Hadiah Dari Inacio

11:47:00


Shijiazhuang, China, 2012

Semester pertama waktu gua kuliah di Shijiazhuang adalah semester yang paling tidak terlupakan sepanjang gua kuliah di China. Waktu itu kelas gua isinya hanya enam orang : empat orang Indonesia (termasuk gua), satu orang Polandia, dan satu orang Peru. Meskipun orang asingnya gak banyak, tapi itu pertama kalinya gua merasakan bagaimana rasanya kuliah bareng orang asing. Si Poland dan si Peru ini Bahasa Inggrisnya gak gitu bagus, tapi masih oke lah, kita masih bisa saling komunikasi. Maklum, sesama anak muda.

Suatu hari, setelah kuliah berjalan kira-kira satu bulan, kelas kita kedatangan seorang murid baru dari Brazil. Om-Om berumur 40 tahun plus plus bernama Inacio (bukan nama sebenarnya), badannya besar dan kepalanya botak. Nah Inacio ini orangnya aktif banget, nyaris setiap pelajaran dia selalu bertanya. Masalahnya adalah, Bahasa Inggris dia tuh kental banget aksennya, ditambah lagi ngomongnya gak gitu lancar. Jadi jangankan Laoshinya, kita-kita yang Bahasa Inggrisnya bisa dibilang lebih bagus daripada Laoshi nya pun gak ngerti si Inacio ini nanya apa. Dan gak mungkin juga kita komunikasi pake Mandarin, karena Mandarin kita masih selevel balita yang baru belajar ngomong.

Jadinya ya nyaris di setiap mata kuliah, kelas kita menghabiskan waktu 5-10 menit untuk menebak-nebak Inacio ini sebenernya mau nanya apa. Akibatnya, anak-anak di kelas kita banyak yang ga suka sama si Inacio ini. Apalagi umurnya pun berbeda jauh dengan kita, jadi ngobrol tuh gak gitu nyambung.

Suatu hari, seusai kuliah, Inacio tiba-tiba nyamperin gua dan ngajak gua ngomong. Awalnya gua bener-bener gak ngerti dia ngomong apa, tapi ya setelah mendengarkan secara seksama akhirnya gua nangkep maksud dia. Intinya dia pengen beli barang-barang keperluan kuliah, tapi gak tahu beli di mana. Waktu itu gua sebenernya agak males mau nolongin dia, tapi kemudian gua teringat minggu-minggu pertama gua di China di mana gua belum bisa Mandarin dan gak tahu ini itu. Waktu itu gua tertolong karena sering diajak pergi bareng sama temen-temen gua yang Mandarinnya udah lebih bagus daripada gua. Akhirnya gua menawarkan diri untuk nganterin Inacio pergi ke pasar nyari barang-barang yang dia butuhkan, dan dia seneng banget.

Di luar dugaan, ternyata si Inacio ini orangnya asik juga. Dia seneng bercanda dan juga tertawa. Ternyata meskipun kita tidak mampu memahami setiap kata yang seseorang ucapkan, dengan memperhatikan baik-baik raut wajah dan gestur tubuhnya baik-baik, kita bisa saling mengerti. Mungkin ini dia yang namanya Bahasa Tarzan. Dengan Bahasa Inggris seadanya dan Bahasa Mandarin yang sangat terbatas dicampur aduk dengan bahasa tubuh, hari itu gua dan Inacio ngobrol tentang banyak hal. Ternyata dia kerja sebagai desainer grafis di negaranya. Dia juga udah cerai sama istrinya dan dua orang anaknya ikut sama sang istri, jadi sekarang dia hidup seorang diri.

Kurang lebih kayak gini tampangnya Inacio

Seiring berjalannya waktu, gua semakin jarang main bareng temen-temen Indonesia. Gua lebih banyak jalan bareng roomate gua yang orang Ukraina, si Peru temen sekelas gua, orang Moldovia roommatenya si Peru, dan juga Inacio. Kita berlima hampir setiap hari selalu makan siang dan makan malem bareng-bareng.

Sampai suatu hari, kurang lebih dua bulan semenjak kita kuliah bareng, Inacio untuk pertama kalinya datang berkunjung ke kamar gua. Gua pikir dia mau minta film atau apa, tapi ternyata dia malah bilang gini ke gua : "Minggu depan, aku akan pulang ke Brazil."
Perasaan gua campur aduk antara kaget, dan juga sedih.
"Kok cepet banget?" tanya gua, masih setengah gak percaya.
"Iya, tadinya aku mau satu semester di sini. Tapi ternyata ada proyek yang harus dikerjain." jawab Inacio.

Tapi ternyata kepulangan Inacio tidak selancar yang dia rencanakan. Tiket pulang yang sudah dia book sebelumnya ternyata berangkat dari Beijing, bukan dari Shijiazhuang. Dari Shijiazhuang ke Beijing kira-kira butuh waktu 4 jam naik kereta api (karena waktu itu belum ada kereta express dari Shijiazhuang ke Beijing seperti saat ini). H-7 sebelum berangkat, Inacio minta gua nemenin dia beli tiket kereta api. Gua udah pernah naek kereta api satu kali waktu liburan Golden Week ke Xi'an, sementara Inacio belum pernah. Sewaktu tiba di stasiun, wajah Inacio langsung pucat. Dia bilang dia agak stress, membayangkan dirinya harus naik kereta sendirian dari Shijiazhuang ke Beijing.

Ya, gua ngerti sih maksud dia. Terbayang di otak gua, Inacio yang Bahasa Mandarinnya jauh dari lancar, sedang gotong-gotong dua koper besar, sendirian di stasiun sambil kebingungan mencari gate yang harus dituju, mendadak hati gua tergerak. Gua pergi beli tiket ke loket, sementara Inacio duduk menunggu gua, wajahnya agak pucat sambil celingak-celinguk, mungkin dia mencoba menghafal rute yang harus ditempuh nanti. Begitu gua kembali, Inacio terkejut melihat di tangan gua ada tiga lembar tiket.

"Itu...kok tiketnya ada tiga lembar?" tanya Inacio bingung.
"Oh, ini yang satu lembar tiket one way kamu ke Beijing," kata gua. "Dan dua lembar sisanya, tiket PP Shijiazhuang-Beijing untuk aku."
"Kamu...ngapain ke Beijing?"
Inacio tampaknya masih belum mengerti maksud gua.
"I'm coming with you, dummy" jawab gua.
Begitu mengerti maksud gua, Inacio langsung memeluk gua erat-erat sampe gua susah nafas. Jujur, ini pertama kalinya gua dipeluk sama cowo, yang badannya jauh lebih gede dan kekar daripada gua. Tapi gua gak akan pernah pelukan itu, karena itu adalah ungkapan hati paling tulus dari seorang Inacio.

Rasanya kayak gini, kurang lebih

Sialnya, karena gua terlalu spontan beli tiket PP Beijing-Shijiazhuang, gua tidak memperhitungkan bahwa sisa uang beasiswa yang tersisa di account bank gua hanya tinggal 200 RMB (400 ribu rupiah), sementara masih ada 2 minggu sebelum uang beasiswa berikutnya turun. Jadi selama seminggu setelahnya gua terpaksa hidup super duper hemat.

Hari keberangkatan Inacio pun tiba. Sesuai dugaan gua, barang dia ada dua koper besar. Gua bantuin dia angkat koper sambil menerobos kerumunan orang, mencari gate keberangkatan kita. (Waktu itu kita berangkatnya masih dari stasiun Shijiazhuang lama, gedungnya kecil dan sumpek, tidak seperti stasiun baru saat ini yang gedungnya sebesar airport)

Stasiun lama di China, sumpeknya kira-kira kayak gini


Setelah berenang di lautan manusia sambil bawa koper, akhirnya gua dan Inacio berhasil masuk ke kereta dan menemukan tempat duduk kami. Sepanjang jalan kita ngobrol banyak sekali. Sungguh gak terbayang akan ada hari di mana gua bisa ngobrol sebanyak ini dengan Inacio, mengingat sewaktu dia baru awal-awal datang, sangat sulit sekali untuk bisa berkomunikasi dengan dia.

Sesampainya di stasiun kereta api Beijing, gua bergegas mencari tempat keberangkatan shuttle bus ke airport yang letaknya tidak jauh dari sana. Ternyata masih ada waktu setengah jam sebelum shuttle bus nya berangkat. Setelah selesai memasukkan koper di bus, gua dan Inacio istirahat di sebuah bangku kayu di sebelah shuttle bus tersebut.

Kita berdua tidak banyak bicara, hanya menikmati keberadaan satu sama lain di ambang perpisahan ini. Di tengah kesunyian tersebut, Inacio tiba-tiba bertanya kepada gua :

"If you could wish for one thing right now, what will you wish for?" 
(Kalau kamu bisa mengajukan sebuah permintaan saat ini, apa yang kamu inginkan?) 

Gua terdiam sebentar. Sebenarnya di hati gua, gua pengen jawab : Aku gak pengen kamu pulang ke Brazil. Tapi gua tau bahwa itu gak mungkin, dan hanya bakal bikin kita berdua tambah sedih. Jadinya gua jawab :

"I'd wish that we could meet again someday"
(Aku akan meminta supaya kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti)

Inacio tersenyum, dan menjawab.
"If it's me, I'd wish that we'd never forget this moment"
(Kalau aku, aku akan meminta supaya aku tidak akan pernah melupakan momen ini)

Beberapa menit kemudian, sekonyong-konyong ada butiran putih yang jatuh di atas hidung gua. Sebutir, dua butir. Rasanya dingin. Gua pikir itu hanya tetesan air. Tapi tidak lama kemudian, butiran-butiran putih lain jatuh bagaikan hujan. SALJU! Sebagai orang Indonesia yang hidup di negara tropis, ini pertama kalinya gua liat salju. Gua menoleh ke arah Inacio, dia juga tampak terkejut melihat hujan salju yang mengguyur Beijing tiba-tiba ini.

"Keven, ini pertama kalinya aku melihat salju" kata Inacio tiba-tiba.

"Seriusan???" tanya gua kaget, seolah tidak percaya.

"Iyaaa! Di kota tempat aku tinggal, gak pernah turun salju. Ini pertama kalinya aku diguyur hujan salju!" kata Inacio, sambil mencoba menadah butiran-butiran tersebut dengan tangannya.

"Aku juga! Ini pertama kalinya aku lihat salju!" jawab gua sambil mencoba melakukan hal yang sama.

Hari itu hujan saljunya memang tidak lebat, hanya berupa butiran-butiran kecil sebesar ketombe, tapi buat gua dan Inacio, hari itu adalah pertama kalinya kita berdua melihat salju. Dan ya, momen itu, tidak akan pernah gua lupakan.

Setengah jam kemudian Inacio pergi naik shuttle bus ke bandara, dan di tengah hujan salju itu, gua berdiri di tepi jalan menyaksikan bus yang Inacio naiki perlahan-lahan menghilang dari pandangan.




Beberapa jam setelah itu, gua sedang duduk sendirian di stasiun Beijing, menunggu jam keberangkatan kereta gua. Gua laper banget dan kedinginan, tapi uang di dompet gua tinggal 100 rmb, dan itu harus cukup untuk 7 hari ke depan, jadinya gua menahan diri, hanya minum air hangat saja dari dispenser gratis di stasiun.

Tak lama kemudian, ada sms yang masuk ke HP gua, dari Inacio. Isinya :

"I'm boarding now. See you when I see you.
PS : Check the inside of your backpack, I left you a gift."

(Aku sudah naik ke pesawat. Sampai ketemu di lain kesempatan.
PS : Cek isi ransel, aku tinggalin hadiah untuk kamu.)

Gua kaget, dan langsung aja gua buka ransel gua. Di dalamnya ada sebuah notes kecil. Waktu gua buka, isinya uang 1000 RMB dan sebuah surat dari Inacio.

"Those who are happiest are those who do the most for others. This is what I learned from you, my friend. And whenever I see someone in need, I will help them, just like what you do for me.
PS : Don't need these anymore, please help me spend it."

(Orang yang paling bahagia adalah mereka yang rela memberikan yang terbaik bagi sesamanya. Ini yang aku pelajari darimu, sahabatku. Dan kalau aku menemukan orang yang kesusahan, aku akan membantu mereka, seperti apa yang telah kamu lakukan untuk aku.
PS : Aku udah gak butuh uang-uang ini, tolong bantu aku habiskan. )

Hari itu, Inacio meninggalkan sebuah hadiah yang sangat berharga bagi gua. Bukan uang, tetapi sebuah kesadaran bahwa ternyata kebaikan yang kita tanam, juga dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan.



Nanning, China, 2018

Di lorong kampus, gua berkenalan dengan Vincent, seorang bule dari Spanyol, yang baru tiga hari menjadi dosen di kampus yang sama dengan tempat gua mengajar. Sore harinya, gua dan cewe gua pergi mengantar Vincent ke Wallmart yang jaraknya 1 jam perjalanan dari kampus gua. Maklum, kampus gua ini letaknya di ujung kota Nanning, dekat perbatasan Vietnam, jauh dari hingar-bingar kehidupan di kota Nanning.

Beberapa jam kemudian, kita bertiga pun sampai di kampus, setelah menghabiskan waktu lebih dari 1 jam berdesak-desakan di dalam bus selama perjalanan pulang. Vincent pamit kepada gua dan cewe gua, lalu pulang ke apartemennya. Di perjalanan pulang menuju apartemen gua, cewe gua manyun dan ngomel ke gua.



"Kamu itu terlalu baik. Udah tau kampus kita jauh, ehh masih nganter-nganterin orang ke supermarket segala. Udah itu makan malamnya masih kamu traktir pula. Apa untungnya buat kamu? Kadang aku bingung, kamu ini entah bodoh atau baik." kata cewe gua.

"Ada untungnya kok buat aku" jawab gua.

"Apa untungnya? Habis waktu, habis uang?" tanya cewe gua lagi.

"Kamu percaya gak sama yang namanya karma?" tanya gua.

"Nggak. Karena aku udah pernah baik sama orang, ehhh ujung-ujungnya aku malah ditusuk sama dia dari belakang" jawab cewe gua lagi.

"Nah itu dia salahnya." jawab gua. "Memang katanya kebaikan akan berbuah kebaikan, dan keburukan akan berbuah keburukan. Tapi inget, kita bukan berbuat baik demi mendapatkan imbalan yang setimpal. Kita baik sama orang lain, bukan karena berharap orang itu juga akan baik kepada kita."

"Lalu?"

"Kita berbuat kebaikan semata-mata hanya karena kita ingin berbuat baik. Kalau kebaikan kita menyentuh hati orang yang kita bantu tersebut, maka orang itu akan juga akan terinspirasi untuk berbuat baik bagi orang-orang di sekitarnya. Dan orang yang mereka bantu itu, akan juga berbuat baik bagi sesamanya. Dan begitu terus selanjutnya. Setidaknya, itu yang aku harapkan.

Contoh simpelnya gini deh. Kita kan hidup jauh di perantauan, jauh dari orang tua. Tentunya kita juga berharap bahwa pada saat mereka butuh bantuan dan kita gak ada di samping mereka, akan ada orang yang mau membantu orang tua kita. Nah itulah yang sedang aku lakukan. Aku berbuat baik bukan semata-mata demi diri sendiri. Biarkan kebaikan yang kita tanam, diteruskan bagi orang lain yang juga membutuhkan. Siapa tahu, suatu hari, pada saat dibutuhkan, kebaikan itu, akan datang kembali bagi diri kita atau bagi orang-orang yang kita kasihi."

Cewe gua tersenyum dan mengangguk-angguk, tanda setuju. Gua rangkul dia dan cium pipinya. Sambil berjalan melewati taman-taman di dekat apartemen gua, tiba-tiba gua teringat akan seseorang.

"Btw, aku punya cerita untuk kamu, sayang. Tentang seorang sahabat dari Brazil bernama Inacio..."


Sekian dulu ya postingan kali ini. 

Melalui tulisan kali ini juga, saya mau berterima kasih kepada teman-teman pembaca sekalian yang sudah 8 tahun ini terus setia mengikuti blog Emotional Flutter ini. Selama 8 tahun ini, udah gak terhitung berapa banyak jumlah teman-teman pembaca yang kirim pesan ke saya baik lewat socmed maupun email hanya untuk mengatakan bahwa tulisan-tulisan saya menginspirasi mereka. Terima kasih banyak untuk semua apresiasinya, maaf kalau mungkin ada pesan yang belum dibalas. Kalian adalah sumber inspirasi saya dalam menulis. Tanpa kalian, tidak akan ada blog ini. Sekali lagi, terima kasih banyak.

Jangan lupa komentar, saran, atau kritiknya ya. Silakan share artikel ini apabila kalian merasa bahwa ada teman/saudara yang dapat terinspirasi lewat tulisan ini.

Sampai ketemu di postingan berikutnya.

You Might Also Like

34 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. wow, emang bagus kisahnya.
    Benar, gak perlu mengharap kebaikan dari orang yang telah kita bantu. Akan ada masanya kebaikan dibalas, walau mungkin bukan dari dia.

    ReplyDelete
  2. Waw keren udah 8 tahun nih ngeblognya. Blum seberapa dengan saya. Saya senang membaca tulisannya, karena sudah jarang sekali orang mau berbuat baik. Sebagai muslim saya pun selalu berusaha berbuat baik pada siapa pun. Bukan untuk membalas kebaikan dari orang yang kita berikan kebaikan. Saya selalu berusaha menjadi orang yang tulus karena kebaikan dan ketulusan yang kita lakukan pasti akan kembali lagi pada diri kita. Karena ketika kita menolong orang lain, sesungguhnya kita sedang menolong diri kita sendiri. Berbuat baiklah karena Allah, karena Allah akan membalasnya dengan bagaimanapun caranya dan jalannya. Semoga kamu selalu memegang prinsipmu itu ya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai =)

      Delete
  3. So inspiring...
    Kebaikan itu seperti sebuah lingkaran tanpa putus yang akan selalu kembali, dengan jumlah dan makna yg lebih besar..

    I like tulisan ente bro, sederhana namun bermakna..

    ReplyDelete
  4. wahh.. bisa kebayang.. kuliah di luar negeri.. bertemu dg orang asing, lingkungan asing, kebudayaan asing, dituntut mandiri,..
    haduh2.. saya jadi anak rumahan aja deh, ngejaga NKRI.. jadi klo ada penjajah datang dengan tiba2 saya bisa ikutan berpartisipasi.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke luar negeri dan menjadi duta budaya juga adalah bentuk pengabdian terhadap NKRI lho

      Delete
    2. Bener juga Laoshi. Saya nggak sengaja mampir di Youtube-nya Skinny Indonesian 24. Terus, mereka melakukan survei "Kenal Jakarta, Bali, Indonesia?" di New Orleans, Amerika Serikat. Ada lagi, dari kanal Youtube-nya Korean Reomit (orang Korea fasih bahasa Jawa), sama juga surveinya.

      Dan hasilnya, mencengangkan!

      Dan ke luar negeri dan menjadi duta budaya, itu bentuk pengabdian buat negara yang sama berpengaruhnya ngejaga negara dari dalem. Seriusan, Laoshi, kita harus memperluas wawasan dan menginjakkan kaki di berbagai negara :')

      Delete
  5. wah bikin terharu tulisannya. Teman yang baik akan berbalas kasih dengan teman lainnya. Semoga bisa bertemu dengan Unacio kembali.

    ReplyDelete
  6. Suka baca tulisan yang ini, menginspirasi. Hehe

    Jadi udah pernah ketemu Unacio lagi belum nih?

    ReplyDelete
  7. mengalami beberapa kali, menolong orang disaat kita sendiri juga pas pasan... dan ternyata langsung dibayar tunai, rejeki tiba-tiba datang dari arah yang tak terduga... terima kasih remindernya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Terima kasih sudah membaca.

      Delete
  8. Terima kasih tulisan berharganya...
    Saya pun percaya karma, dimana perbuatan buruk akan mendapatkan hal sebaliknya kelak dikemudian hari. Hal ini juga berlaku untuk kebaikan. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Satu kalimat yang saya masih simpan dalam hati adalah lebih baik tangan yang memberi daripada tangan yang menerima. ^^

    Jika ada waktu, berkenan lah untuk mampir di blog sya ya :D
    http://nheyta.blogspot.co.id/2018/03/cukup-sekali-saya-menderita-dua-kali.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pepatah yang mengagumkan. Siap, nanti kalau ada waktu, saya mampir ke blogmu ya.

      Delete
  9. Ndalem banget, Kevin. Ternyata kamu orang baik. Saya senang bisa mengenalmu sebagai sesama kawan Blogger Energy.
    Kebaikan yang kita lakukan karena pada dasarnya hati nurani kita tergerak dengan ikhlas maka akan berbuah hal tak terduga berupa balasan kebaikan dari orang lain yang tak disangka. Karena ada yang mengatur demikian. I believe
    Meski kita kadang atau kerap diperlakukan buruk, tetaplah yakin untuk berbuat baik. Dan kamu telah mengaplikasikannya, Kevin. I salute.
    Inacio dan kawan lain yang kau baiki mungkin akan lakukan hal serupa pada insan lain, siapa tahu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya. Sampai sekarang, aku belum pernah ketemu dia lagi. Tapi aku yakin, di sana dia juga pasti akan berbuat baik untuk orang lain. Karena memang dia juga orangnya pada dasarnya baik dan peduli sama orang, hehehe.

      Delete
  10. Gila, uang beasiswa pas-pasan tapi nekat nemenin temen dan beli tiket PP itu. Terenyuh pas kalimat: "I'm coming with you, dummy." :')

    Bisa lihat salju pertama kali. :) Terus Inacio juga akhirnya memberi hadiah. Bukan soal uangnya, soal seperti yang kamu bilang itu. Kebaikan itu menular.

    Keren tulisannya, Ken, menginspirasi sekali tentang karma itu. Ya, baiklah berbuat baik terus saja. Pasti akan ada balasannya entah dari siapa. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu...spotanitas, bener-bener gak mikir panjang waktu itu, hahaha...

      Delete
  11. Keren banget ya persahabatannya.
    Semoga aja terus terjalin ya mas :)
    Kalo saya liat salju, mungkin langsung guling2 kali ya. Hahahah.
    Eh tapi itu nekat banget cuma sisa 400rb doang di banknya.
    Di negeri orang masalahnya, hahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang, itu dia masalahnya. Kalo darurat banget, masih bisa pinjem ke temen-temen Indonesia yang di sana sih...

      Delete
  12. Masih ada hadiah lain berupa momen kebersamaan dan siraman salju yang lembut. :)
    Semoga kevin tetap punya banyak teman di mana-mana. Teman membuat kita bisa belajar memaknai hidup lebih baik dengan sudut pandang berbeda.

    ReplyDelete
  13. Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. keren. Berasa malaikat ya teman Brazil dengan 1000 RMB-nya. Enaknya kuliah di luar itu bisa dapet banyak teman 'bule' juga, jadi interaksi secara budayanya juga kaya. Kalau gue sih, cuma punya satu temen luar yang exchange, dari kamboja, itupun mungkin ga seloyal inacio :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo udah di luar negeri memang jadi lebih mudah untuk akrab. Sama-sama merasa terdampar di negeri orang, jadinya harus saling membantu untuk bisa survive. Survivor pack mentality, katanya sih.

      Delete
  14. 啊啊,真是让我激动, terharu banget :') Sempat nggak kebayang kalo kuliah di Cina, bahkan yang bisa bahasa Mandarin pun, akan seberjuang itu. Memang benar ungkapan terkenal yang sering ada di buku pelajaran gini: 在家靠父母,在外靠朋友. Kerasa banget, bener-bener terharu Laoshi :')

    ReplyDelete
  15. Lah sial.
    Aku kok jadi berkaca-kaca gini bacanya.
    Paling mengharukan pas perpisahan sama om Inacio itu loh huhu jadi kebawa perasaan.
    Hatimu mulia sekali om sampe nganterian dia bolak balik ke Beijing :(
    Semoga koh kev dapet balasan yang lebih dari itu ya :)

    ReplyDelete
  16. I CAN'T!!

    Apa banget judul blog ini, emotional flutter. Saya tidak bisa, saya kehilangan kata-kata.

    Jadi ingin curhat. Tapi nanti jadi alay.

    Beberapa waktu yang panjang kemarin saya hidup dengan pola pikir seperti cewek anda itu; apa untungnya?

    Tapi ya seperti yang anda bilang juga, berbuat kebaikan bukan mengharap balasan dari si dia yang kita baikin. Bukan. Tapi lingkaran kebaikan itu suatu saat pasti datang ujungnya kepada kita, memberikan kebaikan yang lain. Ntah dalam bentuk apa, dan kapan.

    Yang bisa dilakukan? Tetap berbuat baik.

    I thank you so much with this writing.

    ReplyDelete
  17. wah senang bertemu dg teman baru ya

    ReplyDelete
  18. itu foto si Ignacio beneran apa enggak ya? aku senyum-senyum pas baca awalnya. Pas baca turun salju itu kok jadi sedih-sedih gimana gitu ya :(

    bener banget, kalo kita berbuat kebaikan harapannya bukan orang itu berbuat baik juga pada kita tapi setidaknya orang itu bisa ambil hikmah dari perlakukan kita dan suatu saat ketika kita kesusahan juga bisa ditolong oleh orang lain:)

    ReplyDelete
  19. Nggak kebayang senengnya ya, Mas waktu dipeluk, kok aku jadi ngebayangin seperti di foto kartun itu ya..hehe

    Waktu baca buka koper dapet uang kok aku ikut kaget sekaligus senang ya. Seolah seperti aku yang dapet itu..."D

    Terharu juga, menginspirasi memang. Semoga aku dan para pembaca lainnya juga gitu, bisa terus berbuat baik kepada siapapun.

    Thank fot sharing, Mas..

    ReplyDelete
  20. Koh, sampe sekarang masih kontak2an nggak sama nata de coco itu? kita emang nggak bisa nilai seseorang dari luarnya aja sih ya sebelum tau dalemannya gimana, menginspirasi bngt koh ceritanya, aku mewek

    ReplyDelete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe