Bersyukur Menjadi Orang Indonesia

21:02:00


Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak. 
Tampaknya peribahasa ini sangatlah cocok untuk menggambarkan keadaan masyarakat kita saat ini.

Gua adalah satu dari sekian banyak anak muda yang sedari kecil mempunyai cita-cita untuk hidup di luar negeri. Tapi setelah merantau dan melihat dunia luar selama 6 tahun terakhir ini, gua jadi lebih peka dan memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang dulunya selalu gua abaikan. Sampai akhirnya gua menyadari satu hal yang sebelumnya tidak pernah gua sadari : gua bersyukur menjadi orang Indonesia.

Dalam setahun, gua cuma pulang ke Indonesia 1-2 kali. Setiap tahun, gua menghabiskan waktu 10 bulan hidup dan bekerja di Tiongkok, di negara yang katanya teknologinya adalah salah satu yang paling maju di seluruh dunia. Tapi, gak peduli seberapa modernnya kehidupan di sana, setiap kali gua pulang ke Indonesia, gua masih selalu tercengang dan terkagum-kagum melihat kemajuan di Indonesia.

Gak usah jauh-jauh deh, contoh simpelnya gini. 3-4 tahun yang lalu, rasanya sangat sulit untuk bisa hidup di Indonesia tanpa kendaraan pribadi. Tapi sekarang? Selain transportasi umum konvensional, kita punya banyak pilihan media transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek, Uber, Grab, dll.

Sekarang tiap kali pulang ke Indonesia, gua udah gak pernah nyetir motor sendiri, ke mana-mana tinggal naik Gojek atau Grab. Selain praktis, mengurangi kemacetan dan polusi, hemat waktu dan hemat biaya parkir (dulu kalo pake mobil bisa sejam muter-muter di parkiran mall buat cari parkir), why not?

Beberapa tahun terakhir ini, negara-negara di dunia sedang gencar-gencarnya mengembangkan teknologi e-money. Mengapa e-money ini menjadi hal yang sangat penting di era globalisasi ini? Karena kalau kita bisa mendigitalisasikan uang, nantinya akan semakin mudah untuk bisa bertransaksi lewat Internet. Tahun lalu gua pernah bahas hal ini di blog. Di China, mau bayar ini-itu tinggal scan QR code pake HP. Mulai dari booking tiket di bioskop, nyumbang ke panti asuhan, sampai beli jajanan di pinggir jalan, semuanya bisa transaksi lewat Alipay. Sehari-harinya kita udah ga butuh bawa uang tunai, cuma butuh beli paket internet yang koneksinya memadai aja hehehe. Bayangin, betapa asiknya kalau kita bisa transaksi di Internet tanpa harus punya kartu kredit atau isi token?

Meskipun belum secanggih Alipay nya China, tapi sistem milik Indonesia juga gak kalah modern lho. Jaman sekarang, kalau mau delivery makanan atau kirim barang gak usah jauh-jauh ke luar rumah, tinggal pakai Go-Send atau Go-Food aja. Mau booking tiket bioskop? Gak perlu cape-cape bikin member dan isi token di bioskop, tinggal pakai Go-Tix. Beres deh. Nah sekarang kalian nyadar ga sih, betapa praktisnya hidup di Indonesia? Gua pernah diskusi tentang hal ini bersama teman-teman dari mancanegara, dan ternyata hanya sebagian kecil negara di dunia yang sudah punya sistem kayak gini.

Foto nyomot dari internet, karena kita gak boleh foto-foto di area imigrasi

Contoh lain. Cobain deh kalian pergi ke luar negeri lewat Terminal 3 Soekarno Hatta. Di sana, negara kita sudah punya sistem gerbang imigrasi otomatis. Kita tinggal scan paspor untuk masuk, scan sidik jari, beres deh. Prosesnya biasanya gak sampai 30 detik dan semuanya sudah diautomatisasi oleh komputer. Praktis kan? Udah gak usah lagi ngantri lama-lama dan pasrah nunggu dijutekin sama petugas imigrasinya.

Waktu pertama kali menggunakan sistem autogate ini, gua dan temen-temen agak was-was karena ternyata paspor kita jadinya gak dicap sama petugas imigrasinya. Wah, bakal masalah ga nih nanti di negara tujuan? Eh ternyata lancar-lancar aja, gak ada masalah tuh meskipun paspornya ga dicap.

Waktu sampai di imigrasi China malah gua sempet nanya sama petugas imigrasinya, ini paspor saya gak ada cap keberangkatannya karena tadi saya lewat autogate, apakah gak akan jadi masalah? Petugasnya malah ketawa gitu, terus bilang ke gua : "Kalo lewat autogate, data keberangkatan Anda otomatis udah ada di database internasional, buat apa pakai cap lagi?" Sial, gua jadi keliatan ndeso gitu di mata dia.

Tapi intinya, di China sekalipun, belum banyak bandara yang menggunakan sistem gerbang imigrasi otomatis ini. Jadi bisa dibilang bahwa Indonesia adalah salah satu negara pelopor yang menggunakan sistem gerbang imigrasi otomatis. Bangga kan?

Oh ya, Terminal 3 Soekarno Hatta bagus banget lho. Besar, rapi, dan sangat modern. Gak kalah bagus deh sama Changi atau Bandara Hongkong. Rasanya seperti ada di luar negeri. Di dalam bandaranya ada taman kecil dengan style khas ala Nusantara. Wifinya kenceng, ada banyak tempat untuk charge gadget pula. Kalo ada kesempatan, silakan kalian berkunjung sendiri ke sini hehehe. Akhir-akhir ini ada banyak banget blogger yang berlomba-lomba ngebahas Changi Airport (ternyata karena ada sayembaranya), tapi rasanya masih jarang banget yang ngebahas Terminal 3 Soekarno Hatta ini.



Oya, kalian tau gak kalau sekarang di China sudah ada 11 universitas yang mempunyai jurusan Bahasa Indonesia? Salah satunya adalah universitas tempat gua bekerja saat ini. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia diprediksi akan menjadi raksasa ekonomi di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan, jadi ya negara-negara di dunia mulai menyadari betapa pentingnya untuk bisa Bahasa Indonesia. Dan gak cuma di China, dari hasil ngobrol dengan teman-teman dari mancanegara, katanya di Australia, Amrik, Jepang, Korea Selatan, Ukraina, Inggris, Kanada, Vietnam, dll juga sudah bermunculan fakultas-fakultas Bahasa Indonesia. Gimana, bangga kan jadi orang Indonesia?

Beberapa hal di atas hanyalah beberapa bukti sederhana bahwa negara Indonesia kita yang tercinta ini kini sedang berkembang pesat, ke arah yang lebih baik. Dan gua optimis bahwa perubahan positif ini akan mengantar bangsa Indonesia ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Jadi kalau ada yang bilang bahwa Republik Indonesia bakal bubar di tahun 2030, sori, tapi menurut gua itu adalah sebuah prediksi yang super ngawur dan tidak berdasar. 

Gua bukan pakar politik, gua juga bukan filsuf, tapi lewat poin-poin simpel yang gua sebutkan di atas, seharusnya mereka-mereka yang awam dan buta politik sekalipun bisa menyadari, betapa beruntungnya kita menjadi rakyat Indonesia.

Jadi tunggu apa lagi? Kalo kalian juga cinta sama negara ini, ayo kita sama-sama buat Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Stop nyebarin hoax, stop berantem karena isu SARA, mari kita sebarkan optimisme, bersama-sama menyongsong masa depan yang lebih baik.



You Might Also Like

32 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. Ya ampun gue setuju banget, Indonesia baru gue tinggal setahun aja, kemaren pas gue liburan, eh udah makin maju aja, terutama di daerah gue ya, yang dulu gojek, uber dll cuma ada di pulau jawa, cuma dalam hitungan bulan, udah menebar ke daerah gue, dan banyak banget pula.

    di sini di Prancis juga ada kok beberapa kampus yang punya jurusan bahasa Indonesia, keren kaaannn Indonesia?




    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren donk, hehehe. Saya juga sekarang bekerja sebagai pengajar Bahasa Indonesia di Tiongkok. =)

      Delete
  2. Nggak cuma di kota-kota besar aja sekarang mah, transportasi online udah masuk ke daerah kecil seperti tempat tinggal saya di daerah Jawa Tengah. Meskipun menurut kita "bagus dan cukup membantu", tapi pas awal-awal masuk, transportasi ini lumayan dapet banyak masalah. Contoh simpelnya sih, ojek-ojek konvensional pada nggak terima dan berdemo ria.

    Ngakak pas baca "banyak yang mbahas Bandara Changi, o ternyata ada lombanya, to?" XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, yang namanya perubahan memang tidak mudah. Apalagi di negara kita masih banyak orang yang kurang berpendidikan, saklek, dan menolak perubahan. Tapi secara overall, saya lihat Indonesia sedang maju dengan pesat ke arah yang lebih baik =)

      Delete
  3. Bener banget. Somehow saya yang sering banget grumpy soal permasalahan di Indonesia—mulai dari politik, sosial, ekonomi, sampai yang receh kayak urusan sampah—tetap suka bersyukur juga jadi orang Indonesia. Sesimpel beberapa kali pas lagi traveling di luar negeri ketemu backpacker-backpacker mancanegara, trus mereka bangga cerita ke saya kalau mereka udah mengunjungi banyak tempat di Indonesia: bahkan ke tempat-tempat yang saya belum pernah kunjungi sebagai orang lokal! Lalu dikomentari, "You should be proud to be an Indonesian. Your country is beautiful." Rasanya semua permasalahan negeri ini langsung hilang di kepala saya :-))) Menurut saya, mungkin yang terjadi sekarang ini di Indonesia adalah generasi dan pemikiran modern yang bertubrukan dengan pemikiran kuno dan belum siap untuk maju. Masih kaget dengan perubahan zaman, jadi nggak heran banyak terobosan karya anak bangsa yang malah dihadapkan dengan penolakan. Tapi saya pun berpikir yang sama, optimis Indonesia sedang menuju ke yang lebih baik. Anyways, salam kenal, thanks for sharing :-)

    www.ruthvcp.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. Iya, temen-temen bule saya juga sering bilang, selain negaranya indah, orang Indonesia itu pada dasarnya ramah-ramah dan peduli sama orang lain =)

      Delete
  4. Sama seperti yang saya alami mas. Ketika di Indoensia, gak pernah berasa betapa kerennya Indonesia ini. Sampai kerja di Liberia (kurleb 2 tahunan), ternyata Indoneia itu keren banget. Kita memang harusnya bersyukur menjadi orang Indonesia. Dan setuju banget untuk mulai pintar2 lihat isu yang berkembang - jangan hanya langsung sebar gitu aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, memang sudah sifat dasar manusia, baru bisa menghargai setelah jauh / tidak ada. Tapi ya yang penting kita sudah sadar betapa kita harus bersyukur menjadi orang Indonesia.

      Delete
  5. Kak Keven, ijin share tulisannya yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan. Terima kasih sudah bantu share.

      Delete
  6. Gak pernah mikir untuk tak bangga jadi orang Indonesia. Lah, gue juga senang bisa berada di tempat yang almnya indah. Gue gak pernah ke luar negeri karena lom kesampaian, hehe, namun satu hal yang paling gue inginkan adalah bisa keliling nusantara.
    BTW, kartun di akhir tulisan kayak logo brand saja, hihi.
    Soal Indonesia bubar, gue gak paham napa harus ada komen gitu. Emang masalah dalam negeri kita kisruh karena banyak yang main keruh-keruh, namun pada intinya masih banyak rakyat Indonesia yang cuek politik apalagi HOAV jadi merasa damai saja.
    Sedih, ya, jika ada yang tak menghargai negaranya dengan bikin ulah provokasi mulu. Tujuannya dapat apa? Apalagi kalau pelakunya warga negara Indonesia sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasa lah, Mbak, Ujung-ujungnya politik. Kalo bersaing di pilpres dengan jujur pasti kalah, makanya harus pakai cara kotor dan hasut menghasut dari setahun sebelumnya.

      Delete
  7. Tetap optimis Indonesia akan menjadi Negara maju dan berjaya,, kekecewaan yg ada bukan alasan utk ikut berkontribusi mewujudkan Indonesia maju dan berjaya,,
    Sisi posisif spt yg agan sebutin itu salah satu motivasi kita utk terus maju,, karena toh msh ada pemikiran dan aksi yg membanggakan di Indonesia tercinta,, Merdeka

    ReplyDelete
  8. Owalah, Mas Keven berarti sekarang menetap di Cina to?
    Hahaha... setuju banget. Sekarang aku tinggal di first world country -dan di desa dengan 2000 penduduk. Toko jam 5 udah tutup, ngga ada ojek, kalau laper mau masak males tapi kalau jajan mahal T____T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan menetap, cuma kerja, kontraknya diperbaharui per tahun. Kayaknya seru tuh kehidupan di desa, kayak di game Harvest Moon hehehe.

      Delete
  9. Saya juga merasakan hal yang berbeda dan menjadi peka terhadap hal-hal kecil setelah sebentar aja ke luar negeri. Tapi lebih ke hal-hal rasa cinta tanah air, belum sampai sepeka itu terhadap teknologi.

    Memang, syukurlah Indonesia makin maju dan berkembang teknologinya. Tapi (ntahlah ini saya awang-awang sendiri), masih sangat banyak dan besar, pr Indonesia untuk edukasi masyarakat (terutama generasi muda ya) mengenai kebijaksanaan dan nilai moral dalam penggunaan teknologi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget. Teknologi udah maju, tapi kemajuan teknologi ini tidak dibarengi dengan kemajuan manusianya. Jadinya ya seperti yang kita lihat di berita-berita setiap hari. Terlalu banyak orang bodoh yang melek internet dan berbuat seenaknya.

      Delete
  10. Lah seriusan udah banyak negara yang buka kelas bhs. Indonesia ?
    Wah aku baru tahu. Jadi tercengang !
    Sayang aku belum pernah keluar negeri jadi kurang bisa membandingkan kemajuan negara sendiri.
    Tapi kalau dipikir-pikir lagi emang bener sih, sekatanh kalau mau ngapai-ngapain jadi gampang.
    Transportasi online sudah jadi makananku sehari-hari karna lebih simpel dan hemat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, di China sini misalnya, setiap tahunnya ada ratusan orang yang daftar ke jurusan Bahasa Indonesia. Positifnya, negara kita jadi makin dikenal dunia. Negatifnya, setelah bisa Bahasa Indonesia, mereka bisa baca berita-berita gak karuan tentang Indonesia, dan melihat betapa hancurnya kelakuan netizen kita hahaha.

      Delete
  11. wagelasieeeehhh soetta udah segitu kerennye???? kurang publikasi nih berarti, PR soetta kudu gencar lebih giat buat publikasi kekerenan ntu terminal, macem si Changi. kece bener udeh pake autogate baru tau gue, inget waktu di jepang ngantri berjam2 karena belom ada autogate. ternyata emang belom semua airport internasional punye yak. mantap indonesiaaaa, optimis selalu dah kite mah, yang pesimis terus hempaskan sajaaaaa!!!

    ReplyDelete
  12. Keren! Ini dia anak muda yang patut dicontoh. Walaupun sudah pindah ke luar negeri tetap cinta sama negeri sendiri dan peka dengan perubahan negara

    ReplyDelete
  13. Setuju banget dengan kata2 terkahir, stop nyebarin hoax dan debat gak jelas. Ayo sama2 bangun indonesia ke arah lebih baik. Gue juga salah satu orang yg percaya, bahwa indonesia bakalan menjadi negara besar. Gue selalu mikir positif, siapapun yg mimpin negri ini, pasti mereka mau menjadikan Indonesia lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  14. saya belum sempat memandang indonesia dari luar, jadi terimakasih sudah jadi kacamataku huhu

    ReplyDelete
  15. Kalimat terakhir keren banget, udahlah gak usah dibesarin kalau ada gosip-gosip ya kan. Anak muda Indonesia itu aja sifat buruknya selain itu saya juga bangga sbg warga negara Indonesia. Tapi btw semua yg kamu jelasin di atas gak semuanya ada di kota-kota kecil kayak kotaku. Kayak aplikasi grab dll itu belum ada dan belum bisa digunain. Ya walaupun makanan disini bisa delivery lewat chat WA dan ojek juga bisa antar jemput, tapi semua itu belum menggunakan aplikasi. Karena disini fasilitas belum memadai. Kadang tiva-tiba disuatu lokasi gak ada koneksi internet. Apalagi e-money, disini jarang banget yg pakai kayak gitu. Apa-apa masih tunai aja. Hihi. Tapi perkembangan tersebut kami sudah tau, hanya tinggal menunggu waktu mungkin akan segera ada disini. Karena seperti yg kamu bilang tadi, perkembangan Indonesia ini lumayan cepat 👍salut sama kamu, udah tinggal di luar negeri tapi tetap bangga sama Indonesia. Keren.

    ReplyDelete
  16. Dimanapun saya berada, garuda tetap didadaku!

    pernah 5 bulan kerja di Malaysia jadi malah makin bangga pake paspor ijo meski sering disindir bagusan negara seberang karena bebas visanya lebih banyak. Hahaha.. Biarin aja..
    itu bisa jadi bukti orang Indonesia lebih pekerja keras dan pejuang hebat di negara orang.
    Iya dong, bikin visa liburan aja butuh kerja keras, apalagi visa kerja. Ye kan?!

    Hehehehe.

    ReplyDelete
  17. Di Indonesia, salah satu bank BUMN sedang mengembangkan aplikasi e-cash. Mirip dengan e-money yang menggunakan kartu, transaksi e-cash menggunakan handphone milik kita. Meski belum secanggih seperti disana, belum bisa scan QR code. Dengan e-cash kita bisa gunakan belanja online, beli pulsa, listrik dan lainnya. Bahkan bisa juga untuk mengambil uang ditabngan kita melalui ATM dengan handphone kita. Semoga aplikasinya terus berkembang deh ya, semogga juga semakin banyak merchant yang mau pakai aplikasinya (percuma kan kalau konsumen saja yang maju hehehe).

    ReplyDelete
  18. Terharu banget baca tulisannya kak Kevin. Apalagi sampai ada infografis kampus jurusan Bahasa Indonesia di Cina, jadi.. duh, jadi pengen nyusul temen-temen yang ada di Beijing dan Shanghai :"

    Saya tau, rasanya menerima perubahan baik itu beraatt banget. Apalagi kalo punya manfaat dan dampak jangka panjang. Saya tau, pasti ada aja orang yang menolak, bahkan ogah untuk menerima. Walaupun dalam hati pengen ikutan bahkan berkontribusi. Tapi ya, lagi-lagi tergantung pada individu. Kalo mau berubah ke hal baik, ehm, kenapa nggak disegerakan aja?

    Tetap semangat bersyukur jadi orang Indonesia kak ^0^

    ReplyDelete
  19. Ketika orang bertanya kepada saya: "bagaimana caranya mencintai Indonesia?" Jujur, saya tidak, atau belum tahu harus menjawab dengan jawaban seperti apa.

    Namun, saya melihat lagi dari sisi kehidupan saya, yang kebanyakan hidup dari buku dan film. Jadi, saya cinta Indonesia dengan tidak, atau mengurangi membajak apapun yg dari Indonesia. Jika belum bisa, setidaknya mengurangi.

    ReplyDelete
  20. Indonesia emang lagi berkembang banget sih. Nah, kalo namanya lagi berkembang, selalu dibarengi juga dengan mewabahnya kaum nyinyir. Jadi ya ... adu pendapat soal perkembangan Indonesia antar golongan, emang nggak bisa dihindari sih.

    Ihhh seneng banget kalo beberapa universitas di luar sana, punya kelas bahasa Indonesia. Aku tergoda buat ngajarin bahasa indonesia ke orang asing dari dulu.

    ReplyDelete
  21. Aku bacanya terharu, apalagi yang masalah banyak negara yg sudah mulai mengajarkan Bahasa Indonesia. jadi nanti ndak susah susah lah ya belajar bahasa lain kalo keluar negri haha Mau enaknya aja nih saya

    btw, dar tadi bahas gojek berasa lagi iklan gojek. Di Indo juga sudah ada Ovo, Yap dari BNI, dan naik kendaraan kaya busway dan krl sudah mulai pakai uang elektronik jadi gak usah pusying pusying nunggu kembalian haha

    ReplyDelete
  22. Salut sama Keven Keppi, memang benar pribahasa itu. Tapi ada lagi lho pribahasa yang satu ini: "Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina." Tentu saja maksud bukan dalam artian yang sebenarnya, tapi tuntutlah ilmu sijauh yang kau mampu, di mana pun, ke mana pun. Tapi setelah semuanya cukup kau serap kembalilah ke tanah air Indonesia tercinta ini.

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe