The Most Important Thing

15:07:00


Gak kerasa tahun 2019 sudah mau berakhir, dan gak kerasa, gua udah hampir 1.5 tahun gak nulis di blog ini. Banyak yang terjadi sejak terakhir kali gua nulis di sini, tapi kita simpan ceritanya untuk lain waktu ya. Di postingan kali ini, gua mau nulis tentang sesuatu yang lebih penting. Atau tepatnya, sesuatu yang paling penting.

Tahun 2019 adalah tahun yang cukup buruk bagi gua.
1. Laptop kesayangan yang udah nemenin gua sejak tahun 2010 akhirnya tutup usia.
Begitu juga dengan HD external yang 8 tahun terakhir ini gua pake untuk nyimpen koleksi film-film gua.
2. Demi mencari biaya nikah, Sabtu-Minggu gua kerja part-time di universitas lain. Setahun terakhir ini, gua nyaris gak punya weekend (dan karena itulah, gua ga pernah nulis blog lagi). Eh tapi ternyata universitas tempat gua kerja part-time itu nunggak bayar. Sampai hari ini, gaji gua tahun lalu masih gak jelas kapan cairnya.
3. Dan gua juga kena tipu sama universitas tempat gua kerja selama 3 tahun terakhir ini, bonus tahunan gua gak dibayar. Padahal 3 tahun  terakhir ini gua bener-bener all-out kerja untuk mereka. Bahkan setahun terakhir di sana, gua sampe sering begadang, jam tidur gak teratur, dan gak ada waktu olahraga.
4. Akibat kurang tidur, kurang olahraga, makan kurang sehat, tahun ini gua resmi kena hipertensi.
5. Akibat faktor-faktor di luar rencana itu, akhirnya gua gagal memenuhi target nabung untuk biaya nikah, dan kayaknya nikahnya harus diundur, sampai waktu yang belum ditentukan.
Dan gua sempet ribut besar sama tunangan gua, sampai nyaris putus, gara-gara urusan nikah ini.

Dan masih banyak lagi kesialan-kesialan yang menimpa gua tahun ini. Wah kalau di list sih kayaknya bakal panjang banget.

Tapi di balik semua hal buruk yang menimpa gua di tahun 2019, tidak sedikit pula hal baik yang bisa gua syukuri dari tahun 2019 ini.
1. Gua berhasil pindah kerja ke universitas baru, yang jam kerjanya lebih masuk akal, yang gajinya sedikit lebih memuaskan, yang kasih gua lingkungan tempat tinggal yang lebih layak daripada universitas sebelumnya.
2. Tahun ini gua bertemu dengan banyak orang-orang yang hebat dan menyenangkan. Murid-murid dan rekan kerja di universitas lama, murid-murid dan rekan kerja di universitas baru, mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan pekerja-pekerja asing yang juga tinggal di Nanning, dan masih banyak lagi. Terima kasih Tuhan untuk kehadiran mereka. Karena ada mereka di hidup gua, hari-hari gua di Nanning selalu penuh warna.
3. Agustus lalu gua juga akhirnya bisa pergi Karimun Jawa. Udah bertahun-tahun pengen pergi ke situ, akhirnya di tahun 2019 ini, impian itu bisa terwujud.
4. Last but not least, gua masih punya keluarga dan sahabat di Indonesia, yang selalu jadi sumber kekuatan gua menghadapi segala rintangan yang gua hadapi di tanah perantauan.

Gua bersyukur, untuk semua kebaikan dan keburukan yang terjadi di tahun 2019 ini. Semoga semua pelajaran ini membuat gua tambah tangguh dan bijaksana.



Anyway, di penghujung tahun 2019 ini, gua banyak introspeksi diri. Tentang hidup gua satu tahun terakhir, tentang masa lalu dan masa depan gua. Dan tiba-tiba gua menyadari sebuah hal penting : Beberapa tahun terakhir ini, gua terlalu menjadikan uang sebagai fokus utama di dalam hidup gua.

Tadinya gua memang punya target untuk nikah di tahun 2021, dan tentunya kalian semua tahu, bahwa yang namanya nikah itu butuh dana yang gak sedikit. Apalagi kalau nikahnya sama orang dari negara lain, kayak gua. Dan yang harus gua pikirin, bukan cuma resepsi pernikahannya. Setelah menikah, lalu? Mau tinggal di mana? Mau ngerjain apa? Terus rumah? Mobil? Anak?
Argh, pokoknya banyak lah yang harus direncanakan. Dan semua rencana itu butuh uang.
Dan tentunya kalian tahu, di masyarakat yang budayanya ketimuran, semua beban dan tuntutan itu ada di pundak laki-laki.

Semua tekanan itu membuat gua jadi money-oriented beberapa tahun terakhir ini. Sehari-hari, hidup gua selalu direfleksikan oleh angka. Berapa penghasilan gua per bulan, berapa pengeluaran gua per bulan, berapa uang yang harus gua tabung per bulan, berapa yang harus gua hasilkan supaya bisa invest dengan nominal sekian per bulan, dan lain-lain. Dan akibatnya, beberapa tahun terakhir ini, gua selalu mengarahkan hidup gua menuju ke arah yang bisa menghasilkan lebih banyak angka untuk bisa memenuhi target gua. Di mana penghasilannya lebih tinggi, ke situlah gua pergi. Tapi apakah gua bahagia dengan pilihan itu? Apakah dengan punya uang lebih banyak, lantas gua lebih bahagia?

Nope, ternyata punya uang lebih tidak menjamin bahwa hidup kita akan bahagia. Pertama, karena seiring bertambahnya pemasukan kita, pengeluaran kita juga jadi meningkat. Ini udah hukum alam, karena manusia itu memang gak ada puasnya. Bukan berarti gua boros, nggak. Malah gua orangnya cenderung pelit terhadap diri sendiri. Meskipun gua tinggal di negara empat musim, tapi gua cuma beli baju 1-2 kali dalam setahun. T-shirt gua udah pada belel, celdam karetnya udah longgar, kaos kaki udah bolong-bolong. Baju bagus dihemat, supaya jarang dicuci dan gak cepet rusak, jadinya cuma gua pakai pada event-event penting aja...

Yah tapi gua gak sampe segembel itu sih, karena penampilan itu juga penting. Tapi ya intinya, gua bukan tipe orang yang boros dalam belanja, baik belanja baju maupun makanan.

Kedua, karena sepandai apapun kita merencanakan keuangan kita, selalu ada hal-hal yang di luar rencana yang tidak terprediksi. Misalnya, laptop rusak, klien gak bayar, dll. Dan saat rencana kita tidak terpenuhi, kita jadi panik. Kejar target, itu yang ada di otak gua beberapa tahun terakhir. Dan akibatnya, setiap hari, hidup gua tuh rasanya kayak lagi kejar-kejaran sama angka. Kadang meskipun fisik udah lelah, otak etep gak bisa berenti mikir. Dan mungkin salah satu alasan kenapa belakangan ini gua sering insomnia.

Semua ini berjalan tanpa gua sadari, selama sekitar 20 bulan terakhir. Hingga beberapa hari yang lalu, waktu lagi ngobrol sama salah seorang sahabat gua soal masa depan, sekonyong-konyong gua buka kalkulator di HP dan mulai menghitung. Dan di saat itulah, tiba-tiba gua terkejut. Eh? Sejak kapan...gua jadi begini? Sejak kapan, gua jadi terobsesi sama angka?

Dan setelah gua abaikan angka-angka itu, ternyata gua tersadar. Selama ini yang gua kejar hanyalah angka. Tapi di luar angka-angka itu, ternyata gua gak punya tujuan hidup yang jelas, karena saat ini gua gak punya mimpi.




Padahal kalau kalian baca postingan-postingan gua di blog ini, terutama di tahun 2011-2016, gua adalah seseorang yang penuh mimpi dam imajinasi. Semua yang gua tulis adalah tentang keberanian gua melakukan hal-hal yang katanya gak mungkin, hal-hal yang gak bisa diprediksi, hal-hal yang nilainya gak bisa diukur pakai nominal. Hal-hal yang membuat gua bahagia.
Bahkan gua bisa S2 dan kerja di China sampai hari ini, itu semua adalah hasil dari keberanian gua untuk bermimpi dan menerobos segala ketidakmungkinan.

Dan sekarang kebalikannya, setiap ngomongin soal masa depan, gua pasti mulai menghitung di kepala gua. Segala sesuatu harus diprediksi dengan angka. Dan entah kapan, entah di mana, gua jadi kehilangan keberanian untuk bermimpi. 

Ternyata memang bener, bertahun-tahun terakhir ini, gua terlalu fokus sama angka. Sampai akhirnya gua melupakan hal-hal yang mungkin nilainya jauh di atas angka-angka yang gua kejar itu. Karena terlalu sibuk kerja gua sampe jarang meluangkan waktu untuk traveling atau nemenin cewe gua jalan-jalan belakangan ini, pantesan akhir-akhir ini jadi sering berantem. Karena terlalu sibuk juga, gua jadi jarang chat atau telponan sama keluarga di Indonesia.  Gua kurang istirahat, kurang olahraga, makan kurang dijaga, makanya jadi hipertensi.

Jadi, gua sibuk nyari uang demi kebahagiaan gua, tapi ternyata demi mencari uang, gua malah mengorbankan kebahagiaan gua sendiri. Ironis ya?



Karena itulah, melalui postingan kali ini, gua mau mengingatkan diri gua sendiri, dan juga teman-teman pembaca sekalian. Ya, uang itu penting, dan ya, hidup itu butuh direncanakan, tapi sebenarnya ada hal-hal yang jauh lebih penting dan berharga daripada semua itu. Waktu, misalnya. Luangkan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi. Karena sebanyak apapun uang yang kita miliki, waktu itu tidak bisa dibeli. Luangkan juga waktu untuk merawat diri sendiri, supaya kita sehat secara fisik dan mental. Karena kesehatan adalah salah satu aset terpenting yang kita miliki. Untuk bisa menikmati hidup, kita harus sehat. Percuma banyak uang, kalau kita tidak bisa menikmatinya.

Tapi bukan berarti kerja cari uang itu gak penting ya. Kerja itu penting, karir itu penting, kebahagiaan dan kesehatan itu juga penting. Intinya adalah, semua itu harus seimbang. Ambil lah beban kerja yang sesuai dengan kemampuan kita. Jangan gara-gara demi dapat penghasilan lebih, lantas mengabaikan kesehatan, seperti yang gua alami di tahun 2019 ini. Demi bisa ngejar target nabung biaya nikah, gua ngambil beban kerja berlebih, akibatnya ritme hidup jadi berantakan dan gua jadi kena hipertensi. Sekarang demi ngobatin hipertensi, gua harus minum obat, setiap hari, selama 8-12 bulan. Rencananya mau nabung uang, sekarang tiap bulan malah harus keluar uang lebih untuk beli obat. Bodoh banget kan gua?

Karena itulah, melalui postingan kali ini, gua juga mau berjanji sama diri gua sendiri. Di tahun yang baru ini, gua mau mengubah prioritas hidup gua. Gua mau belajar bermimpi lagi, supaya gua punya arah dan tujuan hidup yang jelas untuk masa depan. Prioritas hidup gua bukan lagi angka, tapi nilai. Gua mau melakukan lebih banyak hal-hal yang bernilai, yang bisa memberikan manfaat dan juga kebahagiaan, bagi gua dan juga orang-orang di sekitar gua.

Di tahun 2020 yang akan datang, gua mau lebih banyak nulis, gua mau nerbitin buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk penutur asing, gua mau nurunin berat badan, gua mau lebih banyak menghabiskan quality time bersama orang-orang yang gua sayang, gua mau pergi ke tempat-tempat yang belum pernah gua datangi, dan belajar banyak hal-hal baru



Dan yang paling penting:

Gua mau bahagia.



Jadi, apa resolusi 2020 kalian, guys?

You Might Also Like

18 Orang pembaca meninggalkan jejak di sini

  1. itulah yang bikin aku sekarang jadi orang yang nyantai (calm)

    ketika aku berambisi akan sesuatu, dan nge-push habis2an, ujung2nya ada yang push back :D

    dan itu berulang kali terjadi...

    itulah rumus kehidupan sepertinya

    sesuatu yang didapatkan secara instan, akan hilang instan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesuatu yang kita dapatkan setelah mati-matian, akan lebih kita hargai ya.
      Btw salam buat Enny ya.

      Delete
  2. Waaah... Pantas saja kamu jarang nulis ya sekarang. Kadang suka bertanya-tanya sendiri sih kamu kenapa udah gak ngeblog ya? 😁

    Well anyway, akupun demikian. Sekarang jadi money-oriented. Semakin bertambah tua, semakin realistis. Mikirnya duit, duit, duit mulu. Memang sih jadinya kurang enjoy menikmati hidup, tapi ya gimana... Reality bites.

    Resolusi 2020, ehm, inginnya sih bisa menemukan seseorang dan menikah. But, dunno deh. Mungkin lebih realistis jika resolusinya aku ingin sehat dan bahagia.

    Btw, semoga niat baikmu segera terlaksana. Semoga lancar rejekinya ya. Aku turut mendoakan dari jauh. 🙏🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta itu datang di saat yang tidak kita duga. Jangan patah harapan, Kimi. He's coming to you, as soon as he can.

      Delete
  3. Hallo Keven! Ikut sedih yaaa soal cerita dukanya. :( Semoga tahun 2020 dan seterusnya bisa lebih lancar dan jauuuuuhh lebih oke lagi dari tahun ini.
    ditunggu juga cerita lainnya yang di lain waktu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Cella. Senangnya, ternyata masih ada wajah-wajah lama di sini. Tar kalau ada waktu, aku blogwalking ke blogmu deh ya.

      Delete
  4. Hi, i'm your passive reader. Saya ada kenalan di hotel 5* Bali, sedang mencari seseorang yg bs baca, tulis & bicara dlm bhs mandarin krn meningkatnya turis China utk tinggal di hotel tsb. Kalau anda berminat, saya bs berikan konteknya spy kamu bs diskusi lbh lanjut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo. Thanks for reading my blog. Berminat sih, tapi sayang, kontrak saya di China masih sisa 1.5 tahun lagi T.T
      Anyway, boleh add IG saya @emotionalflutter, siapa tahu ke depannya masih ada lowongan lagi

      Delete
  5. Hi Keven.
    I am sure this is my first comment

    I am agree, money is not everything but not everything in life is free

    ... and we need to survive

    In my opinion, work life balance is the key.

    ... and I am still working on it too :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, balance is the key. And finding that key, is not an easy task.

      Delete
  6. Hai, apa kabar. Lama banget juga ngga berkunjung ke sini.
    Semoga di tahun 2020 dimudahkan semua rencananya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo-halo. Terima kasih masih mau berkunjung ke sini. Selamat tahun baru juga, semoga 2020 jadi tahun yang penuh makna bagimu juga

      Delete
  7. Hola Keven!

    Wah wah pantas saja tidak pernah menulis lagi.

    I feel you bro, kalo soal pembayaran telat pas jaman-jaman freelance berasa banget.

    Wishing you a good luck in 2020! Cheerio!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah jadi pembaca setia, dari dulu sampai sekarang
      Selamat tahun baru! Wishing you all the best in 2020!

      Delete
  8. Hai, Ven! Balik lagi gue ke mari. Btw, mohon maaf juga kalau gue ada salah sama lu. Hehe.

    Ternyata lu masih ngeblog juga ya. Udah ber domain ya. Selamat juga atas kesuksesan lu ya. Udah tunangan juga ternyata. Good luck buat lu ke depannya yah. GBU!

    Merry christmas n happy new year!

    ReplyDelete
  9. Hi claude, akhirnya gw bisa baca postingan lu yg panjang dan isinya dalam bgt. Dulu gw jg begitu, jadi kutu loncat di dunia kerjaan. Setiap ada tawaran gaji lebih gede, gw ambil. Bahkan gaji gw bs naik sampai 2x lipat, selalu gw ambil. Mengingat dulu papa gw uda pensiun, adek gw masi kuliah 2 org dan salah 1 nya kedokteran. Banyak bgt biaya yg hrs gw keluarkan.
    Balik lagi semakin gw kerja sampai lembur, gw stress parah. Asam lambung naik, gw sering diopname, kalau lg mens juga sakitnya sampai ngga bisa bangun. Untung ada asuransi dr kantor, tapi gw tetap merasa lebih baik sehat. Belum lg masalah sama pacar yg nggak ada habisnya.

    Akhirnya gw memutuskan utk menjalankan bisnis sendiri. Gw persiapkan bisnis sudah sejak setahun sebelum resign. Kebetulan adik2 jg uda lulus kuliah. Setelah resign, krn gw mengerjakan sesuatu yg gw suka, walaupun duit lebih pas2an, gw jarang sakit. Gw punya banyak waktu utk travelling, ngeblog, berolahraga, makan makanan sehat (karena sering di rumah), dan alhasil gw jarang bgt sakit. Paling klo sakit ya flu doang, ngga signifikan. Pacar yg dulu pun akhirnya putus, dan walaupun gw pacaran sm org laen lg, tp kali ini lebih tenang, nggak seperti dulu.

    Semangat Claude. Mari bahagia di 2020 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Finally, someone who understands. Uang itu memang salah satu bagian penting dari hidup kita, tapi kita juga gak boleh menempatkan uang di atas segala-galanya (seperti yang saya lakukan beberapa tahun terakhir). Harus ada keseimbangan antara bekerja, dan hal-hal lain di dalam hidup kita. Jangan gara-gara terlalu tamak dalam mencari uang, hingga akhirnya mengorbankan sesuatu yang lebih berharga, kesehatan kita misalnya.

      Selamat tahun baru juga, semoga tahun 2020 mu dipenuhi oleh harapan dan kebahagiaan =)

      Delete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)

Subscribe