macem-macem. Ada yang klasik dengan cara bisik-bisik atau bikin contekan, ada juga yang dengan cara modern yaitu saling tuker-tukeran jawaban lewat aplikasi chatting, bahkan ada yang murid yang ngaku ma gua kalo mereka punya "grup rahasia" di aplikasi chatting mereka, khusus untuk contek-mencontek.



Tapi apapun motif dan metodenya, yang namanya mencontek itu SALAH. Gua pernah baca suatu hari artikel yang bilang bahwa menurut riset, ditemukan bahwa anak yang sedari muda terbiasa berbohong dan mencontek, setelah dewasanya punya tendensi untuk jadi penipu dan koruptor. Jadi kalau kita membiarkan murid-murid kita mencontek, itu artinya kita sedang membiarkan mereka menjadi calon-calon penipu dan koruptor.

Karena itulah di saat ujian akhir semester minggu lalu, gua berpikir sangat keras, bagaimana caranya mencegah murid-murid mencontek. Setelah berpikir panjang, akhirnya gua mendapat sebuah ilham.

"Bapak harap, ujian hari ini kalian bisa mengerjakan sendiri-sendiri" kata gua kepada murid-murid, sebelum membagikan soal ujian. 
"Nilai itu bukanlah segalanya. Tapi yang menentukan masa depan kalian adalah sikap kalian"

"Kalo kalian lulus nanti, dan misalnya, kemampuan kalian biasa-biasa saja, kalian masih tetap punya banyak peluang dan kesempatan. Tapi, sekali kalian ketahuan berbuat tidak jujur, reputasi kalian bakal hancur dan kalian bakal kesulitan bisa mendapatkan kembali kepercayaan dari perusahaan/klien kalian. Jadi, ayo, mulai sekarang, kita biasakan diri untuk berbuat jujur."

Kemudian gua tulis kata JUJUR besar-besar di papan tulis.

"Saya ga mau kalo di sepanjang ujian ini, saya harus melototin kalian seperti saya melototin pencuri. Jadi ya, saya percaya sama kalian, dan kalian tolong jaga kepercayaan saya"

Setelah ngomong gitu, gua pun duduk di salah satu meja di belakang kelas dan mulai meriksa ujian-ujian yang telah lalu. Dan apa hasilnya? Hari itu gak ada satupun murid-murid yang kelihatan nyontek atau bisik-bisik. Dan waktu gua periksa hasilnya, ga peduli salah atau benar, ga ada satu orangpun yang jawabannya sama.



Ternyata jadi guru itu memang bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Karena sebagai seorang guru, kita tidak hanya bertanggung jawab untuk menghasilkan murid-murid yang berprestasi secara akademis, tapi juga harus membuat mereka berakhlak secara moral. Dan kalau kita mau menghasilkan individu-individu yang berbudi pekerti, tidak ada cara yang lebih baik selain lewat teladan dari diri kita sendiri.

Dulu, sepanjang ujian,selalu  gua melototin mereka dengan ketat, seolah-olah gua sangat ketakutan bahwa mereka akan mencontek, dan hasilnya mereka pun mencontek beneran. Kenapa? Karena ada aksi, ada reaksi. Kalau gua sebagai guru pun tidak percaya sama murid-muridnya sendiri, bagaimana mungkin murid-murid gua juga mau percaya sama kemampuan diri mereka sendiri?

Tapi sebaliknya, di saat gua kasih mereka kepercayaan, ternyata mereka bisa menjaga kepercayaan yang gua berikan tersebut. Dan dengan begitu, mereka juga belajar untuk percaya sama kemampuan diri mereka sendiri.

Jadi intinya, murid-murid itu adalah cerminan diri kita para guru. Kalau kita ingin mereka menjadi lebih baik, kita harus mulai dari memperbaiki diri kita sendiri. Kalau murid kita banyak kekurangan, kita gak boleh cuma nyalahin mereka, tapi kita sebagai guru juga harus introspeksi, jangan-jangan metode atau cara penyampaian kita yang kurang baik. Kalau murid-murid susah diatur dan tidak respek sama kita, jangan-jangan itu semua karena kita juga kurang respek sama mereka.

Di saat kita mengajar dengan hati, niscaya murid-murid juga akan belajar dengan sepenuh hati.

Sebenernya ga cuma dalam hal mengajar, dalam hidup juga sama. Di saat kita menghormati orang lain, orang lain juga pasti akan respek sama kita. Di saat kita gigih dan rajin, cepat atau lambat kita pasti akan mendapatkan hasil yang setimpal. Hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Bagaimana kalau kita sudah respek sama orang, tapi orangnya tidak respek sama kita? Bagaimana kalau kita sudah rajin, tapi hasil yang kita dapatkan tidak sesuai dengan usaha kita?

Di China ada sebuah pepatah yang berkata
“善有善报,恶有恶报,不是不报,时辰未到”
(Kebaikan pasti akan berbuah kebaikan, keburukan pasti akan berbuah keburukan.
Tidak ada karma yang tidak berbalas, semua akan dibayar pada waktunya)

Gua sih percaya banget sama kalimat di atas, soalnya gua udah mengalami sendiri, berkali-kali.

Tuhan itu maha adil, teman. Kadang Ia tidak memberikan apa yang kita minta, melainkan memberikan apa yang kita butuhkan, di saat kita membutuhkannya.

Jadi, teruslah berusaha, berikan yang terbaik bagi hidupmu dan orang-orang di sekelilingmu. Jangan pernah berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri.

Di saat kita memberikan yang terbaik yang kita miliki, alam semesta juga akan memberikan kita yang terbaik.


You Might Also Like

31 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Semoga banyak guru2 lain khususnya di Indonesia yang seperti Pak Keven. Dua jempol!

    ReplyDelete
  2. Lanjutkaaan pak. . Menjunjung tinggi kejujuran lebih baik dr pada nilai ujian bagus tp penuh kecurangan 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, lebih baik kalah terhormat daripada menang melalui kecurangan

      Delete
  3. Keven apa kabar? Lama dipi ga ikutan BE. Soal guru dan nyontek itu mmg tantangan bgt ya. Strategimu bagus jg tuh utk ngasih kepercayaan ke murid setelah sebelumnya mberikan motivasi dan pemahaman. Dulu dipi pernah jadi pengawas UN, trus ngedapetin siswa nyontek, trus contekannya dipi ambil, laluuu... Tak lama kmudian dipi dipanggil kepala sekolah yg bersangkutan. Bilangnya spy memaklumi si siswanya. What a life ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, percaya ga percaya, di negara mana pun, saya menemukan bahwa banyak lho oknum-oknum yang sengaja "membiarkan" murid-muridnya mencontek supaya gak ada yang tinggal kelas. Ngaco memang.

      Delete
  4. bener bnget dah. modal terpenting dr suatu insan adalah kepercayaan. kalo org itu gak punya kepercayaan slamanya prg itu bklan gak diterima dimna2, gk pnya wibawa. beda sma org yang trknal bisa dipercaya, dia bakalan slalu dihargai dan org2 pun sungkan. dia juga bisa mmbwa dirinya ke arah kebaikan. contohnya ya, tidak mencontek, trkdang ane jga mikir sma kyk yang dijelaskan barusan ktika tmen ane nyontekin ane. ane ma susah2 ngerjain soal, tpi mrka enak2an nulisa jwaban
    tapi ane mkir gppa dah, mngkin ane ada dibawah, dan suatu saat ane bkalan diatas. intinya roda slalu brputar. ijin share :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam hidup, naik turun itu adalah hal yang biasa. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah, Ada awal dan ada akhir. Tapi yang penting adalah bagaimana cara kita mampu menyesuaikan diri dengan keadaan tanpa kehilangan prinsip hidup dan nilai-nilai yang kita pegang.

      Delete
  5. bikin soal ujian itu memang dilema: kalo soal PG bikinnya lama tp ngoreksinya cepet, soal essay kebalikannya.. nice post pak guru. Salam kenal dr sy (mantan guru) hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain bikin soal, bikin layout lembar ujiannya itu juga melelahkan hahaha. Salam kenal ya

      Delete
  6. Jujur, masih sering nyontek. Tapi sama, dipelajaran tertentu juga. Tapi cara ini kerrn sih, wajib dicoba untuk semua guru di Indonesia~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sebaiknya guru bisa mengingatkan murid-murid bahwa ada banyak cara untuk bisa berhasil tanpa harus curang =)

      Delete
  7. Setuju mas, aku sendiri pernah bikin soal untuk UJIAN, dan itu gak semudah membalikan telapak tangan. Apalagi meriksanya, aku bisa merasakannya.

    Dulu aku juga gitu, pernah nyontek, memang benar mas, gak semua pelajaran. AKu sendiri lebih ke yang berbau angka. Memang itu terasa sulit menurutku..

    Dan betul kejujuran itu sangatlah penting. Gak cuma dalam mengisi soal ujian saja. Dalam hidup pun seharusnya jujur. Karena akan mudah untuk kedepannya. Dan akan mudah dipercaya juga oleh orang.

    Semoga makin banyak guru-guru yang jujur dan membuat para muridnya menggapai cita-citanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya sebenernya gua paling males kalo disuruh ngadain ujian, hahaha

      Delete
  8. Menyontek, aku jarang menyontek. klo menyontek cuma rumus rumus mtk dan fisika (hehe). nggk seperti kebanyakan kawanku yg suka nyalin jawaban orang lain -_-

    Ternyata jadi guru melelahkan, ibuku juga pernah minta tolong aku mengisi rapot murid murid SDnya. Aku sendiri sempat kewalahan, tapi aku selesaikan supaya ibuku nggk kecapek-an

    Quote cina yg terakhir BENER BANGET. Karma pasti datang, karena aku sendiri pernah mengalaminya. Karena kata orang "ada sebab, ada akibat".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai =)

      Delete
  9. saya guru TK jadi ga ngerti tentang bikin ujian... ada yg bilang jadi guru TK lebih enak... kata siapa..sama susahnya sih, karena mereka kan lagi dalam masa golden age, ditambah lagi kadang suka banyakan tantrumnya dibanding nurutnya... salah2 ngajar bisa berakibat fatal buat masa depan mereka...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut gua pribadi, guru TK tuh pekerjaannya jauh lebih berat daripada dosen di universitas hahaha. Gua pribadi paling ga tahan sama anak kecil. Wah nyerah deh kalo disuruh ngajar di TK mah, ga sanggup! Salut sama lu Mel!

      Delete
  10. Jadi guru emang gk gampang. Gue juga ngerasahin itu. aha. tp ya namanya jg profesi. pasti punya resikonya.

    kalo gue sih ksh ngerti siswanya bhwa jangan takut dpet nilai jelek. trus juga musti tegas sama siswa yg ketahuan nyontek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gurunya harus tegas, yang mana hitam dan yang mana putih, jangan jadi abu-abu

      Delete
  11. Pernah nyoba jadi guru les dan berasa susah banget, mana basic ku bukan dari dunia pendidikan. Cuma iseng aja daftar jadi tentor les privat. Bagian tersulit adalah menjelaskan dengan kalimat sejelas-jelasnya supaya si anak mengerti.
    Soal mencontek, dulu jaman SMA aku pernah sih nyontek. Entah itu bisa dikatakan sering atau jarang. Tapi semenjak kuliah, aku sadar kalo nyontek tuh membahayakan diri sendiri malah.
    Ceritanya tulisanmu ini curhatan seorang guru banget ya :') setuju sih, tapi ga semua. Di tulisanmu ini kamu menceritakan seolah-olah kamu ga pernah ngerasain gimana rasanya ngerjain soal yang susahnya amit-amit naudzubillah, ga pernah diajarin tapi yang dikeluarin susahnyaaaa minta ampun. Udah gitu tuntutan KKM per murid sekarang tinggi banget. Kalo ada kasus seperti ini, masih mau nyalahin murid?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan nyalahin, tapi melalui tulisan di atas, saya sebagai seorang guru mengambil posisi untuk tidak MEMBENARKAN segala bentuk kecurangan dan mencontek. Mungkin Anda tidak memahami kenapa saya menulis seperti di atas, tapi ya just FYI, di sekolah-sekolah tempat saya pernah mengajar, banyak guru yang sengaja membiarkan muridnya mencontek. Alesannya? Karena takut muridnya ga lulus. Nah ini pemikiran yang salah, mengajari murid untuk berbuat curang supaya lulus. Lebih baik soal ujiannya digampangin aja kalo memang takut muridnya ga lulus.

      Di mata pelajaran yang saya pegang, saya menuntut murid untuk jujur, TAPI bukan berarti lantas saya tidak mengerti kesulitan yang mereka hadapi. FYI, nilai ujian akhir di kampus saya bobotnya hanya 40%, sisa 60% adalah prestasi sehari-hari. Nah saya bisa bantu mereka melalui nilai yang 60% ini, supaya mereka bisa lulus mata pelajaran saya. Pokoknya kalau mereka tidak pernah bolos, selalu mengumpulkan tugas, saya akan berikan nilai prestasi sehari-hari setinggi yang saya bisa. (Tentunya, mereka tidak tahu akan hal ini. Kalau tahu, nanti malah ga belajar pas ujian)

      Jadi karena itulah saya bilang ke mereka, jangan takut dapat nilai jelek. Di pelajaran saya, yang penting adalah kamu mampu menguasai materi (dalam hal ini, Bahasa Indonesia) dan mampu mempraktekannya (menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari). Nilai ujian bukan segala-galanya. Kalau murid-murid bisa mengerjakan ujian dengan jujur, saya akan bantu mereka supaya mereka lulus. Begitu.

      Apapun alasannya, berbuat curang itu tidak dapat dibenarkan. Menurut saya, nilai itu yang harus kita tanamkan pada murid-murid. Lebih baik kalah secara jantan, daripada menang tetapi curang. Hal ini harus kita ajarkan sedari dini supaya setelah dewasa nanti, mereka menjadi orang yang jujur, ga jadi koruptor di negara kita, yang udah jelas salah tapi masih cari-cari alesan dan menyalahkan orang lain.

      Delete
  12. Waah saya juga pernah mengalami hal yang sama... bikin soal, trus periksa jawaban. Tapi, karena saya mengajar sekelas SD jadi tidak terlalu susah banget. Tradisi contek menyontek juga tetap ada walaupun nggak banyak, memang harus dikasih pengertian. Jangankan nyontek malah ada murid saya yang belum lancar baca dan tulis, padahal udah kelas 3 lho. Saya jadi kasian sama anaknya karena dia pasti pusing dengan soal-soal ujian yang nggak sesuai dengan kemampuannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau begitu, yang harus kita lakukan adalah memberi dia perhatian khusus dan mengajari dia supaya lancar baca tulis. Jangan karena muridnya tidak mampu, lantas kita anjurkan dia untuk mencontek. Saya sering denger lho, entah karena gurunya ga mau cape atau karena gurunya sudah putus asa, lantas mengambil jalan pintas, mengizinkan siswa yang kurang mampu tadi untuk "mencontek"

      Delete
  13. Guru itu salah satu pekerjaan mulia, namun tantangannya berat banget, nggak cuman ngajarin anak didiknya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, tapi juga menjadi suri tauladan dan sebagai petani yang harus menanam nilai moral yang baik bagi murid-muridnya. Semangat Ko Kev, semoga senantiasa diberi kesehatan dan inovasi-inovasi brilian untuk kemajuan murid-muridnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul-betul, karena murid-murid di bawah sadar akan mencontoh teladan gurunya. Aminnn, terima kasih ya.

      Delete
  14. Semangat terus pK.... jadilah guru yg jujur ,,,, l

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe